h1

Over Time!

May 20, 2008

Bekerja di sebuah perusahaan konsultan Manajemen dan IT memiliki tantangan tersendiri. Meskipun saya baru bekerja di perusahaan ini sekitar setengah tahun, namun banyak ilmu dan pengalaman yang tidak saya dapat di bangku kuliah. Mengenai proses adaptasi tersebut saya pikir itu hanya masalah waktu. Dimana pun kita bekerja tentu saja membutuhkan proses adaptasi. Masalah kemudian muncul ketika kita harus mengubah mindset kita dari yang tadinya hanya tahu hura-hura ketika di bangku kuliah menuju fase yang lebih profesional dan tuntutan untuk berpikir secara analitis. Tentu saja jika kita ingin benar-benar berkembang di jenjang karir yang kita pilih. Banyak buku dan referensi untuk mengatasi masalah itu seperti contohnya bukunya Stephen R. Covey yang berjudul The 8th Habit.

Banyak teman yang mengeluh ketika memasuki dunia kerja. Kita dituntut untuk lebih disiplin, bisa mengorganize diri sendiri dan mampu menghadapi tekanan demi tekanan baik dari si Bos, dateline pekerjaan maupun target penjualan. Sayangnya tidak sedikit yang mampu beradaptasi dengan hal tersebut. Meskipun patut diakui, lingkungan tempat mereka bekerja pun tidak mendukung untuk memenuhi tuntutan-tuntutan tersebut. Mulai dari arogansi sang Bos, lingkungan sosial yang kurang cocok, fasilitas kantor yang tidak sufficient, sistem imbalan yang tidak memadai hingga politik kantor.

Faktor lainnya juga terdapat di diri pegawainya itu sendiri. Malas, merasa tekanan pekerjaan tidak sesuai dengan gaji dan tunjangan yang diperoleh hingga pemikiran mengenai gengsi dan harga diri yang diinjak-injak oleh Bos. Namun yang paling banyak dikeluhkan adalah mengenai tekanan pekerjaan hingga menguras fisik dan mental. Contohnya adalah lembur atau overtime work.

Menurut saya ini adalah anomali efektivitas dan efisiensi perusahaan di Indonesia. Memang betul beberapa orang yang memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan kondisi tersebut namun lebih banyak orang yang tidak mampu melakukannya.

Sebuah perusahaan memiliki visi dan misi tersendiri. Dia bekerja dalam sebuah sistem bisnis untuk mencari profit. Ini adalah sifat alamiah yang wajar dan tidak bisa ditawar-tawari kembali. Saya percaya hal ini pun berlaku bahkan bagi perusahaan-perusahaan non-profit seperti LSM atau NGOs. Business is Business.

Namun banyak korporasi di Indonesia tidak mampu menerapkan elemen efektivitas dan efisiensi secara memadai ke seluruh karyawannya. Dua faktor yang menyebabkan ini adalah karena keserakahan korporasi dan demi efisiensi pengeluaran sehingga korporasi tidak bersedia mengeluarkan uang lebih untuk menyewa tenaga kerja yang baru.

Korporasi juga tidak mungkin berspekulasi untuk menyewa tenaga kerja baru yang baru lulus. Meskipun mereka tahu mereka memiliki anggaran untuk melakukan pelatihan.Ini pun tidak terlepas dari ketidaktegasan regulasi pemerintah dalam mengontrol dan mengelola pajak penghasilan para eksekutif kelas kakap. Sifat konsumerisme berlebihan di Indonesia menyebabkan mereka berpikir lebih baik uang dialokasikan untuk membeli kemewahan dan berjalan-jalan ke luar negeri daripada mengembangkan kualitas SDM para pencari kerja baru. Tidak aneh pengangguran di Indonesia tahun 2007 telah mencapai sekitar 12 juta orang lebih.
Sebenarnya perusahaan tidak perlu menyuruh pegawai-pegawainya untuk lembur demi tercapainya profit yang besar. Justru hal itulah yang seharusnya dihindari perusahaan. Pekerjaan menumpuk dapat disiasati oleh perusahaan dengan cara menyewa tenaga kerja baru untuk mencegah terjadinya sistem lembur di pegawai. Sistem ini sudah dipraktekkan di negara-negara maju seperti di Australia dan New Zealand. Bahkan mereka membutuhkan tenaga kerja baru setiap tahunnya dari negara-negara tetangga karena faktor skill-shortage dan jumlah populasi yang sedikit. Bayangkan di benua sebesar Australia hanya dihuni sekitar 20.500.000 jiwa saja (data tahun 2007 dari http://www.abc.gov.au). Di Jawa sendiri jumlah populasi itu hanya setengahnya.

Memang betul, dengan menerapkan sistem tersebut maka konsekuensi logisnya adalah perusahaan harus mengeluarkan anggaran lebih untuk menyewa orang baru dan melakukan pelatihan. Secara jangka pendek mungkin praktek ini dapat merugikan perusahaan. Tetapi dalam jangka panjang profit dapat jauh melebihi perusahaan yang menerapkan sistem lembur. Tampaknya mindset seperti ini susah diterapkan di Masyarakat Indonesia karena tuntutan budaya serba Instant.

Pegawai juga manusia, secara fisik dan mental mereka memiliki keterbatasan sehingga sistem lembur justru mengurangi kemampuan total mereka dalam bekerja. Akhirnya bekerja menjadi malas-malasan dan setengah-setengah dalam menyelesaikan pekerjaan. Apalagi jika lembur tidak diikuti oleh sistem imbalan yang pantas. Pegawai menjadi merasa tidak dihargai. Hasil dan target perusahaan-meskipun tercapai-tidak akan maksimal. Pegawai menjadi merasa terbebani untuk melakukan pekerjaan berikutnya yang lebih berat. Kompetisi global menuntut mereka untuk bekerja secara totalitas tetapi juga diimbangi dengan efektivitas dan efisiensi tenaga dan pikiran. Hal ini sudah seharusnya menjadi kebijakan ideal bagi para decision-maker di sebuah Korporasi.

Bagaimanapun juga pegawai adalah manusia yang memiliki kelemahan dan harga diri. Bukan Superman! Hehehe…

5 comments

  1. Kembali mengangkat tema serius. Saya seorang marketing yang gak pernah kenal arti Overtime. Sucks.

    Hahah.

    Tema santainya kapan diangkat, Brur?


  2. Hahahaha….Ini ga serius kali Brur. Secara gw gitu loh…


  3. Tapi bahasanya terlalu serius ah. Lama-lama seriosa juga lu. Wkwk.


  4. Yaaahhh…Seriosa! mendingan Seurieus Band!hihihihi….


  5. makin cihuy dan maknyos nih tulisannya..,
    lanjutkan perjuanganmu kawan Arfin!



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: