h1

Mereka Bilang Aku Kafir

February 19, 2008

muhammad-idris.jpgAda buku menarik yang baru saja saya baca habis semalam suntuk. Judulnya “Mereka Bilang Aku Kafir” terbitan Hikmah Novel. Diilhami dari kisah nyata, novel ini bercerita mengenai pengalaman pahit seorang lelaki bernama Muhammad Idris selama menjadi anggota RII (Republik Islam Indonesia) KR9 hingga ia keluar dari aliran sesat yang dulunya Ia percayai sebagai satu-satunya tiket menuju surga. Sebuah pertentangan batin dalam fase kehidupannya yang Ia rekam dan deskripsikan dalam bentuk novel.

Ditutur melalui gaya bahasa yang sederhana dan mudah dicerna, fanatisme buta kepada organisasi ini ia mulai sekitar tahun 1999. Diawali dari pengajian biasa, berlanjut kepada diskusi agama hingga hanyut dalam ajaran sesat aliran RII. Sampai akhirnya, Idris mengabdi total demi kepentingan mereka. Sebuah komitmen yang Ia bersedia jalani demi terciptanya sebuah Negara yang berdasarkan Syariat Islam yang kaku di Indonesia dan demi sebuah tujuan akhir yaitu Surga.

Metode perekrutan yang seperti Multi Level Marketing (MLM) pun ia kerjakan demi mengejar target pemasaran. Tanpa komisi tentunya. Kewajiban memberikan upeti kepada organisasi dalam bentuk hibah, infak atau zakat kepada para pejabat RII pernah ia lakoni. Pengkafiran orang-orang di luar komunitasnya pernah ia percayai. Penyampaian dakwah yang bersifat rahasia bahkan dapat dikategorikan sebagai gerakan bawah tanah membuat organisasi ini sulit ditelusuri oleh aparat berwenang. Hingga ia menceritakan pengalamannya menjadi salah satu ustaz atau pengajar di pondok pesantren (ponpes) khusus bagi penganut aliran ini yaitu Ma’had Al-Jannah yang terletak tidak jauh dari perbatasan Jakarta-Sadang.

Pengalamannya menjadi ustaz di ponpes ini justru menjadi proses turning point dalam hidupnya untuk kembali ke jalan yang benar. Apa yang ia saksikan di pondok pesantren ini luar biasa menyakitkan hati. Secara fisik, kondisi ponpes Al-Jannah memang megah dan fasilitas di sana lebih mewah dari kebanyakan ponpes (bahkan sekolah swasta) di Indonesia. Dibangun dari dana-dana upeti (atau pemerasan), ponpes ini memiliki luar areal sekitar 2000 hektare dan memiliki jumlah santri sekitar 3000 orang dengan biaya masuk US$5000 (wowww! Bayangkan anda bisa beli berapa gorengan dengan uang segitu!!).

Namun keindahan fisiknya ternyata sangat kontras dengan kondisi internal di ponpes tersebut. Kemunafikan dan totalitarianisme yang dilakukan oleh para petinggi RII, pelanggaran akidah, instant slavery, eksklusivisme hingga feodalisme bergaya Arab adalah makanan sehari-hari yang ia dapat selama di ponpes Al-Jannah. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari ponpes tersebut secara diam-diam bersama istri dan anaknya dan memulai hidup baru di Jakarta. Ia sadar bahwa yang ia dapatkan selama bergabung dengan RII ini adalah sebuah hidayah palsu mengenai janji Highway to Heaven. Waktu 3 tahun terbuang sia-sia sebagai buah kenaifan dia selama ini.

Novel ini dapat dikatakan sebagai novel investigatif mengenai fenomena aliran sesat dan ekstrimisme yang saat itu masih kurang diwaspadai oleh masyarakat Indonesia. Meskipun alur waktu yang dikembangkan dalam novel ini cukup membingungkan, namun secara kontekstual novel ini berhasil memperingatkan kita mengenai bahaya gerakan Islam bawah tanah yang mengeksploitasi agama demi kepentingan segelintir orang. Juga mencari hikmah di balik pengalaman pahit Idris dan teman-temannya sesama korban aliran sesat. Ternyata cita-cita Islam yang universal tidak selamanya harus dipandang dari satu sisi tertentu saja. Islam sejatinya bukan monopoli siapa-siapa.

Terus terang, saya salut kepada sang penulis. Merilis novel ini merupakan tindakan yang berbahaya bagi penulisnya. Saya yakin, Muhammad Idris bukanlah satu-satunya korban aktivitas aliran sesat ini. Cerita mengenai teror yang ditargetkan kepada para eks anggota aliran ini sering terdengar. Belum lagi rumor bahwa aliran-aliran sejenis ini dibekingi dan dilindungi oleh pejabat negara (konon, mantan RI 2 adalah salah satunya). Namun Idris ternyata memiliki nyali yang besar untuk menceritakan pengalaman pahitnya ke publik dan berani membongkar kebusukan dan kemunafikan aliran sesat. Orang-orang seperti Idris inilah yang menurut saya pejuang Islam yang sesungguhnya.

Hal ini juga semakin mempertegas kenyataan bahwa idealisme mulia apa pun suatu institusi baik itu di organisasi agama, lembaga non-profit atau charity sekalipun, in the end, business is business.

Buku ini direkomendasikan bagi mereka yang ingin mengetahui kehidupan penganut aliran sesat agar tidak ada lagi yang terperosok ke lubang yang sama hanya karena tidak ingin divonis kafir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: