Archive for the ‘Culinary Sites’ Category

h1

Parit 9 Seafood

April 3, 2008

02042008436.jpgSudah banyak restoran seafood berseliweran di Kota Bandung namun bagi saya Parit 9 Seafood yang terletak di jl. Anggrek (Antara Jl. Riau dengan Jl. Supratman) adalah restoran seafood yang paling cocok di lidah saya. Saya katakan cocok bukannya lezat karena istilah lezat adalah istilah yang subjektif dan menjadi sangat bias. Mau tidak mau, yang namanya cita rasa adalah masalah selera yang berarti relatif.

Restoran ini dapat dibilang salah satu restoran seafood yang paling terkenal di Bandung. Menu spesial mereka adalah Kepiting termos. Ya sesuai namanya kepiting yang sudah dimasak kemudian dimasukkan ke dalam termos untuk menahan panas dan rasanya agar tidak hilang.

Biasanya menu ini dipesan bagi orang-orang di luar kota yang ingin take-away masakan kepiting. Bahkan mereka menyediakan fasilitas delivery service ke Jabodetabek. Bumbu pilihannya pun bervariasi: Saus Singapore, Saus Padang dan Saus Tiram. Namun tampaknya yang paling banyak dipesan adalah Kepiting Saus Singapore dan Saus Padang.

Meskipun mereka menyediakan beraneka ragam makanan laut, biasanya jika saya ke restoran ini, yang selalu saya pesan adalah menu-menu andalannya seperti Udang goreng mentega, Kerapu steam hongkong, Ikan Bawal Bakar Kecap, kerang rebus, Cumi goreng tepung dan tentu Kepiting Saus Padang yang menjadi menu favorit saya.

02042008434.jpg

Yang membuat saya menyukai Kepiting Saus Padangnya adalah bumbunya yang luar biasa pedas dan menurut saya justru inilah saus padang yang sebenarnya. Berbeda dengan kebanyakan restoran seafood lainnya dimana saus padangnya justru terasa seperti saus jawa alias manis, Kepiting saus padang di Parit benar-benar Pedas, Kental dan sangat gurih di lidah. Mungkin karena memang saya menyukai makanan pedas juga jadi saus di sini benar-benar cocok dengan lidah saya.

Untuk menu-menu makanan laut lainnya pun harganya bervariasi dari Rp.20.000 hingga yang termahal Rp. 300.000 dan menurut saya ini merupakan harga yang reasonable bagi kota Bandung yang secara geografis jauh dari pesisir pantai.

Meskipun harus diakui freshness makanan laut mereka tidak sesegar jika kita makan di restoran seafood di Pangandaran atau di Jimbaran, Bali. Tetapi tampaknya racikan bumbu-bumbu rahasia mereka tampaknya dapat menutupi kekurangan itu.

Perlu dicatat bahwa restoran ini sangat dipenuhi pengunjung terutama pada hari-hari libur dan long weekend. Stock kepiting mereka pun biasanya habis terjual pada hari-hari tersebut meskipun mereka menyediakan stock yang cukup banyak setiap harinya.

Yup! Parit 9 Seafood memiliki motto “Pesta Makan Kepiting” dan sudah barang tentu yang menjadi menu andalannya adalah Kepiting yang dimasak dengan variasi bumbu-bumbunya yang lezat dan patut anda coba.

Advertisements
h1

Batagor SD Priangan

December 21, 2007

Sekali-sekali nulis yang ringan-ringan ah…

Wisata Kuliner kali ini akan mencoba makanan khas Bandung yaitu Baso Tahu Goreng atau yang biasa disingkat Batagor. Nah Bos! Buat elu elu pade yang orang Jakarte, yang katanya gaul n asik, yang selalu menuhin Bandung tiap wiken, yang selalu bikin macet Bandung pas libur panjang, yang selalu nyari pendidikan terbaik di ITB atau UNPAD, yang selalu menuhin kost-kostan di Dago dan yang setidaknya udah nambahin pundi-pundi PAD pemkot Bandung, belum lengkap rasanya ke Bandung kalau belum nyobain Batagor khas kota kembang ini.

Sejarah keberadaan batagor ini sebenarnya cukup misterius. Terus terang saya sendiri tidak terlalu tahu kapan dan dari mana makanan yang berkategori sebagai makanan ringan ini ditemukan. Mana yang lebih dulu muncul antara baso tahu basah dan baso tahu goreng? Hanya saja Bandung memang merupakan sentra batagor-batagor lezat setidaknya dari seluruh pulau jawa dan sekitarnya. Dan sebagai urang Bandung asli, batagor sudah merupakan makanan favorit saya bersama keluarga.

Di Bandung, setidaknya sudah ada dua resto Batagor yang paling terkenal bagi mereka yang bukan berdomisili di Bandung atau those outsiders bastards (Bcanda! Hehehe…). Yang pertama adalah Batagor riri yang terletak di Jl. Burangrang dan Batagor Kingsley yang terletak di Jl. Veteran. In term of taste, kedua batagor ini yah somewhat okelah kalo melihat dari kualitas bahan-bahan mentah yang mereka pakai. Selain itu, bagi mereka yang selalu concern dengan higienitas makanan maka kedua batagor ini patut direkomendasikan.

Tetapi bagi saya, pengamat batagor (WAE!!), kedua batagor di atas bukanlah batagor dengan rasa terbaik di Bandung. Selain harganya terlampau mahal, bumbu yang digunakan pun tampaknya hanya kacang biasa yang sudah diperhalus ditambah sedikit kecap manis seadanya. Simple and clean I must say! But damn way too expensive! Faktor itulah yang membuat saya tidak menyukai batagor Riri dan Kingsley.

13122007333.jpg

Satu-satunya gerai batagor di Bandung yang paling saya sukai terletak di SD Priangan di Jl. Baros, Cilaki. Sebenarnya batagor versi home industry ini telah berdiri sejak saya duduk di bangku SD Priangan ini. Batagor kampung yang rasanya tetap konsisten sejak dulu dan saya belum menemukan batagor dengan rasa khas yang sama di tempat-tempat lain. Wajar karena si pemilik batagor yang bernama Mang Udin ini meracik bumbu-bumbunya sendiri dan tidak memiliki cabang di tempat lain.

13122007335.jpg

Meskipun batagor yang dimasak adalah sejenis batagor kampung yang size-nya tidak sebesar Riri atau Kingsley namun kerenyahan dan rasa gurihnya tidak kalah dibandingkan dengan keduanya. Racikan bumbu rahasianya ditambah kecap manis tentu dapat membuat siapa pun ketagihan untuk mencobanya lagi. Selain itu, harganya yang reasonable pun memberikan nilai tambah tersendiri bagi batagor ini. Satu batagor hanya dihargai Rp. 700,00! Bandingkan dengan batagor Kingsley yang mencapai Rp. 4000,00!

Sayangnya si mang Udin bersama gerobak batagornya hanya beroperasi weekdays dari pagi hingga siang hari atau setelah anak-anak SD Priangan bubaran sekolah. Para pelanggan setianya yang kebanyakan para orang tua yang menunggu anak-anaknya pulang sekolah biasanya telah memesan habis batagor ini untuk dibawa pulang. Setelah itu si Mang Udin pun pulang dengan senyum setiap harinya.

13122007334.jpgUntuk info selengkapnya tentang batagor SD Priangan ini dapat dilihat di situs pribadinya yaitu http://www.batagormangudinlezat.co.id/. Tapi tentu saja situs itu tidak akan pernah ada karena Mang Udin tidak pernah berniat meng-expand bisnis batagornya ini meskipun dia tahu kalau dagangannya memiliki potensi untuk mengalahkan Riri dan Kingsley. Ketika ditanya mengenai hal ini jawabannya cukup jujur : “Hoream ah!”. Yup! Mang Udin adalah tipe orang yang sudah cukup bahagia dengan apa yang dia raih selama ini dan tidak perlu berinvestasi lebih jauh untuk mendapatkan kebahagiaan itu. Tipe orang sederhana yang tidak perlu keluar dari comfort zone-nya untuk bertahan hidup.

Bahkan ketika terimbas inflasi ekonomi dan Mang Udin terpaksa harus menaikan harga batagornya, para pelanggan setianya pun tidak pernah complaint karena yah batagor SD Priangan memang worth it!

h1

Pangandaran Rebuilding (1)

September 17, 2007

08092007183.jpgMinggu lalu saya berkesempatan mengunjungi pantai Pangandaran. Hitung-hitung munggahan sebelum berpuasa.Hehe…

Jarak antara Bandung dengan Pangandaran cukup ditempuh melalui jalan darat selama 5 jam. Sejak kecil saya sudah familiar dengan kondisi perjalanan Bandung-Pangandaran karena memang tempat wisata favorit keluarga saya. Mulai dari titik-titik kemacetan, tempat rawan kecelakaan hingga tempat makan favorit. Salah satunya adalah Sari Ponyo yang terletak di kota Ciamis (2 jam sebelum Pangandaran).

Restorannya kecil dan sederhana, hanya warung nasi biasa. Namun masakan-masakan khas Sunda-nya yang masih bercita rasa asli membuat saya ketagihan untuk selalu datang ke tempat ini. Tempat yang hampir tidak pernah saya lewati jika berpergian ke Pangandaran. Nah jika anda berpergian ke Pangandaran dan ingin mencicipi masakan khas Sunda, saya merekomendasikan beberapa restoran Sunda lainnya yang bisa dilewati seperti Manjabal atau Cibiuk. Keduanya pun punya speciality masing-masing seperti Gurame cobeknya Manjabal atau sambal terasinya Cibiuk. Keduanya memiliki konsistensi rasa yang tidak berubah sejak dulu.

Sesampainya di Pangandaran, saya cukup kaget melihat perubahan yg cukup mencolok sejak bencana Tsunami setahun silam. Sepi! Sungguh keueum ceuk orang Sunda mah. Saya masih ingat ketika berpergian ke Pangandaran dahulu kita harus membooking hotel sebulan sebelumnya karena selalu full-booked. Pangandaran memang salah satu tempat wisata terfavorit di Jawa Barat. Tidak hanya pantainya yang nyaman, tempat wisata yg lainnya seperti Cagar Alam, Batu Karas, Karang Nini dan Batu Hiu merupakan tempat-tempat menarik lainnya yang bisa ditawarkan di Pantai Pangandaran ini.

Sekarang, alih-alih harus memesan hotel terlebih dahulu, justru pegawai-pegawai hotel yang harus datang ke kami dan menawarkan hotel mereka yang kosong dengan harga-harga yang bervariasi. Beruntung kita sudah memiliki hotel langganan yang selalu kita inap setiap datang ke sini. Beruntung pula hotel ini masih utuh karena ombak tsunami hanya menggenangi sebagian kecil komplek hotel. Padahal secara geografis, hotel ini terletak dekat sekali dengan pantai.

Kami pun beristirahat sejenak untuk melepas lelah. Kemudian mencari makan malam di sekitaran hotel. Pemandangan yang mencolok pun sangat terasa malam ini. Sepi tetapi damai. Hanya beberapa turis asing saja yang terlihat nongkrong di cafe bersama keluarganya dan beberapa warga menjajakan kaus dan barang dagangannya. Saya pun berkesempatan melihat puing-puing bangunan bekas bencana tsunami. Beberapa diantaranya sudah dibangun kembali, tetapi beberapa diantaranya dibiarkan begitu saja (terutama bangunan milik Pemda). Ada pula proyek pembangunan “benteng” di pinggir pantai sebagai penahan ombak. Lebih jauh menyusuri pantai barat, bekas-bekas bangunan saksi bisu bencana tsunami masih tampak jelas terlihat dan tak ada niatan untuk membangunnya kembali.

07092007172.jpg08092007188.jpg

Keesokan pagi harinya, saya memberanikan diri mencebur di laut Pangandaran. Tentu saja perasaan insecure selalu menghinggap di diri saya karena yang berenang saat itu mungkin hanya 10 orang saja dan saya adalah orang yang berenang paling jauh. Kebetulan pantai sedang surut. Ombak dan arus pun tidak terlalu kencang. Nilai positif dari bencana tsunami adalah laut menjadi jauh lebih bersih ketimbang dulu. Tidak terasa 2 jam lebih saya berada di laut untuk berenang dan surfing. Nikmat rasanya. Saya memang anak gunung yang berjiwa pelaut. Bau amis maksudnya. Hehehe…

Wisata Kuliner di sebuah restoran di Pantai Timur Pangandaran adalah jadwal saya selanjutnya. Seafood yang segar khas Pangandaran membuat kadar kolesterol dalam darah saya meningkat tajam. Tapi berhubung sebentar lagi puasa, hajar aja bleh!. Meskipun bumbu-bumbu yang diracik di restoran ini memang terkesan seadanya, tetapi kesegaran hasil-hasil laut yang disajikan dapat menutupi kekurangan itu. Kepiting saus padang, Udang goreng mentega, udang rebus dan Ikan bakarnya…Ma’nyos…!

Berbeda dengan hari sebelumnya, tampaknya hari ini Pangandaran mulai ramai dikunjungi orang. Mungkin karena weekend. Turis-turis yang kebanyakan berasal dari daerah Jawa Barat dan sekitarnya mulai memenuhi hotel-hotel dan beramai-ramai bermain di pantai. Meskipun tidak seramai sebelum tsunami, tetapi industri pariwisata pantai Pangandaran sangat jelas mulai menggeliat. Mungkin hanya masalah waktu sampai pantai Pangandaran dibangun kembali secara total.

08092007197.jpg

Semoga sampai saatnya nanti, pantai Pangandaran masih dengan kesederhanaannya seperti dulu.