Archive for June, 2008

h1

Surat Untuk Munarman

June 24, 2008

Ada sebuah tulisan menarik yg saya baca dari sebuah blog milik Yusariyanto. Tulisannya dapat diklik di sini. Intinya Mas Yus ini menulis surat untuk Munarman, tersangka provokator penyerangan AKKBB di Monas tanggal 1 Juni kemarin, supaya sadar seperti dulu. Cukup berang juga saya melihat aksi brutal FPI di Monas kemarin. Entah setan mana yang merasuki mereka berbuat sedemikian sadis. Justifikasi mereka gunakan atas nama Agama pula. Atas nama surga yang mereka janjikan. BAH! Keyakinan macam apa itu?
Munarman atau Mafia Hongkong?

Tampaknya manusia-manusia seperti Habib Rizieq, Munarman, Abu Bakar Baasyir dan para pengikutnya memang tidak seharusnya dibiarkan bebas-entah dalam konteks apa pun. Well, sudah banyak tulisan saya yang mengkritik kiprah mereka dalam menyukseskan konflik horizontal. Rasanya saya sudah malas menulis tema yang sama lagi.

Berhubung surat ini ditujukan bagi Munarman, yah dengan menyebarkan tulisan ini siapa tau doi kebetulan juga membaca surat ini. Karena yang namanya amanah, bagaimanapun juga harus disampaikan toh?
Hehehe. . .

P.S. Foto di atas sengaja saya pilih karena malas mengunduh google picture lebih jauh lagi (mengunduuhhh!!!) . Tampak memang Munarman atau lebih mirip Mafia Hongkong? Mafia Arab mungkin? Pejuang Laskar Al-Munafikun? Cik atuhlah ngaca da sia teh euweuh kabeungeutan jadi orang Arab!

SURAT UNTUK MUNARMAN

Havel dan Kafka,

Ini kali bukan kisah untuk kalian. Tapi, sepucuk salam untuk seseorang bernama Munarman.

—————-

Assalamualaikum,

Munarman, apa kabar? Saya dengar, polisi sudah mencari Anda. Mudah-mudahan sehat selalu. Jaga fisik senantiasa. Bukankah itu modal utama Anda belakangan ini?! Hal yang Anda sebut “perjuangan” mungkin masih akan panjang.

Nah, soal catatan kiprah Anda di ranah publik, agaknya belum cukup panjang. Saya ingat bahwa Anda pernah menjadi Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (Kontras). Anda menggantikan almarhum Munir, yang kemudian juga menjadi korban para durjana. Anda sendiri memasuki lingkungan LSM sejak 1995 saat menjadi relawan di LBH Palembang.

Lepas dari lingkungan LSM hukum, belakangan Anda bergabung dengan Hizbut Tahrir Indonesia–sebuah organisasi massa yang relatif jauh dari praktik kekerasan. Tapi, Ahad lalu, saya lihat Anda memimpin segerombolan orang yang dengan bersemangat menghajar sekelompok orang. Tak ada perlawanan sama sekali dari pihak yang diserang. Darah bercucuran dari kepala. Wajah yang bengap. Tulang hidung yang patah. Seorang perempuan menderita gegar otak. Ya, seorang perempuan–kaum yang melahirkan kita.

Munarman, saya masih ingat, Anda pernah menjadi Koordinator Kontras. Kini, Anda menjelma pelaku kekerasan. Sungguh kontras. Sungguh saya dibelit rasa penasaran, “guncangan besar” apa yang membikin Anda bersalin watak?

Tak lama setelah insiden Monas, Anda berujar, “Kenapa mereka mengadakan aksi untuk mendukung organisasi kriminal? AKKBB juga memasang iklan di koran untuk mendukung Ahmadiyah. Itu artinya mereka menantang kami lebih dulu. Jika tidak siap perang, jangan menantang.”

Bung, setahu saya, Anda adalah seorang sarjana hukum. Bahkan, pernah memimpin Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Dengan luncuran kata-kata itu, saya kira Anda telah menaruh hukum sebagai keset, yang setiap saat Anda injak-injak, Anda rendahkan. Jika ada yang bersuara lain, itu Anda anggap sebagai ajakan berperang. Lalu, Anda pun menyerbu dengan pentungan dan tinju. Sejak kapan hukum mengenal modus penyelesaian perkara seperti itu?

