Archive for the ‘Movie Freak’ Category

h1

Fenomena ‘Fitna’ dan Kebebasan Berekspresi

April 2, 2008

geert-wilders.jpgBaru-baru ini seorang anggota parlemen Kerajaan Belanda bernama Geert Wilders merilis film pendek paling kontroversial berjudul Fitna. Film yang dapat dikategorikan sebagai film terburuk tahun 2008 (itu juga kalau masih mau disebut film) menggambarkan Islam sebagai Agama yang hanya menekankan pada unsur kekerasan dan kebencian terhadap non-muslim.

Efek dominonya pun luar biasa: protes keras dan kecaman dari negara-negara yang mayoritas penduduknya kaum muslim di seluruh dunia menuntut dihentikannya peredaran film tersebut dari internet dan meminta sang sutradara dihukum.

Meskipun tidak sedikit yang melakukannya dengan berlebihan tetapi saya pikir ini adalah sebuah respons yang wajar karena isu yang diangkat adalah isu agama yang sangat sensitif juga bagi orang Barat. Sama seperti jika seseorang mempropagandakan kebencian terhadap satu ras atau etnis tertentu.

Iseng-iseng saya menontonnya lewat media YouTube. Film ini hanya berdurasi 10 menit. Tidak ada yang istimewa dari film ini. Penggarapannya pun terlihat sangat tidak profesional. Hanya mencomot beberapa bagian ayat-ayat dari Al-Quran secara seenak udel untuk mendukung argumentasinya bahwa Islam adalah agama terorisme dan mendukung kekerasan tanpa mempelajari keseluruhan isi Al-Quran secara holistik.

Ibarat membaca buku, alih-alih membaca keseluruhan buku cover to cover, yang dilakukan Wilders hanyalah membaca beberapa paragraf dari buku tersebut dan dengan terang-terangan memahami isi keseluruhan buku tersebut berikut ceritanya secara detail. Oalaaa….orang ini luar biasa naif atau luar biasa kurang ajar?

Sudahlah Bos! Tidaklah penting bagi siapa pun untuk menanggapi film ini secara berlebihan apalagi sampai membakar bendera Kerajaan Belanda karena kalaupun mau ditanggapi maka akan sangat sangat mudah bagi siapa pun untuk meng-counter attack argumentasi yang terdapat dalam film itu.

Tetapi yang menarik dari beredarnya film Fitna ini adalah bukanlah omong kosong mengenai benturan peradaban antara Islam melawan Barat seperti yang pernah dicetuskan oleh Samuel P. Huntington tetapi lebih kepada fenomena kebebasan berekspresi absolut yang akhir-akhir ini cenderung kebablasan tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain.

Tidak hanya di Indonesia tetapi juga dalam ukuran global. Celakanya fenomena ini dipertontonkan secara tidak bertanggung jawab dan terkadang demi sebuah idealisme sempit dan keuntungan finansial para pencetusnya. Media yang paling mudah digunakan tentu saja Internet.

Apakah itu sebenar-benarnya esensi dari sebuah kebebasan?

Seorang teman (yang dulunya adalah aktivis demokrasi) pernah mengirimkan sebuah quote yang dikutip dari filsuf Jerman, Sigmund Frued, yang intinya mengatakan bahwa kebanyakan orang takut akan kebebasan karena kebebasan menuntut pertanggungjawaban yang besar. Aha! Sounds like Spiderman’s famous quote isn’t it? “Great power comes great responsibility!”.

Betul! Saya setuju akan kutipan tersebut. Tetapi saya kemudian membalasnya juga dengan memberikan quote “Well, Freedom is not a license to chaos”. Sayangnya tidak semua filsafat dan teori sesuai dengan realita. Yup! Seperti fenomena ‘Fitna’ tersebut.

Tidak hanya ‘Fitna’ yang menyalahgunakan etika kebebasan berekspresi. Contoh lainnya mungkin dapat kita lihat pada aktivitas Ustadz Abu Bakar Baasyir yang dengan tenang menanamkan benih-benih kebencian terhadap umat non-muslim kepada anak-anak didiknya melalui khotbah-khotbahnya yang provokatif. Atau aksi anarkhis FPI yang dengan percaya diri merasa memiliki “sifat ketuhanan” untuk menghakimi orang yang berseberangan dengannya.

Konstruksi sosial macam apa ini? Apakah karena Manusia merupakan makhluk yang bebas memilih sehingga dapat dengan seenaknya melanggar norma dan aturan yang merupakan konsensus kolektif? Ataukah justru ketiadaan sebuah “institusi” yang powerful yang memiliki otoritas untuk mengatur? Ataukah memang Manusia adalah makhluk yang mudah ngelunjak?

Mungkin justru karena akhir-akhir ini banyak orang yang hanya menuntut hak atas kebebasan mutlak tetapi melupakan kewajiban mereka sebagai manusia atau warga negara. Hence, munculah individu-individu yang dengan seenaknya berbicara bukan dalam konteks dan koridor yang tepat (baca: pantas). Manusia memang makhluk yang unik, Yes?

Apa pun alasannya apakah itu demi sebuah kebebasan berekspresi, demokrasi, Hak Asasi Manusia, Agama, Rakyat bahkan demi Toutatis sekalipun (last one was quoted from Asterix and Obelix’s comic) seseorang tetap tidak memiliki hak untuk menghakimi orang lain benar atau salah. Kecuali tentu saja jika konteksnya sudah berbeda seperti profesi Hakim Agung, Hakim Mahkamah Konstitusi atau Hakim Garis misalnya.

Yah namanya juga manusia. Pasti selalu diperbudak oleh subjektivitas pribadi yang berlebihan.

Advertisements
h1

CJ7

February 12, 2008

 

 

cj7.jpgRanah film internasional di awal tahun 2008 ini dimulai dengan dirilisnya film terbaru produksi Stephen Chow’s movie yang berjudul CJ7. Setelah sukses dengan dua film action komedi sebelumnya yaitu Shaolin Soccer dan Kungfu Hustle yang sekaligus menyiratkan cita-cita Chow untuk melestarikan salah satu kesenian bela diri tradisional China dengan cara memasukkannya ke dalam bingkai yang lebih modern, kini Stephen Chow bereksperimen dengan tema yang sedikit berbeda yaitu fiksi komedi. Meskipun tidak menganulir elemen-elemen slapstick hiperbolis ala Stephen Chow, keseluruhan cerita CJ7 menyuguhkan alur dan substansi yang lebih inovatif dari dua film sebelumnya.

Bercerita mengenai sebuah keluarga miskin yang harus bertahan hidup di kerasnya sebuah kota metropolitan di China. Ti (Stephen Chow) yang hanya bekerja sebagai buruh bangunan harus menghidupi anak semata wayangnya yang bernama Dicky (Xu Jiao) untuk memenuhi kebutuhan pendidikannya. Menarik untuk disimak bahwa dalam CJ7, Stephen Chow dengan sungguh-sungguh memperlihatkan jurang yang sangat besar antara si kaya dengan si miskin di negara yang konon ekonominya sedang booming di dunia. Hal ini terlihat dari kondisi Dicky di bandingkan dengan teman-teman sekelasnya yang bersekolah di salah satu sekolah bergengsi di kota tersebut.

Kejutan kemudian muncul ketika isu penampakan UFO muncul di kota tersebut. Secara tidak sengaja Chow yang selalu memungut sampah untuk dihadiahkan ke anaknya sebagai mainan menemukan sebuah benda aneh berbentuk bola hijau yang elastis. Dicky menemukan bahwa benda aneh tersebut adalah seekor alien imut yang dapat dipelihara layaknya seekor anjing. Alien tersebut kemudian dinamakan CJ7 (angka 7 di sini konon mengacu pada program pesawat luar angkasa berawak yang sedang dijalankan oleh China, Shenzou 7, yang akan diluncurkan pada bulan September 2008). Petualangan kocak dan seru pun berlanjut ketika Chow dan Dicky menemukan bahwa alien tersebut telah masuk menjadi anggota keluarganya. Film ini secara cerdik bertutur kisah dorongan untuk bertahan hidup meskipun dalam kondisi yang mengenaskan, pembelajaran nilai kekeluargaan sejati dan tentunya the things that money can’t buy.

Film yang berdurasi 100 menit ini memiliki kekuatan yang luar biasa dalam memainkan emosi para penontonnya. Ketika para penonton tertawa terbahak-bahak dalam suatu adegan, tiba-tiba penonton dapat tenggelam sedih oleh acting para karakternya. Saya tidak akan menjelaskan adegan apa yang dimaksud karena lebih baik anda menontonnya sendiri. Maksudnya biar ga dicap spoiler alert gituh…Hehehe…

Berbeda dari dua film sebelumnya, karakter Stephen Chow kali ini tidak memainkan peran utama yang selalu bersifat from zero to hero. Dari keseluruhan film mungkin doi hanya muncul 40%. Sisanya, mayoritas acting yang luar biasa dimainkan oleh pemeran Dicky yang berperan sebagai anak buruh bangunan yang merupakan korban ketimpangan struktural di sekolahnya.

Elemen komedi slapstick hiperbolis selalu menjadi ciri utama film-film Chow termasuk di film ini. Memang betul kebanyakan orang tidak menyukai komedi slapstick karena lelucon yang ditampilkan sangat tidak realistis. Bagi saya, selama slapstick itu orisinil, dapat dimengerti dan dipadu dengan spesial efek yang luar biasa maka hasilnya pun menjadi fantastis: slapstick kocak yang dapat mengocok perut anda hingga anda terjatuh dari kursi bioskop anda. Contoh konkritnya mungkin bisa kita lihat di film Kungfu Hustle di bagian melempar pisau yang salah sasaran dan digigit ular kobra di bibir. Hehehe…

Beberapa parodi film-film barat pun sedikit banyak telah memberi kekuatan tersendiri bagi film ini. Namun spesial efek yang disuguhkan memang tidak sedahsyat dibandingkan dengan Kungfu Hustle. Tetapi secara substansial hal itu tidak mengurangi kualitas cerita karena tampaknya Chow ingin membuat sesuatu yang baru di film ini yaitu dari sisi emosional cerita yang berpengaruh signifikan terhadap naik-turunnya emosi para penontonnya. Bisa dibilang alur dan substansi keseluruhan cerita film Stephen Chow kali ini sedikit lebih serius tetapi sama sekali tidak kehilangan sentuhan komedi yang menjadi ciri khasnya. Inilah letak kekuatan utama dari film CJ7.

Sudah lama saya tidak menonton film berkualitas seperti. Sungguh menghibur! Hanya satu kata yang dapat saya gambarkan dari mahakarya Stephen Chow yang pernah satu perguruan wushu dengan Jet Li ini: JENIUS!

(Kapan yah industri perfilman Indonesia dapat membuat film seperti ini? Huhuhu…)

h1

Doraemon; Season Finale

December 24, 2007

doraemon.jpg“Namaku Doraemon! Aku dikirim dari masa depan untuk membantu kamu, Nobita!”, begitulah kira-kira percakapan yang terjadi ketika Doraemon pertama kali keluar dari laci meja belajar Nobita. Yup! Doraemon dikirim dari masa depan untuk membantu sang looser Nobita menghadapi tantangan kehidupan sehari-harinya. Sudah tidak terhitung berapa kali Doraemon menyelamatkan hari-hari Nobita dari gangguan teman-temannya. Meskipun terkadang berakhir dengan konyol, namun cerita fiksi ilmiah Doraemon selalu mendapat hati bagi para penggemarnya.

Adalah mahakarya Alm. Fujiko F. Fujio yang berhasil membuat tokoh kartun masa depan (entah musang atau kucing) bernama Doraemon ini sejak kemunculan pertamanya di manga tahun 1969 dan menjadi tokoh fenomenal di dunia anime Jepang.

Di Indonesia, bagi mereka yang grew up pada tahun 1990an atau setidaknya yang ketika itu masih duduk di bangku SD, petualangan Doraemon pasti tidak asing lagi. Tentu saja selain Nobita yang dari dulu hingga sekarang masih saja duduk di kelas 4 SD, cerita Doraemon bersama kantung ajaibnya selalu membuat kita terkagum-kagum. Seni kreativitas dan hikmah moralnya adalah harta warisan paling berharga yang pernah diberikan oleh setiap seri petualangan Doraemon.

Setelah hampir 20 tahun berjaya menghibur jagat raya, rumor says Fujio company berencana untuk menamatkan seri petualangan Doraemon. Banyak faktor yang menyebabkan hal ini. Bukan tidak mungkin para penggemar Doraemon pun sudah bosan dengan petualangan yang terkesan monoton, hilangnya selera kekanak-kanakan penggemar juga seiring bertambahnya anime-anime dengan genre sejenis. Rumor ini sempat beredar di kalangan para penggemar dan mereka berusaha menebak-nebak akhir cerita Doraemon meskipun tidak sedikit juga yang kecewa dengan kebijakan Fujio company tersebut.

Saya sempat menggunakan metode internet research (cieehhh! Skripsi banget!!) dan surfing mengenai the end of Doraemon ini. Hasilnya ternyata terdapat 3 alternatif ending doraemon. Warning: Spoiler Alert! Data yang diberikan mungkin benar, mungkin tidak, mungkin juga HOAX! Kalo mau cek aja sendiri!

Alternatif ending yang pertama diceritakan bahwa selama ini Nobita adalah anak yang Autis yang menganggap Doraemon adalah teman imajinernya. Sehingga eksistensi Doraemon selama ini adalah tidak nyata. Udah. Titik. Garing kan? Tentu saja ending ini mendapat tentangan keras dari para penggemarnya. Ya iyalah! Masa cuman gitu doang? Ga ada ide lagi ato emang males mikir?

Alternatif ending kedua jauh lebih pesimistik. Kali ini diceritakan bahwa Nobita mengalami kecelakaan dan menderita koma yang sangat panjang. Untuk menyembuhkannya diperlukan biaya besar untuk operasi di kepalanya. Doraemon menjual semua alat-alat yang disimpan dalam kantung ajaibnya. Namun, operasinya ternyata gagal. Doraemon telah menjual seluruh peralatannya kecuali satu alat sebagai last resort-nya. Dia menggunakan alat itu agar Nobita bisa pergi ke tempat yang Ia dambakan kemana pun itu. Akhirnya tempat yang ingin dituju Nobita adalah surga. Perpisahan terakhir antara Doraemon dan Nobita terjadi ketika Nobita akhirnya meninggal dunia.

Setelah kecewa dengan kedua ending di atas, muncul alternatif ending ketiga yang rada manusiawi. Entah benar atau tidak, ceritanya seperti ini. Setelah kelelahan mengalami dozens of fantastic adventure bersama Nobita dan kawan-kawannya siapa-lagi-kalau-bukan-Suneo,Giant dan Shizuka, salah satu komponen dari mesin Doraemon mengalami kerusakan yaitu pada baterai memorinya. Dorami, adik Doraemon, berusaha memperbaiki komponen tersebut dengan mengganti baterainya yang baru namun harus dibayar dengan konsekuensi mahal: memori petualangan bersama Nobita selama ini akan hilang dan Doraemon pun belum tentu memiliki sifat seperti dulu lagi. Nobita yang tidak ingin “roh” Doraemon yang dulu pergi dengan tegas menolaknya dan berusaha mencari jalan lain tanpa harus mengganti baterai memori Doraemon, bagaimana pun caranya.

Seperti yang diketahui, Nobita adalah anak dengan tingkat intelegensia hampir di bawah rata-rata anak-anak seumurnya. Tidak memiliki bakat apa-apa. Olah raga pun tidak jago. A weak-pathetic-looser would be best to describe him. Namun determinasi yang kuat untuk mengembalikan Doraemon seperti sediakala membuatnya menjadi seorang pejuang keras meskipun dia tahu kelemahan dia sendiri dibandingkan dengan teman-teman sebayanya. Belajar dari kesalahannya, Nobita menjadi lebih mandiri dan mulai meningkatkan kemampuan intelektualitasnya di sekolah.

Nobita akhirnya tumbuh dewasa menjadi seorang ilmuwan terkenal di Jepang. Setelah menikah dengan Shizuka, Nobita mendirikan perusahaan yang bergerak dalam bidang Artificial Inteligence. Akhirnya setelah melalui perjalanan yang tidak mudah, Nobita tua sukses menjadi kontributor utama kemajuan teknologi di Jepang. Namun masih ada satu tugas lagi yang masih harus diselesaikan : memperbaiki komponen baterai memori Doraemon yang selama ini rusak.

Teknologi buatan perusahaan Nobita di masa depan memungkinkan baterai memori Doraemon diperbaiki tanpa harus kehilangan memori masa lampaunya. Selain itu, beberapa komponen utama Doraemon pun sudah diciptakan oleh perusahaan yang sama. Doraemon pun berhasil diperbaiki dan dia sama seperti Doraemon yang dulu. “roh”nya tidak hilang. Doraemon telah kembali.

Setelah reuni kecil-kecilan dengan tangis, tawa dan haru, Doraemon bertanya kepada Nobita “apa tugasku kali ini, Nob?”. Nobita menjawabnya “aku sudah tua, Mon! Sudah bau tanah. Aku sudah bisa mengurus diriku sendiri sekarang. Lebih baik kamu kembali ke masa lalu ketika kamu pertama kali muncul di laci meja belajarku dan bertemu aku yang dulu”. “Baiklah!”. Doraemon beranjak ke mesin waktunya, berpisah dengan Nobita tua dan kembali ke masa lalu.

Nobita tua merasa senang bisa menghidupkan kembali Doraemon dari mati surinya. Beruntung dia telah menciptakan teknologi canggih. Namun dia merasa ada sesuatu yang membuatnya terpaku. Dia baru sadar bahwa ternyata selama ini, dialah pencipta robot musang bernama Doraemon tersebut karena semua teknologi yang digunakan Doraemon adalah berasal dari perusahaannya. Nobita pun tersenyum kecil dan dia mensyukuri hasil jerih payah selama ini yang akan dinikmati oleh anak-anak seluruh negeri. Termasuk Nobita di masa lalu. Perjalanan Doraemon pun kembali ke masa lalu dan menjadi never ending story begitu seterusnya.

Nah di bawah ini adalah versi komik orisinil Doraemon the ending yang saya temukan di internet. Cerita yang penuh haru dan optimistik. Beruntung akhirnya saya dapat membaca episode terakhir cerita Doraemon meskipun tidak seakurat jalan cerita yang saya urai sebelumnya, namun the end makes everything cristal clear: Perjuangan Nobita yang tak kenal lelah menuju kebangkitan Doraemon, sebuah inspirasi moral dan impian masa kanak-kanak. Hiks! Y_Y

doraemon-ending-3.jpg

doraemon-ending-4.jpg

doraemon-ending-5.jpg

doraemon-ending-6.jpg
doraemon-ending-7.jpg

doraemon-ending-8.jpg

doraemon-ending-9.jpg

doraemon-ending-10.jpg

doraemon-ending-11.jpg

 

doraemon-ending-12.jpg

doraemon-ending-1.jpg

 

doraemon-ending-2.jpg

doraemon-ending-13.jpg

doraemon-ending-14.jpg
doraemon-ending-15.jpg

doraemon-ending-16.jpg

h1

Quickie Express

November 26, 2007

quickee-express.jpgSetelah sukses dengan film-film sebelumnya seperti Berbagi Suami, Janji Joni dan Arisan!, Kalyana Shira film telah merilis film terbarunya berjudul Quickee Express bulan November 2007 ini. Disutradai oleh Dimas Djayadiningrat, Quickee Express merupakan film Indonesia kontemporer tervulgar sekaligus paling berani yang pernah saya tonton. Catatan ringan: arti Vulgar di sini bukan berarti harus film-film bokep jadul jamannya Sally Marcelinna, Eva Arnaz atau bintang film dengan bulu-ketiak-ngadadahan lainnya.

Mengetengahkan kisah hidup seorang pengangguran bernama Jojo (Tora Sudiro) yang direkrut menjadi seorang Gigolo profesional. Di bawah naungan gerai Pizza “Quickee Express”, Jojo bersama “newcomers” lainnya yaitu Marley (Aming) dan Piktor (Lukman Sardi) memulai hidup barunya sebagai gigolo profesional yang dilatih untuk memuaskan nafsu birahi para tante-tante gatelan di Jakarta. Setelah beberapa lama bekerja, ketiganya ternyata memiliki bakat yang luar biasa sebagai gigolo sehingga manajer mereka menempatkan mereka di posisi tertinggi di perusahaan ini. Prestasi kerja mereka pun diakui oleh klien-klien mereka. Namun, masalah timbul ketika Jojo (sebagai lelaki normal) jatuh cinta kepada seorang mahasiswi kedokteran yang ternyata memiliki hubungan darah dengan salah satu tante langganannya dan seorang mafia kelas kakap.

Menurut saya, kekuatan film ini adalah selain dari sisi sinematografinya yang luar biasa, akting para pemainnya pun terlihat sangat natural. Tidak ada kesan script dan dialog yang seolah dibuat-buat atau artificial script seperti kebanyakan film-film produksi para pedagang textil (yeah u know who!). Bahasa yang digunakan sangat natural sesuai dengan bahasa sehari-hari. Jalan cerita yang kocak ditambah dengan lelucon-lelucon “ga penting” justru membuat kekuatan khusus pada film ini. Ide ceritanya pun ringan dan tidak terlalu membuat otak bekerja extra keras untuk mencerna film ini.

Kelemahan dalam film ini adalah jalan cerita yang mudah ditebak dan tampaknya kelemahan ini merupakan hal yang umum dalam film-film Indonesia kontemporer. Kenapa sih? Kemudian ending yang terkesan terburu-buru entah karena masalah budget atau memang dikejar deadline sehingga finishing touch yang disuguhkan pun kurang ‘nendang’ bahkan terkesan menggantung.

Banyak kritikus yang menilai film ini sebagai film vulgar yang menyuguhkan berbagai macam adegan sex,violence and also…sex.ya! Tidak sedikit yang membencinya. Bahkan saya pernah mendengar dari sebuah blog bahwa beberapa penonton melakukan aksi ‘walk out’ dari bioskop ketika film ini masih diputar sambil mendumel “Film apaan sih ini?”. Namun bagi saya pribadi, saya tidak melihat dari sisi tema sexism itu diangkat (secara masih banyak film-film yang jauh lebih parah.ga munafik!) tapi melihat bagaimana seorang Jojo yang berusaha untuk bertahan hidup dalam kompleksitas kehidupan metropolitan akhirnya menempuh jalan pintas bekerja sebagai seorang gigolo; Survival. Kenyataan ini menyiratkan ternyata profesi penjaja seks komersial itu tidak selalu dimonopoli oleh kaum perempuan seperti premis umum yang selama ini berlaku. Entah kehidupan tersebut nyata atau tidak, tetapi hal itu membuat kita untuk membuka mata lebih lebar lagi. Sesuatu yang tabu tidak selamanya buruk, semuanya bergantung dari sisi mana kita melihat dan belajar.

Bagi saya, film ini merupakan sebuah satire, juga sebuah pencerahan bagi para sineas-sineas lainnya khususnya para pedagang textil seperti Shanker, Punjabi, Koya dan Dheeraj. Saya berikan four thumbs up (dari empat jempol yang ada di badan saya) bagi film ini.

Bravo!

h1

Sicko

November 19, 2007

sicko_poster.jpgSatu lagi karya Michael Moore yang kontroversial baru saja dirilis di tahun 2007 ini. Setelah mengeluarkan film-film sebelumnya yang berjudul Bowling for Columbine (2002) dan Farhenheit 911 (2005), Moore lagi-lagi mengeluarkan film barunya yang berjudul Sicko (2007). Film semi-dokumenter ini sebenarnya sudah ada sejak pertengahan tahun 2007 namun untuk Indonesia sendiri, film ini baru masuk sekitar bulan Oktober.

Dalam Sicko ini, Moore mengkritisi isu pelayanan American Health Care System yang hanya memfokuskan usaha mereka pada profit asuransi kesehatan dan industri farmasi. Isu klasik yang sebenarnya sudah muncul sejak perang dingin dan berlanjut hingga sekarang. Bermula dari keluhan mayoritas masyarakat AS mengenai akses pelayanan kesehatan yang tidak memadai di AS. Mulai dari mahalnya biaya pengobatan yang jauh melebihi pendapatan masyarakat AS hingga korupnya sistem pelayanan perusahaan asuransi kesehatan yang sama sekali tidak bekerja sebagaimana fungsinya. Moore juga menggunakan metode perbandingan antara sistem pelayanan kesehatan dan asuransi di AS dengan negara-negara seperti Kanada, Inggris, Perancis dan bahkan Kuba yang jauh lebih baik.

Saya tidak akan bercerita panjang lebar mengenai film ini karena akan lebih bijak jika anda menontonnya dan menilainya sendiri. Saya tidak ingin blog saya dicap sebagai spoiler alert. Hehehe…

Ketertarikan saya pada film ini adalah seperti film-film sebelumnya, Moore berusaha untuk jujur dan objektif dalam menyampaikan pesannya. Presentasi yang diberikan di film ini kurang lebih sama dengan film-film semi-dokumenter kebanyakan, kritik konstruktif bagi para pembuat kebijakan di AS. Saya tidak tahu apakah ada skenario dalam pembuatan filmnya tetapi itu tidak penting karena secara substansial, Moore sudah mengemasnya secara jelas meskipun sedikit sarkastik. Meskipun tidak sedikit juga orang membencinya karena kritisismenya.

Namun bagi masyarakat non-AS seperti saya, karya-karya sejenis Moore merupakan karya yang selalu saya kagumi dan-meskipun bukan tanpa cacat-sedikitnya telah memberikan pencerahan yang berarti bagi saya pribadi. Sebut saja karya Morgan Spurlock dengan Supersize Me-nya yang mengkritik perusahaan-perusahaan makanan cepat saji di AS atau karya Al Gore dengan the Inconvinience Truth-nya yang memperingatkan kita mengenai dampak pemanasan global. Karya-karya seperti inilah yang seharusnya bisa kita contoh bagi industri perfilman Indonesia. Tidak lagi-lagi tentang Cinta. Tidak lagi-lagi tentang Mistis atau Horor or whatever you wanna call it! Mungkin tidak sekarang tetapi semoga tidak lama lagi Indonesia dapat membuat karya sejenis mereka (tanpa harus menjiplak habis-habisan tentunya!).

Four thumbs up (Dua jempol tangan dan dua jempol kaki) saya berikan bagi film Sicko. It’s entertaining, hillarious, educating and illuminating…ing…ing…ing….!

h1

Kuro-Hana; Death Note

September 6, 2007

death-note-picture.jpgSalah satu hobi yang sudah jarang saya tekuni adalah menonton kartun asal Jepang atau lebih dikenal dengan Anime. Saya masih ingat ketika booming anime sekitar tahun 1990an, hampir semua televisi menayangkan anime-anime yang bergenre fantasi polos. Mulai dari pelopor-pelopor anime di TV lokal yaitu Doraemon, Sailor Moon atau Dragon Ball selalu saya ikuti setiap serinya. Sekarang, variasi anime sudah sangat banyak mulai dari Rurouni Kensheen, One Piece atau Naruto. Namun sayang, mindset para produser TV lokal masih menganggap bahwa film kartun apa pun bentuknya adalah produk yang dikhususkan bagi anak-anak kecil sehingga harus dikontrol penyiarannya.

Sebenarnya pola pikir seperti ini tidak salah sama sekali. Memang betul banyak anime yang mengvisualisasikan adegan sadis bahkan pornografi (walaupun mereka mengemasnya dengan sisi artistik yang memukau). Tetapi terlepas dari kenyataan itu, tidak sedikit juga anime yang memiliki alur dan substansi cerita yang “out of ordinary”. Imanjinasi-imajinasi yang simple dapat dibuat luar biasa jika dikemas oleh orang (dan otak) yang benar. Salah satunya adalah anime yang berjudul Death Note yang diciptakan oleh Tsugumi Ohba sekitar tahun 2003 di Jepang. Saya pertama kali mengikuti anime ini ketika berada di Australia atas rekomendasi dari seorang teman (Thank’s to Weka).

Ceritanya diawali dengan seorang anak SMU berprestasi di Jepang bernama Yagami Light yang sudah muak melihat busuknya dunia ini akibat manusia-manusia dengan aksi-aksi kejahatannya. Di dalam kebosanannya, dia mendapati sebuah “kekuatan” yang diperolehnya dari Shinigami (dewa kematian) bernama Ryuk yang memungkinkan dia membunuh orang-orang yang dia anggap jahat. Uniknya, senjata yang dia pakai untuk membunuh bukanlah semacam high-tech Weapon of Mass Destruction, melainkan hanya sebuah notebook bernama Death Note. Buku tulis ini sebelumnya dimiliki oleh Ryuk yang sengaja dia jatuhkan dari alam kematian.

Buku ini memiliki beberapa ground rules seperti: orang yang namanya dicatat di buku ini akan mati dalam waktu 40 detik. Syarat utamanya adalah si pemegang buku harus hafal nama lengkap dan wajah si korban yang akan dia bunuh. Jadi orang yang kebetulan memiliki nama yang sama tidak akan mati. Begitu pula jika si pembunuh salah mengeja nama korban. Si pemilik buku pun bisa mengontrol waktu dan cara kematian bila dia menuliskan detailnya. Efeknya akan muncul setelah 6 menit 40 detik. Bila tidak, kematian hanya akan terjadi melalui gagal jantung biasa. Halaman-halaman dalam buku ini tidak akan habis dan orang yang menggunakan buku ini tidak akan masuk surga maupun neraka. Di luar itu, ada pula sebuah kesepakatan yang hanya bisa terjadi antara si pemilik buku dengan Shinigami-nya. Artinya, orang yang melakukan kesepakatan ini dapat memiliki kekuatan “Shinigami eyes” yang memungkinkan dia dapat melihat life-span dan nama seseorang hanya dengan melihat wajahnya saja. Sebagai konsekuensi bagi orang yang melaksanakan kesepekatan ini, umurnya akan dikurangi setengah dari seluruh hidupnya.

Yagami Light mencoba untuk memverifikasi kekuatan dari Death Note ini-tanpa kesepakatan Shinigami eyes-dan akhirnya terbukti setelah dia membunuh dua penjahat hanya dengan menuliskan nama dan menghafalkan wajahnya. Meskipun sempat mengalami moral dillema, Light akhirnya mengakui kekuatan Death Note dan bertemu Ryuk untuk pertama kalinya. Dia menggunakan catatan ini untuk menghukum para penjahat di luar sana dan memberikan keadilan mutlak. Tujuannya untuk menciptakan sebuah dunia yang ideal, sebuah tata dunia baru yang bersih dari kriminalitas dan menjadikan dia sebagai tuhannya. Caranya dengan meng-hack database profil-profil kriminal dan mafia dari kepolisian melalui internet. Karena dia tidak memiliki Shinigami eyes jadi yang dia perlukan hanya foto wajah dan nama lengkap seseorang yang akan dia bunuh. Pembunuhan massal pun terjadi di seluruh dunia dengan target para pelaku kejahatan-apa pun bentuk dan skalanya. Publik hanya mengenal pelaku pembunuhan dengan nickname “Kira” (Yang berarti pembunuh atau Killer dalam ucapan Jepang). Sementara identitas aslinya tidak ada yang tahu.

Pembunuhan misterius berskala besar ini mendapat perhatian serius dari Interpol. Mereka sepakat untuk meminta bantuan detektif misterius berkode “L” yang terkenal dapat memecahkan pembunuhan misterius serumit apa pun. L kemudian mempelajari kasus ini dan menduga Kira berlokasi di Jepang dan dapat membunuh tanpa perlu menyentuh korbannya. Kenyataan seperti itu membuat Light sadar bahwa L adalah musuh terkuatnya. Celakanya, karena Light tidak memiliki kemampuan Shinigami eyes, Light harus memperoleh nama lengkap “L” yang tidak diketahui oleh siapa pun. Permainan (baca: perang) psikologis cat and mouse pun dimulai.

Untuk menonton anime ini membutuhkan konsentrasi yang cukup untuk mengerti alur serta plot-plotnya secara detail. Selain efek suara dan gambar yang menakjubkan, Death Note memberikan cerita yang miskin aksi tapi kaya akan perbincangan antar karakternya. Intrik-intrik psikologis ditambah sedikit intervensi supranatural menuntut penonton untuk menebak-nebak akhir cerita ini. Anime ini sangat cocok bagi mereka yang menyukai cerita detektif dan teka-teki yang menuntut otak bekerja ekstra keras.

Anime Death Note terdiri dari 37 episode. Jumlah episode yang pas untuk dinikmati secara komprehensif. Tidak terlalu pendek tapi juga tidak terlalu panjang sehingga membuat penonton kebosanan. Anime ini pun sudah mulai ditayangkan di Eropa, Amerika Utara bahkan Kanada. Semoga Indonesia tidak lama lagi juga akan menayangkannya. Tanpa dubbing tentunya. Hehehe…

Nah, jika anda memiliki Death Note, nama-nama siapa saja yang kira-kira akan anda catat? Pejabat dan aparat korup? Kroni-kroni Soeharto? Pembobol BLBI? Teroris? Mafia? Penjahat-penjahat kelas menengah ke bawah? Artis ga penting? Atau bahkan Aktivis ekstrim? Rasa-rasanya it’s too good to be true yah?

h1

Oh my God! They’ve killed Kenny!

August 14, 2007

south-park-movie.jpgBelakangan ini saya sedang keranjingan menonton serial South Park. Entah sudah berapa episode sudah saya tonton sejak mengenalnya pertama kali lewat South Park the movie (Bigger, Longer and Uncut) yang dirilis tahun 1999. Awalnya saya tidak terlalu suka dengan serial ini jika melihat dari gambarnya yang crappy dengan teknologi animasi yang terkesan seadanya. Ceritanya pun agak berbelit-belit dengan alur yang sangat cepat. Namun saya mulai menyukainya sejak mengerti substansial ceritanya yang ternyata merupakan kritik sosial yang tajam (walaupun sedikit vulgar dan kasar). Hasilnya, kita harus mengerti pesan moral yang disampaikan di akhir cerita untuk dapat menutupi kekurangan teknik animasinya. Itulah tujuan utama yang ingin ditekankan oleh Trey Parker dan Matt Stone, sang arsitek serial South Park ini (Konon mereka berdua ini adalah orang nyentrik yang memiliki IQ 180), pada setiap individu yang menontonnya.

Serial ini bercerita mengenai kondisi sebuah kota kecil bernama South Park di Colorado, Amerika Serikat (AS). Berbeda dengan sinetron Indonesia yang selalu mengetengahkan gaya hidup yang glamour dan penuh mimpi, serial South Park menggambarkan kisah masyarakat AS yang termarjinalkan (baca: kelas menengah ke bawah). Walaupun dimanifestasikan dalam bentuk kartun (atau semi-kartun?), tokoh-tokoh dalam serial tersebut memiliki sifat dan karakter yang berbeda satu sama lain. Uniknya, tokoh utama dalam serial ini tidak dimonopoli oleh satu karakter saja (seperti kebanyakan film AS lainnya).

Ceritanya mengenai 4 anak kecil yang tinggal di South Park dengan latar belakang keluarga yang berbeda-beda. Stan Marsh, seorang anak tunggal yang memiliki ayah yang bekerja sebagai geologist dan ibu yang hanya bekerja sebagai ibu rumah tangga. Stan satu-satunya anak yang berkarakter dewasa dan bijak dibandingkan dengan teman-teman sebayanya. Kyle Brofolski, anak seorang imigran Yahudi yang taat namun sering mendapatkan streotip negatif mengenai agamanya yang juga merepresentasikan keadaan yang hampir sama di AS. Eric Cartman, satu-satunya tokoh menyebalkan yang paling saya benci dalam serial ini. Eric adalah anak yang berwatak keras, manja dan berpikiran dangkal. Dia menganggap bahwa dirinya adalah yang berpikiran paling dewasa diantara teman-temannya. Kenyataannya, dia adalah anak yang sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan negatif di sekitarnya. Terakhir, Kenny McCormick, yang merupakan tokoh kesayangan saya dalam serial ini. Kenny adalah anak paling miskin di kota ini. Lahir dan besar dari pasangan orang tua yang hanya bekerja serabutan. Karakter Kenny adalah yang paling unik di antara semuanya. Selain dia selalu memakai penutup kepala hingga mukanya tidak terlihat seluruhnya, dia selalu tewas di hampir setiap episodenya. Parahnya, di setiap episode Kenny selalu tewas secara mengenaskan dengan bersimbah darah dan anehnya selalu muncul lagi di episode berikutnya. Tewasnya Kenny selalu diikuti oleh ritual sumpah serapah teman-temannya: “Oh my God! They’ve killed Kenny!”, “You Bastard!”. Kecuali di beberapa seri terakhir, karakter Kenny yang sudah mati “permanen” telah digantikan oleh Timmy, seorang anak yang memiliki keterbelakangan mental dan kesulitan komunikasi karena dia hanya bisa mengatakan namanya saja.

Yang membuat saya tertarik akan serial ini adalah kritik sosial yang tajam yang ditunjukkan di setiap episodenya. Mulai dari tewasnya Kenny McCormick di setiap episodenya hingga kritik yang berbau politik global. Alasan di balik ritual tewasnya Kenny diceritakan bahwa dia adalah anak yang paling miskin di kota South Park. Dalam kritiknya, ternyata hal itu merepresentasikan realitas sosial bahwa memang orang miskin di mana pun mereka berada selalu mati lebih dahulu dengan cara yang mengenaskan. Ironisnya, Kenny tidak hanya berada di South Park. Masih banyak Kenny-kenny lainnya di dunia ini yang tidak mendapatkan perhatian secara serius dari masyarakat. Dalam pesannya tersirat bahwa kemiskinan dapat dibilang sebagai salah satu solusi mengendalikan populasi yang sudah tidak bisa terkontrol (Overwhelming Population). Namun apakah anak-anak seperti Kenny tidak bisa hidup layak seperti halnya teman-teman sebayanya?

Memang tidak seharusnya anak-tipe-Kenny ini hidup di bawah garis kemiskinan apalagi dia tinggal di AS sebagai satu-satunya negara terkaya di dunia. Memang sintesis kapitalisme di AS menekankan perekonomian berbasis kompetisi agar orang dapat berkreasi dan berinovasi untuk kemajuan mereka. Namun konsep tersebut akan berakibat kontraproduktif bila kompetisi itu didasarkan oleh sifat ketamakan manusia. Memang benar kata Muhammad Yunus bahwa kemiskinan diciptakan oleh struktur, kebijakan dan sistem di masyarakat itu sendiri. Sistem itu pulalah yang selalu membunuh Kenny di setiap episodenya.

Meskipun dapat dianggap sebagai serial yang kontroversial, serial South Park ini selalu meramu humor sarkastik dan memparodikan isu-isu mutakhir seperti ketimpangan struktural antara si kaya dan si miskin. Seolah-olah kartun ini merupakan cermin sistem masyarakat kelas di AS. Bisa dikatakan bahwa kartu ini merupakan ejekan kepada kaum redneck yang merupakan stereotip orang Amerika yang bodoh. Lucunya, orang-orang bodoh yang digambarkan di serial ini adalah selalu orang-orang dewasa. Sementara itu, justru anak-anak seperti Stan, Kyle dan Kenny (kecuali Eric) adalah tokoh-tokoh yang mampu berpikiran rasional dan naif. Ternyata masalah-masalah yang selalu dilebih-lebihkan oleh kebanyakan masyarakat AS dapat diselesaikan secara efisien sesuai dengan mindset anak-anak seumuran mereka. Hasilnya bahkan dapat menginspirasi orang-orang dewasa di South Park untuk menyelesaikan masalahnya secara sederhana tetapi memiliki outcome yang maksimal. Memang terkadang setelah menonton serial ini, kita harus mengecek diri sendiri dan meyakinkan diri apakah kita bisa berpikiran senaif dan seefisien mereka.

Seandainya serial South Park disituasikan dengan kondisi di Indonesia mungkin tokoh Kenny McCormick tidak hanya dibuat satu tokoh saja kali yah? Hehehe…