Archive for April, 2008

h1

IBL dan Anti-Thesis Liberalisasi Olah Raga

April 4, 2008

basketball.jpgAda sebuah dunia yang sudah lama saya tinggalkan : Dunia Basket. Yup! Meskipun selalu gagal untuk menembus jenjang Divisi Utama karena memang sudah terlalu tua, dulunya saya tenggelam cukup lama di dunia ini.

Untuk porsi latihan basket yang keras dan disiplin yang dijadwalkan oleh pelatih saya di Bandung, saya tetap berusaha sekuat tenaga untuk mengikutinya secara serius dan konsisten. Rasanya seram juga mengingat-ingat kembali pengalaman mengikuti latihan-latihan tersebut.

Perjalanan karir basket saya terhenti sejak dirundung cedera berkali-kali. Mekipun saya sadar bahwa itu adalah resiko mutlak menjadi atlet namun cedera yang saya alami tampaknya tidak sepadan dengan hasil yang saya dapat baik dari segi karir masa depan maupun finansial.

Atlet di Indonesia pun jarang mendapat apresiasi positif dari pemerintah, media bahkan masyarakatnya sendiri karena miskin prestasi dan kecenderungan masyarakat kita yang pesimistis terhadap kemajuan bangsanya sendiri. Akhirnya saya berkeputusan untuk menggantung sepatu basket saya dan lebih berkonsentrasi pada pendidikan.

Namun saya tidak berhenti memperhatikan dunia olah raga basket di Indonesia. Sejak digulirnya Kompetisi tingkat nasional, Kobatama, sekitar akhir dekade 1990an hingga perubahan sistem dan nama menjadi Indonesian Basketball League (IBL) yang mulai dilaksanakan pada tahun 2003, dunia basket di Indonesia mengalami pasang surut dalam perkembangannya.

logoiblputih.jpg

Ketika pertama kali Kobatama digelar, kompetisi ini merupakan kompetisi basket nasional paling akbar di Indonesia. Mirip NBA di Amerika Serikat. Namun ketika itu masih di bawah arahan PB Perbasi (Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia).

Tahun 2003 kompetisi ini keluar dari kontrol PB Perbasi sehingga berubah nama menjadi IBL.Maksudnya untuk meraup untung sebesar-besarnya (swastanisasi). Mungkin mirip dengan teori Liberalized Market-nya Adam Smith dan John Bernard Keynes. Jadi olah raga basket disamaratakan dengan teori pasar yang dikontrol oleh konsep Invisible Hand dan seharusnya tidak dikontrol oleh pemerintah. Makin sangar kompetisi dan sumber daya, makin besar pula keuntungan yang didapat.

Dalam IBL tidak dikenal promosi-degradasi, karena liga ini memang mengacu ke liga profesional seperti NBA. Konsekuensinya, setiap klub peserta diwajibkan memiliki sarana, sistem, materi pemain, dan juga membayar franchise fee yang semacam penyertaan modal klub-klub terhadap pengelola IBL. Selain meningkatkan posisi tawar klub terhadap sponsor, adanya franchise fee dimaksudkan pula agar liga bisa meraup keuntungan.

s6301361xa8.jpg

Awalnya kompetisi IBL dilaksanakan secara meriah dan mewah. Korporasi yang didominasi oleh perusahaan Rokok dan Sabun tidak henti-hentinya berdatangan untuk mensponsori kompetisi ini. IBL nyaris sukses…NYARIS?!

Yup! Ternyata di balik kemewahan dan kemeriahan kompetisi bergengsi IBL ada sebuah blunder luar biasa yang tidak diantisipasi oleh para eksekutif IBL. Yaitu tidak adanya sistem Salary Cap seperti yang diimplementasikan di NBA. Maka yang diraih hanyalah keuntungan finansial jangka pendek.

Salary Cap merupakan sistem dimana sebuah klub diwajibkan memiliki batas anggaran belanja untuk membeli atlet. Hal ini dilakukan agar tidak ada klub yang dapat membeli atlet-atlet top secara berlebihan sehingga dapat mendominasi seluruh kompetisi. Klub-klub yang berlaga pun dapat berkompetisi secara adil dan balance. Semacam kebijakan proteksinya gitu deh.

Selain itu, ketegasan manajemen IBL dalam mengurus klub beserta atletnya pun dipertanyakan. Sebagai contoh, di NBA seorang atlet tidak dapat berpindah klub seenaknya tanpa ada izin dari manajer klubnya karena sudah terikat kontrak dan komitmen.

sumargo.jpgDi IBL justru kebalikannya, seorang atlet dapat berpindah klub seenak jidat asalkan klub tersebut memiliki bargaining position yang kuat (seperti secara finansial kuat sehingga rela membayar tinggi atlet tersebut atau klub tersebut berisi atlet-atlet top yang selalu juara).

Tidak adanya sistem salary cap diperparah dengan faktor manajerial yang buruk tersebut maka dapat ditebak bahwa dalam perjalanannya dari tahun ke tahun IBL selalu merugi secara finansial karena penonton hanya ingin menonton basket jika tim yang penuh bintang berlaga. Dan itu hanya ada satu atau dua tim saja. Sisanya dapat disebut sebagai pemain bawang.

sm-britama.jpg

Contohnya adalah Satria Muda Britama, Jakarta. Believe it or not, dalam satu tim tersebut terdapat 10 pemain nasional yang biasa berlaga di kompetisi-kompetisi Internasional seperti Sea Games. Wow! Now that only happen in Indonesia, Folks!

Dari tahun ke tahun, yang berhasil lolos ke final four hanya tim-tim “dia lagi, dia lagi!”. Kalau tidak SM Britama, Aspac Jakarta, Garuda Bandung atau Bhinekka Sritex Solo. Padahal tim yang berlaga di IBL seluruhnya ada sekitar 10 tim. Minimalis sekali yah?

Saya rindu masa-masa dimana ketika klub Aspac Jakarta yang ketika itu adalah tim terkuat di IBL dikalahkan oleh Bima Sakti Nicco Steel Malang. Bima Sakti ketika itu masih memiliki pemain kuncinya, Andrie Ekayana, sekarang justru dibeli oleh Aspac Jakarta. Atau CLS Surabaya yang mengalahkan SM Britama karena CLS ketika itu masih memiliki Rony Gunawan dan Agung Sunarko yang sekarang justru dibeli oleh SM Britama.

lolij.jpgBeruntung atlet basket senior asal Bali, I Made Sudiadyana atau Lolik masih bertahan di klubnya di Bhinneka Sritex Solo. Meskipun banyak klub-klub dari Jakarta yang ingin membelinya dengan harga selangit namun Lolik tidak ingin pindah dari klub yang telah membesarkan namanya itu. Semoga saja kesetiaannya pada perkembangan dunia olah raga Basket di Indonesia tidak luntur hanya demi uang dan fame yang biasanya ditawarkan oleh klub-klub kaya yang berdomisili di Jakarta. Salut!

Inilah anti-thesis dari sistem liberalisasi olah raga di IBL yang dilakukan tanpa adanya sebuah institusi yang dapat mengatur jalannya kompetisi tersebut. Alih-alih mendapat keuntungan maksimal, yang mereka dapat adalah kerugian total karena tidak didukung oleh regulasi yang ketat dalam mengatur sistem mereka sendiri. Cita-cita awal di level makro ternyata menjadi asimetris dengan kondisi di level mikro karena kerakusan para klub-klub bermodal besar.

Tampaknya para eksekutif dan atlet di IBL masih perlu banyak berbenah lagi demi perkembangan prestasi olah raga nasional. Jika tidak, mereka pun hanya tinggal menunggu waktu sampai bergabung bersama jutaan pengangguran terbuka di Indonesia.

Advertisements
h1

Parit 9 Seafood

April 3, 2008

02042008436.jpgSudah banyak restoran seafood berseliweran di Kota Bandung namun bagi saya Parit 9 Seafood yang terletak di jl. Anggrek (Antara Jl. Riau dengan Jl. Supratman) adalah restoran seafood yang paling cocok di lidah saya. Saya katakan cocok bukannya lezat karena istilah lezat adalah istilah yang subjektif dan menjadi sangat bias. Mau tidak mau, yang namanya cita rasa adalah masalah selera yang berarti relatif.

Restoran ini dapat dibilang salah satu restoran seafood yang paling terkenal di Bandung. Menu spesial mereka adalah Kepiting termos. Ya sesuai namanya kepiting yang sudah dimasak kemudian dimasukkan ke dalam termos untuk menahan panas dan rasanya agar tidak hilang.

Biasanya menu ini dipesan bagi orang-orang di luar kota yang ingin take-away masakan kepiting. Bahkan mereka menyediakan fasilitas delivery service ke Jabodetabek. Bumbu pilihannya pun bervariasi: Saus Singapore, Saus Padang dan Saus Tiram. Namun tampaknya yang paling banyak dipesan adalah Kepiting Saus Singapore dan Saus Padang.

Meskipun mereka menyediakan beraneka ragam makanan laut, biasanya jika saya ke restoran ini, yang selalu saya pesan adalah menu-menu andalannya seperti Udang goreng mentega, Kerapu steam hongkong, Ikan Bawal Bakar Kecap, kerang rebus, Cumi goreng tepung dan tentu Kepiting Saus Padang yang menjadi menu favorit saya.

02042008434.jpg

Yang membuat saya menyukai Kepiting Saus Padangnya adalah bumbunya yang luar biasa pedas dan menurut saya justru inilah saus padang yang sebenarnya. Berbeda dengan kebanyakan restoran seafood lainnya dimana saus padangnya justru terasa seperti saus jawa alias manis, Kepiting saus padang di Parit benar-benar Pedas, Kental dan sangat gurih di lidah. Mungkin karena memang saya menyukai makanan pedas juga jadi saus di sini benar-benar cocok dengan lidah saya.

Untuk menu-menu makanan laut lainnya pun harganya bervariasi dari Rp.20.000 hingga yang termahal Rp. 300.000 dan menurut saya ini merupakan harga yang reasonable bagi kota Bandung yang secara geografis jauh dari pesisir pantai.

Meskipun harus diakui freshness makanan laut mereka tidak sesegar jika kita makan di restoran seafood di Pangandaran atau di Jimbaran, Bali. Tetapi tampaknya racikan bumbu-bumbu rahasia mereka tampaknya dapat menutupi kekurangan itu.

Perlu dicatat bahwa restoran ini sangat dipenuhi pengunjung terutama pada hari-hari libur dan long weekend. Stock kepiting mereka pun biasanya habis terjual pada hari-hari tersebut meskipun mereka menyediakan stock yang cukup banyak setiap harinya.

Yup! Parit 9 Seafood memiliki motto “Pesta Makan Kepiting” dan sudah barang tentu yang menjadi menu andalannya adalah Kepiting yang dimasak dengan variasi bumbu-bumbunya yang lezat dan patut anda coba.

h1

Fenomena ‘Fitna’ dan Kebebasan Berekspresi

April 2, 2008

geert-wilders.jpgBaru-baru ini seorang anggota parlemen Kerajaan Belanda bernama Geert Wilders merilis film pendek paling kontroversial berjudul Fitna. Film yang dapat dikategorikan sebagai film terburuk tahun 2008 (itu juga kalau masih mau disebut film) menggambarkan Islam sebagai Agama yang hanya menekankan pada unsur kekerasan dan kebencian terhadap non-muslim.

Efek dominonya pun luar biasa: protes keras dan kecaman dari negara-negara yang mayoritas penduduknya kaum muslim di seluruh dunia menuntut dihentikannya peredaran film tersebut dari internet dan meminta sang sutradara dihukum.

Meskipun tidak sedikit yang melakukannya dengan berlebihan tetapi saya pikir ini adalah sebuah respons yang wajar karena isu yang diangkat adalah isu agama yang sangat sensitif juga bagi orang Barat. Sama seperti jika seseorang mempropagandakan kebencian terhadap satu ras atau etnis tertentu.

Iseng-iseng saya menontonnya lewat media YouTube. Film ini hanya berdurasi 10 menit. Tidak ada yang istimewa dari film ini. Penggarapannya pun terlihat sangat tidak profesional. Hanya mencomot beberapa bagian ayat-ayat dari Al-Quran secara seenak udel untuk mendukung argumentasinya bahwa Islam adalah agama terorisme dan mendukung kekerasan tanpa mempelajari keseluruhan isi Al-Quran secara holistik.

Ibarat membaca buku, alih-alih membaca keseluruhan buku cover to cover, yang dilakukan Wilders hanyalah membaca beberapa paragraf dari buku tersebut dan dengan terang-terangan memahami isi keseluruhan buku tersebut berikut ceritanya secara detail. Oalaaa….orang ini luar biasa naif atau luar biasa kurang ajar?

Sudahlah Bos! Tidaklah penting bagi siapa pun untuk menanggapi film ini secara berlebihan apalagi sampai membakar bendera Kerajaan Belanda karena kalaupun mau ditanggapi maka akan sangat sangat mudah bagi siapa pun untuk meng-counter attack argumentasi yang terdapat dalam film itu.

Tetapi yang menarik dari beredarnya film Fitna ini adalah bukanlah omong kosong mengenai benturan peradaban antara Islam melawan Barat seperti yang pernah dicetuskan oleh Samuel P. Huntington tetapi lebih kepada fenomena kebebasan berekspresi absolut yang akhir-akhir ini cenderung kebablasan tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain.

Tidak hanya di Indonesia tetapi juga dalam ukuran global. Celakanya fenomena ini dipertontonkan secara tidak bertanggung jawab dan terkadang demi sebuah idealisme sempit dan keuntungan finansial para pencetusnya. Media yang paling mudah digunakan tentu saja Internet.

Apakah itu sebenar-benarnya esensi dari sebuah kebebasan?

Seorang teman (yang dulunya adalah aktivis demokrasi) pernah mengirimkan sebuah quote yang dikutip dari filsuf Jerman, Sigmund Frued, yang intinya mengatakan bahwa kebanyakan orang takut akan kebebasan karena kebebasan menuntut pertanggungjawaban yang besar. Aha! Sounds like Spiderman’s famous quote isn’t it? “Great power comes great responsibility!”.

Betul! Saya setuju akan kutipan tersebut. Tetapi saya kemudian membalasnya juga dengan memberikan quote “Well, Freedom is not a license to chaos”. Sayangnya tidak semua filsafat dan teori sesuai dengan realita. Yup! Seperti fenomena ‘Fitna’ tersebut.

Tidak hanya ‘Fitna’ yang menyalahgunakan etika kebebasan berekspresi. Contoh lainnya mungkin dapat kita lihat pada aktivitas Ustadz Abu Bakar Baasyir yang dengan tenang menanamkan benih-benih kebencian terhadap umat non-muslim kepada anak-anak didiknya melalui khotbah-khotbahnya yang provokatif. Atau aksi anarkhis FPI yang dengan percaya diri merasa memiliki “sifat ketuhanan” untuk menghakimi orang yang berseberangan dengannya.

Konstruksi sosial macam apa ini? Apakah karena Manusia merupakan makhluk yang bebas memilih sehingga dapat dengan seenaknya melanggar norma dan aturan yang merupakan konsensus kolektif? Ataukah justru ketiadaan sebuah “institusi” yang powerful yang memiliki otoritas untuk mengatur? Ataukah memang Manusia adalah makhluk yang mudah ngelunjak?

Mungkin justru karena akhir-akhir ini banyak orang yang hanya menuntut hak atas kebebasan mutlak tetapi melupakan kewajiban mereka sebagai manusia atau warga negara. Hence, munculah individu-individu yang dengan seenaknya berbicara bukan dalam konteks dan koridor yang tepat (baca: pantas). Manusia memang makhluk yang unik, Yes?

Apa pun alasannya apakah itu demi sebuah kebebasan berekspresi, demokrasi, Hak Asasi Manusia, Agama, Rakyat bahkan demi Toutatis sekalipun (last one was quoted from Asterix and Obelix’s comic) seseorang tetap tidak memiliki hak untuk menghakimi orang lain benar atau salah. Kecuali tentu saja jika konteksnya sudah berbeda seperti profesi Hakim Agung, Hakim Mahkamah Konstitusi atau Hakim Garis misalnya.

Yah namanya juga manusia. Pasti selalu diperbudak oleh subjektivitas pribadi yang berlebihan.