Ah, soal penyelesaian perkara, saya jadi ingat satu hal. Pada 2007, Anda terjerat kasus hukum ecek-ecek. Mobil Anda diserempet taksi Blue Bird di kawasan Limo, Depok. Lalu, Anda menempuh cara ini: merampas kunci mobil, SIM pengemudi, dan STNK taksi tersebut. Kabarnya, Kejaksaan Negeri Depok menyatakan kasus ini siap disidangkan. Tapi, saya tak pernah mendengar kelanjutannya.

Di hari-hari ini, Anda agaknya sulit lolos. Aparat hukum sudah mengincar. Banyak kalangan juga mengharapkan Anda diadili. Harapan mereka: hukum ditegakkan sehingga republik ini masih layak huni, ditinggali secara beradab bin manusiawi.

Akhir kata, sejak kemarin, beredar foto Anda sedang mencekik seseorang. Tapi, Anda berkilah justru sedang menghalau seorang anggota Laskar Islam agar tak anarkis. Oke…oke…

Lalu, Anda melanjutkan, akan menyeret sejumlah media yang memajang foto itu ke polisi. TEMPO secara khusus Anda sebut. Yang mengagetkan, termuat di portal-portal berita hari ini, Anda menyeru agar Goenawan Mohamad, jurnalis senior dan pendiri TEMPO, untuk bersujud dan meminta maaf pada Anda. Bersujud?

Munarman, jangan terlalu lama mengistirahatkan akal sehat…

Wassalam.

h1

Pragmatisme Sepakbola

June 22, 2008

Demam Piala Eropa 2008 telah mulai. Orang-orang mulai sibuk mengatur jadwal untuk menyempatkan diri bergadang demi menonton tim kesayangannya berlaga di Piala Eropa. Tidak ketinggalan bahkan orang-orang yang awalnya tidak menyukai bola sekalipun berusaha terjaga semalam suntuk demi melihat aksi-aksi spektakuler bintang-bintang Eropa berlaga di lapangan hijau.

Meskipun Piala Eropa terkesan mengkotak-kotakkan kekaguman akan satu negara (bahkan bukan negaranya sendiri) dan cenderung menimbulkan solidaritas sempit tetapi justru hal itulah yang membuat sepak bola merupakan olah raga paling digemari di dunia. Semua orang dari tingkat kelas sosial manapun dapat menikmatinya karena sepak bola merupakan olah raga simple namun tetap membutuhkan konsentrasi, skill dan kekuatan fisik yang sangat tinggi. Benar-benar olah raga yang pragmatis yet demanding! Bayangkan ribuan penonton bahkan jutaan pemirsa televisi bersorak ketika anda berhasil melakukan gol pada menit-menit penentuan. Bukankah itu menjadi sebuah mimpi semua orang?

Meskipun patut disayangkan baru tadi malam tim kesayangan saya, Belanda, harus kalah di perempat final melawan Russia dengan skor telak 3-1. Belanda yang langsung menggebrak di babak penyisihan dengan menempati posisi pertama Group Neraka yaitu Group C ternyata tidak menjamin mulusnya jalan menuju Juara Piala Eropa. Tetapi bagi saya justru disitulah menariknya sepak bola. Bola itu bundar dan track record maupun banyaknya pemain bintang tidak menjamin samasekali kalau tim tersebut bakal 100% menang. Justru ketajaman skill, kualitas team work dan konsentrasi ditambah faktor keberuntungan menjadi faktor yang paling signifikan dalam menentukan menang atau kalahnya suatu Tim.

Dalam lapangan hijau semuanya mungkin terjadi. Aksi individu yang spektakuler, tangis, selebrasi, solidaritas bahkan tragedi merupakan elemen-elemen yang menyatu dalam waktu 2 kali 45 menit. Bagi saya, sepak bola adalah perjuangan murni. Bukan kompetisi yang berorientasi pada hasil akhir. Ketika sebuah tim menyuguhkan permainan terbaiknya justru disitulah letak esensi dari sebuah perjuangan meskipun tim tersebut kalah secara terhormat. Terhormat karena kekalahan tersebut menjadi sebuah pelajaran. Apa pun hasilnya, saya dapat menikmatinya selama para atlitnya bermain secara totalitas.

Bagi saya, Sepakbola merupakan manifestasi komunikasi global, sebuah pemersatu dan pragmatisme yang brillian. Sayang sekali,memang, saya tidak memiliki bakat untuk bermain sepak bola. Andaikan saya dapat memutarbalikkan waktu . . .