h1

Pragmatisme Sepakbola

June 22, 2008

Demam Piala Eropa 2008 telah mulai. Orang-orang mulai sibuk mengatur jadwal untuk menyempatkan diri bergadang demi menonton tim kesayangannya berlaga di Piala Eropa. Tidak ketinggalan bahkan orang-orang yang awalnya tidak menyukai bola sekalipun berusaha terjaga semalam suntuk demi melihat aksi-aksi spektakuler bintang-bintang Eropa berlaga di lapangan hijau.

Meskipun Piala Eropa terkesan mengkotak-kotakkan kekaguman akan satu negara (bahkan bukan negaranya sendiri) dan cenderung menimbulkan solidaritas sempit tetapi justru hal itulah yang membuat sepak bola merupakan olah raga paling digemari di dunia. Semua orang dari tingkat kelas sosial manapun dapat menikmatinya karena sepak bola merupakan olah raga simple namun tetap membutuhkan konsentrasi, skill dan kekuatan fisik yang sangat tinggi. Benar-benar olah raga yang pragmatis yet demanding! Bayangkan ribuan penonton bahkan jutaan pemirsa televisi bersorak ketika anda berhasil melakukan gol pada menit-menit penentuan. Bukankah itu menjadi sebuah mimpi semua orang?

Meskipun patut disayangkan baru tadi malam tim kesayangan saya, Belanda, harus kalah di perempat final melawan Russia dengan skor telak 3-1. Belanda yang langsung menggebrak di babak penyisihan dengan menempati posisi pertama Group Neraka yaitu Group C ternyata tidak menjamin mulusnya jalan menuju Juara Piala Eropa. Tetapi bagi saya justru disitulah menariknya sepak bola. Bola itu bundar dan track record maupun banyaknya pemain bintang tidak menjamin samasekali kalau tim tersebut bakal 100% menang. Justru ketajaman skill, kualitas team work dan konsentrasi ditambah faktor keberuntungan menjadi faktor yang paling signifikan dalam menentukan menang atau kalahnya suatu Tim.

Dalam lapangan hijau semuanya mungkin terjadi. Aksi individu yang spektakuler, tangis, selebrasi, solidaritas bahkan tragedi merupakan elemen-elemen yang menyatu dalam waktu 2 kali 45 menit. Bagi saya, sepak bola adalah perjuangan murni. Bukan kompetisi yang berorientasi pada hasil akhir. Ketika sebuah tim menyuguhkan permainan terbaiknya justru disitulah letak esensi dari sebuah perjuangan meskipun tim tersebut kalah secara terhormat. Terhormat karena kekalahan tersebut menjadi sebuah pelajaran. Apa pun hasilnya, saya dapat menikmatinya selama para atlitnya bermain secara totalitas.

Bagi saya, Sepakbola merupakan manifestasi komunikasi global, sebuah pemersatu dan pragmatisme yang brillian. Sayang sekali,memang, saya tidak memiliki bakat untuk bermain sepak bola. Andaikan saya dapat memutarbalikkan waktu . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: