Archive for the ‘Book Review’ Category

h1

Mereka Bilang Aku Kafir

February 19, 2008

muhammad-idris.jpgAda buku menarik yang baru saja saya baca habis semalam suntuk. Judulnya “Mereka Bilang Aku Kafir” terbitan Hikmah Novel. Diilhami dari kisah nyata, novel ini bercerita mengenai pengalaman pahit seorang lelaki bernama Muhammad Idris selama menjadi anggota RII (Republik Islam Indonesia) KR9 hingga ia keluar dari aliran sesat yang dulunya Ia percayai sebagai satu-satunya tiket menuju surga. Sebuah pertentangan batin dalam fase kehidupannya yang Ia rekam dan deskripsikan dalam bentuk novel.

Ditutur melalui gaya bahasa yang sederhana dan mudah dicerna, fanatisme buta kepada organisasi ini ia mulai sekitar tahun 1999. Diawali dari pengajian biasa, berlanjut kepada diskusi agama hingga hanyut dalam ajaran sesat aliran RII. Sampai akhirnya, Idris mengabdi total demi kepentingan mereka. Sebuah komitmen yang Ia bersedia jalani demi terciptanya sebuah Negara yang berdasarkan Syariat Islam yang kaku di Indonesia dan demi sebuah tujuan akhir yaitu Surga.

Metode perekrutan yang seperti Multi Level Marketing (MLM) pun ia kerjakan demi mengejar target pemasaran. Tanpa komisi tentunya. Kewajiban memberikan upeti kepada organisasi dalam bentuk hibah, infak atau zakat kepada para pejabat RII pernah ia lakoni. Pengkafiran orang-orang di luar komunitasnya pernah ia percayai. Penyampaian dakwah yang bersifat rahasia bahkan dapat dikategorikan sebagai gerakan bawah tanah membuat organisasi ini sulit ditelusuri oleh aparat berwenang. Hingga ia menceritakan pengalamannya menjadi salah satu ustaz atau pengajar di pondok pesantren (ponpes) khusus bagi penganut aliran ini yaitu Ma’had Al-Jannah yang terletak tidak jauh dari perbatasan Jakarta-Sadang.

Pengalamannya menjadi ustaz di ponpes ini justru menjadi proses turning point dalam hidupnya untuk kembali ke jalan yang benar. Apa yang ia saksikan di pondok pesantren ini luar biasa menyakitkan hati. Secara fisik, kondisi ponpes Al-Jannah memang megah dan fasilitas di sana lebih mewah dari kebanyakan ponpes (bahkan sekolah swasta) di Indonesia. Dibangun dari dana-dana upeti (atau pemerasan), ponpes ini memiliki luar areal sekitar 2000 hektare dan memiliki jumlah santri sekitar 3000 orang dengan biaya masuk US$5000 (wowww! Bayangkan anda bisa beli berapa gorengan dengan uang segitu!!).

Namun keindahan fisiknya ternyata sangat kontras dengan kondisi internal di ponpes tersebut. Kemunafikan dan totalitarianisme yang dilakukan oleh para petinggi RII, pelanggaran akidah, instant slavery, eksklusivisme hingga feodalisme bergaya Arab adalah makanan sehari-hari yang ia dapat selama di ponpes Al-Jannah. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari ponpes tersebut secara diam-diam bersama istri dan anaknya dan memulai hidup baru di Jakarta. Ia sadar bahwa yang ia dapatkan selama bergabung dengan RII ini adalah sebuah hidayah palsu mengenai janji Highway to Heaven. Waktu 3 tahun terbuang sia-sia sebagai buah kenaifan dia selama ini.

Novel ini dapat dikatakan sebagai novel investigatif mengenai fenomena aliran sesat dan ekstrimisme yang saat itu masih kurang diwaspadai oleh masyarakat Indonesia. Meskipun alur waktu yang dikembangkan dalam novel ini cukup membingungkan, namun secara kontekstual novel ini berhasil memperingatkan kita mengenai bahaya gerakan Islam bawah tanah yang mengeksploitasi agama demi kepentingan segelintir orang. Juga mencari hikmah di balik pengalaman pahit Idris dan teman-temannya sesama korban aliran sesat. Ternyata cita-cita Islam yang universal tidak selamanya harus dipandang dari satu sisi tertentu saja. Islam sejatinya bukan monopoli siapa-siapa.

Terus terang, saya salut kepada sang penulis. Merilis novel ini merupakan tindakan yang berbahaya bagi penulisnya. Saya yakin, Muhammad Idris bukanlah satu-satunya korban aktivitas aliran sesat ini. Cerita mengenai teror yang ditargetkan kepada para eks anggota aliran ini sering terdengar. Belum lagi rumor bahwa aliran-aliran sejenis ini dibekingi dan dilindungi oleh pejabat negara (konon, mantan RI 2 adalah salah satunya). Namun Idris ternyata memiliki nyali yang besar untuk menceritakan pengalaman pahitnya ke publik dan berani membongkar kebusukan dan kemunafikan aliran sesat. Orang-orang seperti Idris inilah yang menurut saya pejuang Islam yang sesungguhnya.

Hal ini juga semakin mempertegas kenyataan bahwa idealisme mulia apa pun suatu institusi baik itu di organisasi agama, lembaga non-profit atau charity sekalipun, in the end, business is business.

Buku ini direkomendasikan bagi mereka yang ingin mengetahui kehidupan penganut aliran sesat agar tidak ada lagi yang terperosok ke lubang yang sama hanya karena tidak ingin divonis kafir.

Advertisements
h1

Doraemon; Season Finale

December 24, 2007

doraemon.jpg“Namaku Doraemon! Aku dikirim dari masa depan untuk membantu kamu, Nobita!”, begitulah kira-kira percakapan yang terjadi ketika Doraemon pertama kali keluar dari laci meja belajar Nobita. Yup! Doraemon dikirim dari masa depan untuk membantu sang looser Nobita menghadapi tantangan kehidupan sehari-harinya. Sudah tidak terhitung berapa kali Doraemon menyelamatkan hari-hari Nobita dari gangguan teman-temannya. Meskipun terkadang berakhir dengan konyol, namun cerita fiksi ilmiah Doraemon selalu mendapat hati bagi para penggemarnya.

Adalah mahakarya Alm. Fujiko F. Fujio yang berhasil membuat tokoh kartun masa depan (entah musang atau kucing) bernama Doraemon ini sejak kemunculan pertamanya di manga tahun 1969 dan menjadi tokoh fenomenal di dunia anime Jepang.

Di Indonesia, bagi mereka yang grew up pada tahun 1990an atau setidaknya yang ketika itu masih duduk di bangku SD, petualangan Doraemon pasti tidak asing lagi. Tentu saja selain Nobita yang dari dulu hingga sekarang masih saja duduk di kelas 4 SD, cerita Doraemon bersama kantung ajaibnya selalu membuat kita terkagum-kagum. Seni kreativitas dan hikmah moralnya adalah harta warisan paling berharga yang pernah diberikan oleh setiap seri petualangan Doraemon.

Setelah hampir 20 tahun berjaya menghibur jagat raya, rumor says Fujio company berencana untuk menamatkan seri petualangan Doraemon. Banyak faktor yang menyebabkan hal ini. Bukan tidak mungkin para penggemar Doraemon pun sudah bosan dengan petualangan yang terkesan monoton, hilangnya selera kekanak-kanakan penggemar juga seiring bertambahnya anime-anime dengan genre sejenis. Rumor ini sempat beredar di kalangan para penggemar dan mereka berusaha menebak-nebak akhir cerita Doraemon meskipun tidak sedikit juga yang kecewa dengan kebijakan Fujio company tersebut.

Saya sempat menggunakan metode internet research (cieehhh! Skripsi banget!!) dan surfing mengenai the end of Doraemon ini. Hasilnya ternyata terdapat 3 alternatif ending doraemon. Warning: Spoiler Alert! Data yang diberikan mungkin benar, mungkin tidak, mungkin juga HOAX! Kalo mau cek aja sendiri!

Alternatif ending yang pertama diceritakan bahwa selama ini Nobita adalah anak yang Autis yang menganggap Doraemon adalah teman imajinernya. Sehingga eksistensi Doraemon selama ini adalah tidak nyata. Udah. Titik. Garing kan? Tentu saja ending ini mendapat tentangan keras dari para penggemarnya. Ya iyalah! Masa cuman gitu doang? Ga ada ide lagi ato emang males mikir?

Alternatif ending kedua jauh lebih pesimistik. Kali ini diceritakan bahwa Nobita mengalami kecelakaan dan menderita koma yang sangat panjang. Untuk menyembuhkannya diperlukan biaya besar untuk operasi di kepalanya. Doraemon menjual semua alat-alat yang disimpan dalam kantung ajaibnya. Namun, operasinya ternyata gagal. Doraemon telah menjual seluruh peralatannya kecuali satu alat sebagai last resort-nya. Dia menggunakan alat itu agar Nobita bisa pergi ke tempat yang Ia dambakan kemana pun itu. Akhirnya tempat yang ingin dituju Nobita adalah surga. Perpisahan terakhir antara Doraemon dan Nobita terjadi ketika Nobita akhirnya meninggal dunia.

Setelah kecewa dengan kedua ending di atas, muncul alternatif ending ketiga yang rada manusiawi. Entah benar atau tidak, ceritanya seperti ini. Setelah kelelahan mengalami dozens of fantastic adventure bersama Nobita dan kawan-kawannya siapa-lagi-kalau-bukan-Suneo,Giant dan Shizuka, salah satu komponen dari mesin Doraemon mengalami kerusakan yaitu pada baterai memorinya. Dorami, adik Doraemon, berusaha memperbaiki komponen tersebut dengan mengganti baterainya yang baru namun harus dibayar dengan konsekuensi mahal: memori petualangan bersama Nobita selama ini akan hilang dan Doraemon pun belum tentu memiliki sifat seperti dulu lagi. Nobita yang tidak ingin “roh” Doraemon yang dulu pergi dengan tegas menolaknya dan berusaha mencari jalan lain tanpa harus mengganti baterai memori Doraemon, bagaimana pun caranya.

Seperti yang diketahui, Nobita adalah anak dengan tingkat intelegensia hampir di bawah rata-rata anak-anak seumurnya. Tidak memiliki bakat apa-apa. Olah raga pun tidak jago. A weak-pathetic-looser would be best to describe him. Namun determinasi yang kuat untuk mengembalikan Doraemon seperti sediakala membuatnya menjadi seorang pejuang keras meskipun dia tahu kelemahan dia sendiri dibandingkan dengan teman-teman sebayanya. Belajar dari kesalahannya, Nobita menjadi lebih mandiri dan mulai meningkatkan kemampuan intelektualitasnya di sekolah.

Nobita akhirnya tumbuh dewasa menjadi seorang ilmuwan terkenal di Jepang. Setelah menikah dengan Shizuka, Nobita mendirikan perusahaan yang bergerak dalam bidang Artificial Inteligence. Akhirnya setelah melalui perjalanan yang tidak mudah, Nobita tua sukses menjadi kontributor utama kemajuan teknologi di Jepang. Namun masih ada satu tugas lagi yang masih harus diselesaikan : memperbaiki komponen baterai memori Doraemon yang selama ini rusak.

Teknologi buatan perusahaan Nobita di masa depan memungkinkan baterai memori Doraemon diperbaiki tanpa harus kehilangan memori masa lampaunya. Selain itu, beberapa komponen utama Doraemon pun sudah diciptakan oleh perusahaan yang sama. Doraemon pun berhasil diperbaiki dan dia sama seperti Doraemon yang dulu. “roh”nya tidak hilang. Doraemon telah kembali.

Setelah reuni kecil-kecilan dengan tangis, tawa dan haru, Doraemon bertanya kepada Nobita “apa tugasku kali ini, Nob?”. Nobita menjawabnya “aku sudah tua, Mon! Sudah bau tanah. Aku sudah bisa mengurus diriku sendiri sekarang. Lebih baik kamu kembali ke masa lalu ketika kamu pertama kali muncul di laci meja belajarku dan bertemu aku yang dulu”. “Baiklah!”. Doraemon beranjak ke mesin waktunya, berpisah dengan Nobita tua dan kembali ke masa lalu.

Nobita tua merasa senang bisa menghidupkan kembali Doraemon dari mati surinya. Beruntung dia telah menciptakan teknologi canggih. Namun dia merasa ada sesuatu yang membuatnya terpaku. Dia baru sadar bahwa ternyata selama ini, dialah pencipta robot musang bernama Doraemon tersebut karena semua teknologi yang digunakan Doraemon adalah berasal dari perusahaannya. Nobita pun tersenyum kecil dan dia mensyukuri hasil jerih payah selama ini yang akan dinikmati oleh anak-anak seluruh negeri. Termasuk Nobita di masa lalu. Perjalanan Doraemon pun kembali ke masa lalu dan menjadi never ending story begitu seterusnya.

Nah di bawah ini adalah versi komik orisinil Doraemon the ending yang saya temukan di internet. Cerita yang penuh haru dan optimistik. Beruntung akhirnya saya dapat membaca episode terakhir cerita Doraemon meskipun tidak seakurat jalan cerita yang saya urai sebelumnya, namun the end makes everything cristal clear: Perjuangan Nobita yang tak kenal lelah menuju kebangkitan Doraemon, sebuah inspirasi moral dan impian masa kanak-kanak. Hiks! Y_Y

doraemon-ending-3.jpg

doraemon-ending-4.jpg

doraemon-ending-5.jpg

doraemon-ending-6.jpg
doraemon-ending-7.jpg

doraemon-ending-8.jpg

doraemon-ending-9.jpg

doraemon-ending-10.jpg

doraemon-ending-11.jpg

 

doraemon-ending-12.jpg

doraemon-ending-1.jpg

 

doraemon-ending-2.jpg

doraemon-ending-13.jpg

doraemon-ending-14.jpg
doraemon-ending-15.jpg

doraemon-ending-16.jpg

h1

Kartun Benny and Mice

October 30, 2007

Beberapa ritual yang selalu saya lakukan setelah bangun siang-bukan bangun pagi-setiap hari adalah menikmati sarapan, minum teh, merokok dan membaca koran Kompas. Namun ada yang selalu saya nanti-nantikan ketika masuk hari minggu pada ritual terakhir. Saya selalu melewati kolom Headlines dan berita-berita lain dan langsung membuka halaman terakhir Kompas. Yup! Membaca komik strip Benny and Mice adalah ritual yang selalu saya lakukan di hari minggu. Komik yang hanya terdiri dari beberapa kolom (terkadang tidak lebih dari 5 kolom) dengan cerita yang kocak, nakal, nyeleneh dan hillarious selalu membuat saya tertawa-tawa di hari minggu yang cerah.

Gambarnya diilustrasikan secara simple namun tidak menganulir detail-detail yg penting. Mulai dari detail-detail yg ‘mikroskopik’ seperti merk rokok, plat nomer bajaj atau pun gap antara gigi digambar secara simple namun jelas. Dan yang paling penting adalah gambaran ekspresi wajah karakter-karakternya yang dapat menjelaskan perasaan manusia sesungguhnya karena tidak sedikit komikus terkadang sulit untuk menggambarkan ekspresi manusia sehingga pesan yang ingin disampaikan menjadi ‘misleading’.

Adalah karya agung dua kartunis muda yaitu Benny Rachmadi (Benny) dan Muhammad Misrad (Mice). Sejak penerbitan pertamanya di tahun 2003, kartun Benny and Mice telah mendapat tempat di hati pembacanya. Tidak sedikit publik yang mengagumi kedua tokoh ini. Mungkin alasan mereka menyukai kartun ini sesederhana dengan tema-tema yg diusung oleh kedua kartunis tersebut.

Ceritanya mengenai dua lelaki berumur sekitar 30an yang mencoba bertahan hidup di kota Jakarta bersama hingar-bingarnya. Benny dan Mice (mi ce atau mais?) adalah dua sahabat yang termarjinalkan secara struktural di Jakarta. Namun kondisi tersebut tidak menyurutkan mereka untuk tetap menerima hidup ini apa adanya. Meskipun kelihatannya ndeso dan kampungan, keduanya tetap kompak dan berusaha sebaik mungkin untuk tetap eksis di lingkungan sosial kota Jakarta.

Kekuatan utama dari komik ini adalah nilai kejujuran dan objektifitas yang diilustrasikan di setiap ceritanya. Benny dan Mice adalah representasi dari jutaan rakyat yang terjebak dalam kemiskinan kota besar seperti Jakarta. Keduanya selalu ingin mengejar “kecepatan” kota Jakarta dengan kondisi seadanya dan bahkan tidak memungkinkan. Akhirnya, ide-ide jahil pun muncul sebagai manifestasi atas kondisi tersebut. Sebagai contoh, ketika celana boxer sedang trend, Mice tergoda untuk mengikutinya. Namun sayang, Mice yg selalu ingin selangkah lebih maju akhirnya hanya mengenakan celana boxer saja ketika berjalan di mal, tanpa baju dan celana panjang. Kocaknya dia mengenakan sarung tinju layaknya boxer betulan sambil bertanya pada Benny “Gimana Ben? Kesan Boxer-nya udah dapet belum? Ngetrend gak?.”

Dua tokoh Benny and Mice sebenarnya dapat dikatakan sebagai dua karakter yang menyatu. Sekilas memang tidak ada perbedaan karakter antar keduanya. Ndeso, jahil, kampungan dan konyol. Namun jika diperhatikan, tokoh Benny memiliki sifat lebih tegas, sedikit berotak tetapi sok tahu. Karakter Mice lebih bijak tetapi sama juga otaknya dangkal, sangat naif dan lugu. Uniknya, di kolom awal kartun ini, Benny dan Mice selalu digambarkan dengan setting dan kostum yang berbeda-beda di setiap episodenya. Hanya saja saya heran kenapa keduanya selalu jalan bersama di setiap kesempatan? Jangan-jangan Benny dan Mice adalah pasangan homo? Hehehe…

Objektivitas cerita pun menjadi salah satu kelebihan kartun ini. Dalam ilustrasinya, kartun ini memang mengetengahkan isu-isu realisme sosial dan politik. Namun, tidak seperti kartun-kartun lainnya yang selalu terkesan menggurui, kartun Benny and Mice tampil apa adanya. Malah ada beberapa kebiasaan buruk masyarakat miskin dikritik oleh kartun ini. Contohnya, anak jalanan yang menyalahgunakan rejeki pemberian orang untuk menghisap lem Aibon malah harus merasakan hidungnya lengket karena diberi lem kayu oleh Benny dan Mice.

benny-mice.jpg

Kartun Benny and Mice adalah suatu kritik sosial yang relevan dengan perkembangan zaman saat ini. Mereka selalu tampil jujur, apa adanya dan memiliki pesan moral yang jelas bagi pembacanya tanpa berusaha tampil paling mulia, paling tahu segalanya dan paling suci. Menurut saya, mereka inilah pejuang rakyat jelata yang sesungguhnya. Salut bagi pencipta kartun Benny and Mice!

Ini adalah beberapa episode favorit saya:

benny-n-mice-kasir.jpg

 

flashdisk.jpg

 

swgl.jpg

 

benny-n-mice-bola-politik.jpg

P.S. Terima kasih bagi Eriq (siapa pun dia semoga amalnya dibalas oleh Allah SWT) yang telah menyediakan komik-komik ini di website pribadinya 🙂

 

h1

What if she’s the ONE?

October 10, 2007

Akhir-akhir ini saya selalu dihinggapi pertanyaan ini. Pertanyaan yang sederhana sebenarnya. Hanya terdiri dari 6 kata dan sebuah tanda tanya. Bahasa Inggris pula. Namun bagi sebagian orang jawabannya akan diulas berular-ular. Padahal yang dia minta mungkin tidak lebih dari satu paragraf atau sebuah tema klasik-Cinta. Basi yah?

Terkadang saya merasa aneh melihat orang mengekspresikan rasa cintanya melalui film, lagu atau buku dan kemudian dikomersialisasikan atas kepentingan bisnis. Cinta = Bisnis? Rasa-rasanya yang namanya perasaan cinta tidak sebobrok itu yah. Tapi yah terserah orang mau mengartikulasikannya dengan cara apa. Cinta itu subjektif dan tidak bebas nilai koq. Meskipun masih ada beberapa tema film romantis yang dodgy alias absurd seperti Love is Cinta atau Hate is Benci. Dude! Orang pacaran mesti difilmin yah?

Kembali, what if she’s the one? SIAPA subjek she itu? KENAPA selalu ada di benak saya padahal status saya masih menjadi single fighter? Could she be one of my long lost friend or someone who lives hundreds miles away? What if she turned out to be someone who has already dead? What if ‘she’ turned out to be ‘he’? Waduh!…Jangan sampe yah!

Saya tidak terlalu percaya Premonition. Hanya saja bagaimana anda tahu kalo she IS the ONE? Bagaimana anda bisa yakin jika ‘she’ adalah seseorang yang bakal menemani anda in the next 20 years or more? ‘she’ yang selalu ada di menyejukkan hati anda ketika anda sedang resah? ‘she’ yang anda cintai? Mungkin ada benarnya kata mereka bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan ini hanyalah sebuah takdir. Saya percaya adanya sebuah takdir. Definisi takdir berbeda dengan nasib. Nasib adalah “nahkoda” yang mengendalikan hidup kita jika kita kehilangan kendali atas apa yang terjadi pada kita. Sementara takdir adalah apa yang selalu ingin seseorang capai. Semakin dekat seseorang dalam mewujudkan takdirnya, semakin takdir menjadi alasan sejati keberadaannya (Paulo Coelho, The Alchemist). Begitu pula pemahaman konsep cinta.

Sebenarnya, apa sih artinya cinta? Ada orang menginterpretasikannya sebagai rasa kagum yang dimanifestasikan sebagai sebuah pilihan yang rasional. Ada pula yang mengasumsikannya sebagai rasa kagum yang dimanifestasikan dalam bentuk nafsu biologis. Ada juga yang menjelaskannya dalam kerangka proses kimiawi (ini pasti orang ITB deh!). Pro dan kontra pun muncul bagi sebagian orang yang tidak mengerti makna tersebut. Siapa pun bisa berpendapat. Namun memonopoli total hanya pada sebuah pilihan (rasional atau biologis) rasa-rasanya hampir tidak mungkin. Disadari atau tidak manusia pasti memiliki keduanya. Saya sendiri percaya bahwa cinta datang sebagai sesuatu yang given. Ia tidak bisa ditawar-tawar lagi kapan dan dimana dia bakal muncul. Keberadaannya adalah sebuah pencapaian yang tidak mengenal ruang dan waktu.

Sungguh senang rasanya melihat banyak teman-teman seangkatan saya yg sudah menikah dan memiliki anak. The ONE menemukan the other ONE. Semuanya hanyalah masalah waktu. Mereka berkomitmen dengan pasangannya untuk menginstitusikan cinta ini ke sebuah jenjang pernikahan. Dan menurut pengakuan mereka, hidup mereka jauh lebih berarti dan bahagia setelah menikah dan lebih jauh berarti lagi setelah dianugerahi seorang anak. Tentunya setelah mereka mempersiapkan segalanya secara total, kebahagiaan pun akan menjadi sebuah pencapaian takdir yang luar biasa hingga mereka tua nanti.

Fase berikutnya, dalam kematian, konon segalanya menjadi sangat jelas. Karena jika kematian menghampiri seseorang, dia tidak memikirkan seberapa sakit dia akan menderita atau seberapa banyak harta yang akan dia tinggalkan, tetapi dia akan memikirkan siapa yang akan mendampingi istrinya, menemani anak-anaknya dan cucunya setelah dia mati nanti. Setelah itu ketika dia tahu bahwa perjalanannya di dunia sudah mencapai titik akhir, segala keraguan di hatinya menjadi jelas. Dia tidak pernah merasa cukup untuk melakukan yang terbaik untuk mereka selama dia masih hidup. Dia akhirnya sadar bahwa kadar cintanya kepada keluarganya sudah jauh di ambang batas normal. Next thing he knows, dia sudah terbaring kaku dikelilingi oleh keluarga, kerabat dan sahabat-sahabatnya yang terus mendoakan mereka. Sebagian ada yang mengaji, sebagian lagi ada yang menshalatinya dan sebagian lagi ada yang membuka tutup wajahnya sambil berbisik “Jangan khawatir”, kata mereka. “beristirahatlah dengan tenang karena suatu saat nanti kita pun akan bertemu kembali…”.

Dia ingin membalasnya untuk menitipkan keluarganya. Sayang, jasadnya bukan lagi menjadi miliknya. Dia telah pergi untuk selamanya. Tetapi kekhawatiran dia hilang setelah dia sejenak menyadari bahwa di dunia ini, hanya ada satu konsep yang mutlak dialami manusia: Kematian. Dia hanya perlu menunggu dan yakin bahwa mereka akan menepati janjinya . . .

Anyway, saya belum pernah merasakan cinta yang benar-benar rasional. Menjalani hubungan interpersonal secara khusus pun (alias pacaran) hanya bisa dihitung jari kanan saya. Alih-alih pernah merasakan rasanya cinta rasional seperti apa, saya malah lebih banyak merasakan faktor yang kedua (nafsu biologis). Tidak perlu munafik. Is there any fine line between those two?

Walhasil, rasa bosan dan menikmati hubungan itu secara temporal pun sering saya alami. Akhirnya, perasaan “She’s not sexually attracted to me anymore” meruntuhkan semuanya. Padahal niatan awal saya untuk menjalani suatu hubungan adalah baik dan melihatnya dalam sebuah kerangka jangka panjang. Memang benar perasaan hati tidak bisa dimanipulasi bagaimana pun caranya. Waktu memberikan saya pelajaran yang berarti. Rasionalitas cinta belum tentu membutuhkan dia yang cantik, dia pun tidak perlu sempurna dan dia tidak perlu memiliki segalanya. “Sometimes perfect is not always what you need” adalah sebuah hikmah yang berharga.

She…Dia tidak perlu sempurna segalanya. Terkadang kecacatannya justru menjadikan dia sungguh sempurna. Ketololannya justru membuat dia menjadi seorang yang jenius. Dan ketika anda telah menemukannya dalam sebuah momentum, segalanya menjadi sangat jelas. Anda akan berbuat apa saja demi dia secara tulus. Ketika anda berhasil mendapatkannya dan membangun semuanya, anda tidak pernah khawatir tentang ketidaksempurnaannya. Alih-alih selalu merasa curiga dengan aktivitas sosialnya yang mungkin akan mengganggu hubungan anda tanpa alasan yang jelas, anda justru akan selalu mempercayai kesetiaannya karena telah mencapai takdir apa adanya. Konsep kesetiaan tidak bisa digeneralisasi hanya melalui kerangka hitam atau putih. Anda akan cukup bahagia karena sadar semua yang anda berikan tidak akan pernah cukup sampai anda mati nanti. Tetapi berbahagialah, justru dengan demikian, anda telah menemukan the ONE.

h1

Another hectic weekend in Bandung and a book

July 9, 2007

Beberapa hari yang lalu saya menerima sebuah undangan via bulletin friendster dari teman saya. Setelah saya buka ternyata undangan tersebut berasal dari teman saya yang sudah lama sekali tidak bertemu. Hari sabtu kemarin, dia mengajak saya untuk datang ke Paris Van Java, Bandung untuk menghadiri talk show novel fiksinya yang baru saja launching beberapa bulan sebelumnya. Yah tentu sebagai teman baik saya memenuhi undangan tersebut walau harus melewati kemacetan parah kota Bandung di waktu weekend. Kalo diingat-ingat lagi, macetnya edan oge euy! Mengingat liburan sekolah sedang berlangsung jadi wajar saja orang-orang yang dari daerah menyempatkan diri untuk berbelanja atau sekedar bermain ke bandung. Saya ingat hari itu sedang panas-panasnya dan jalan sedang mengalami kemacetan luar biasa diperparah dengan ganasnya mobil-mobil berplat ’B’ yang dengan kejamnya tidak memberikan jalan sekalipun itu seekor cicak. Maklum berkendaraan di Jakarta, jarak satu mobil dengan mobil lainnya ketika sedang macet parah biasanya jauh di ambang batas tata krama kemacetan. Jangankan satu jengkal, satu milimeter pun dilabrak aja tanpa peduli pengendara lain ada di sebelahnya untuk meminta jalan. Bisa dibayangkan jika mobil itu dilengkapi dengan fasilitas sensor jarak, tidak henti-hentinya sensor itu berbunyi tanpa direspon oleh pengemudinya (”Aing teu diwaro kieu euy!” Ceunah). Parahnya mereka membawa kebiasaan itu ke kota Bandung yang jalannya tidak selebar jalan-jalan di kota Jakarta dan hebatnya mereka masih mengeluh kondisi jalanan kota Bandung yang selalu macet setiap kali mereka datang ke sini!Padahal biang kemacetan itu mereka sendiri!! SI GELO BUDUG! BARALIKLAH!! MINUH-MINUHAN BANDUNG WAE!!!

Loh koq keluar dari konteks yah? Sampai mana tadi? Ah ya! Akhirnya sampai juga ane di PVJ yang terkenal dengan tempat-tempat nongkrongnya yang cozy. Saya mempercepat langkah menuju toko buku Gramedia dimana acara talk show sedang berlangsung dan ketika sampai di sana, beruntung acara sedang berlangsung dengan bincang-bincang dengan sang pengarang novel tersebut. Sang pengarang men-spot saya yang dengan gaya absurd saya sedang bersandar di tiang pondasi bangunan PVJ (ngapain coba?) dan mengajak saya untuk berdiskusi mengenai keseluruhan cerita novel ini. Kebetulan saya sudah membacanya ketika pulang dari Australia.

joker.jpgNovel ini berjudul ”Joker; ada lelucon di setiap Duka” karangan Valiant Budi yang tidak lain dan tidak bukan adalah teman saya ketika di SMA Taruna Bakti, Bandung. Sebenarnya sih kaget juga doi bisa bikin novel secara dulu pas SMA nih anak kerjaannya cuman tidur melulu di kelas terutama pada saat pelajaran Fisika Mr. Saepultura sedang berlangsung.Hehehe…becanda Bud!

Sebagai seorang yang memiliki hobi membaca, novel ini ceritanya sederhana dan ringan. Cocok sekali bagi orang seperti saya yang sudah bosan dan mumet dengan bacaan-bacaan politik. Beberapa kejadiannya mungkin benar-benar terinspirasi dan dialami oleh si pengarang sendiri ketika masih menjadi penyiar di Hard Rock fm Bandung. Yang membuat menarik adalah ada beberapa plot yang dapat membuat pembaca mencabangkan arah jalan ceritanya. Seperti sebuah puzzle, membaca novel ini seperti menyusun puzzle demi puzzle tersebut dan pada akhirnya, seolah penulis dengan sengaja mengajak pembaca menemukan sendiri potongan puzzle yang terakhir yang menentukan ending cerita ini. Dimulai dari sebuah kecelakaan maut di tol Pasteur yang merenggut nyawa sepasang kekasih, kemunculan dua individu Brama dan Alia yang sedang interview di sebuah radio terkemuka di Bandung, kisah percintaan keduanya yang cenderung saling bertolak belakang, dan perjalanan hidup keduanya yang kocak sekaligus penuh warna. Memang sekilas bagi orang-orang yang berpikiran dangkal dan hanya men-judge buku ini dari segi judul, novel ini tampak memiliki jalan cerita yang standar. Terus terang saya pun pernah berpikir demikian. Namun setelah lembar demi lembar saya buka, tanpa sadar seolah-olah saya sedang meneliti tokoh ’Joker’ dalam sebuah kartu remi. Sebagai seorang mahasiswa yang suka bermain kartu di waktu senggang, kartu bergambar ’Joker’ ini biasanya tidak berperan banyak di kebanyakan permainan kartu. Terlepas dari arti ’Joker’ yang sesungguhnya dari pencipta kartu remi, ternyata tokoh ini tidak sepenuhnya melucu atau tertawa. Selalu ada sisi mengejutkan dan unpredictable darinya ketimbang perannya yang selalu disisihkan dari sebuah permainan kartu. Sihoreng teh, ternyata dia bukan ’Cacing Cau’ semata. Dan yang paling penting adalah ending ceritanya yang fantastis yang saya yakini bahkan orang sekritis apa pun belum tentu dapat menebak akhir cerita ini. Jadi memang mau tidak mau, untuk menemukan arti holistik dari keseluruhan cerita ini, pembaca harus membaca literally dari awal hingga akhir halaman buku ini. Tapi memang tidak etis untuk membicarakan cerita novel ini di forum bebas ini, ntar yang belum pada baca kecewa deh endingnya saya ceritain dan mencap saya sebagai spoiler. Hehehe…

Nah!bukannya saya promosi sih cuman kalo ada yang berminat membaca, ga usah terlalu banyak mikir, i reckon it’s a worth-reading novel koq.