h1

Pergeseran Paradigma Musik Underground

February 18, 2008

14022008386.jpgTragedi konser musik underground yang terjadi di Gedung AACC (dulu bioskop Majestic) di Bandung hari sabtu lalu merupakan salah satu tragedi konser terburuk yang pernah terjadi di Indonesia. Bayangkan saja, 11 orang tewas dalam satu malam karena berdesak-desakkan. Selain menyibukkan aparat keamanan, masyarakat sekitar hingga sukses memaksa petugas forensik di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) bergadang semalam suntuk untuk mengidentifikasi jenazah, keluarga korban pun sungguh tidak siap kehilangan anggota keluarganya dalam waktu semalam. Apalagi semua korban yang meninggal bahkan luka hanyalah anak-anak SMU yang masih naif bahkan tercatat salah satu satu korban tewas adalah perempuan.

Sepulang dari kantor kemarin saya menyempatkan diri untuk mampir sebentar ke TKP di jl. Braga. Gedung AACC ini secara fisik terlihat sangat kecil dan selintas memang tidak tampak layaknya gedung konser (mungkin lebih cocok dijadikan restoran). Terletak di sebelah museum Konferensi Asia Afrika (KAA), gedung ini pada zaman Belanda biasanya digunakan untuk pementasan muziek kamer, seperti recital piano atau biola.

14022008391.jpg
Menurut artikel yang saya baca dari Guru Besar LB-ITB, Prof. Yusuf Affendi (PR,14/2), arsitektur gedung AACC ini sengaja dibuat sempit dan kapasitas idealnya hanya diperuntukkan bagi 200 pengunjung saja. Pintu keluar hanya dua pintu kiri dan kanan gedung dan pintu entrance di bagian depan. Ventilasi bangunan tetap dipertahankan seperti aslinya hingga saat ini. Alasannya tentu saja supaya kualitas akustiknya tetap terpelihara bagus. Nah bayangkan jika anda berada di ruangan sesumpek dan sesempit itu dijejali pengunjung hingga 1000 orang dengan iringan musik metal dan goyangan full-body-contact, gepeng gepeng dah lu!

Terlepas dari pihak siapa yang salah di malam itu (panpel atau aparat), musibah tersebut sungguh sangat disayangkan. Meskipun musibah ini bukan yang pertama kali dan tidak dimonopoli oleh konser musik Underground saja. Apa pun alasannya, satu nyawa sangat mahal harganya bagi sebuah konser musik (apa pun jenisnya). Inilah potret buram dari kebebasan berekspresi berlebihan yang justru menjadi sebuah ekses yang kontraproduktif di masyarakat kita. Kegemaran masyarakat kita akan musik keras yang memiliki tendensi kuat ke arah kekerasan adalah refleksi dari masyarakat dan bangsa kita yang sedang stress dan frustrasi karena himpitan ekonomi. Ditambah dengan solidaritas sempit maka lengkaplah sudah ciri masyarakat kita yang sakit.

Perkembangan dan karakter musik Underground

14022008387.jpgSebenarnya jika dirunut melalui perjalanan musik urban underground, musik asal Inggris ini sudah diadopsi cukup lama di Indonesia sebagai sebuah mutasi sosial. Meskipun tidak ada catatan resmi, generasi awal musik ini dapat dilihat perkembangannya di era ‘70-an yang terinspirasi oleh pergolakan sosial, politik dan tata ekonomi global. Perkembangan musik underground pun merevolusi orientasinya dari sekedar isme (paham) dalam kesenian musik postmodern menjadi gerakan (movement) nyata yang mem-propagandakan idealisme anti-kemapanan, anarkisme, pacifisme dan wacana pemberontakan menghadapi ketimpangan utara-selatan (north-south gap) atau neo-liberalisme hingga cita-cita negara tanpa kelas sosial dan ekonomi.

Pembentukan komunitas atau kaderisasi sebagai media untuk aktualisasi diri pun dilancarkan untuk memperkuat eksistensi musik ini. Meskipun di panggung lirik-lirik musik underground hanya terdengar seperti teriakan keras “Oooo…”, “Aaaa…” atau sedikit “Oyyy” atau “Blaaahhh…” yang nyaris tidak bisa dicerna maksudnya apa namun sejarah membuktikan proses kaderisasi justru semakin diminati karena idealismenya membentuk suatu imagined community yang mungkin hampir dapat disamaratakan dengan Imagined Community karyanya filsuf politik terkenal, Bennedict Anderson.

Saya pun masih ingat ketika di SMU pas jenis musik ini sedang happening, teman-teman saya mulai hobi main band dan tentunya musik yang mereka mainkan adalah musik underground sebagai ekspresi idealismenya. Menurut mereka musik ini cocok dengan semangat remaja mereka yang masih rebel dan idealis (atau naif?). “Kaga dianggep gaul deh kalo ga suka musik ini!” menurut salah satu teman SMU saya.

Karakteristik utama dari musik underground yang lain adalah konsisten dengan prinsip anti-komersialisme dan anti-borjuis. Berangkat dari jalur indie, musik ini dikenal orang dari mulut ke mulut tanpa proses publikasi apalagi marketing yang biasanya dilakukan major label untuk masuk ke pasar. Apa yang mereka idamkan biasanya adalah sebuah tatanan kesetaraan struktural bagi seluruh lapisan masyarakat. Mereka membenci dominasi ekonomi yang hanya dinikmati segelintir orang saja.

Anarkisme melalui jalur kekerasan adalah manifestasi perjuangan mereka sebagai anti-thesis keteraturan sosial yang cenderung dimanipulasi oleh kepentingan politik tertentu. Setidaknya inilah yang ingin mereka katakan ke dunia: Justice for all! (Koq jadinya kayak album Metallica?).

Amatir

Terus terang, menurut saya musibah yang terjadi di gedung AACC itu sebenarnya sudah keluar dari jalur idealisme-idealisme di atas. Meskipun musik underground sudah mengalami perkembangan berarti tetapi tampaknya proses kaderisasi masih berjalan di tempat. Hal ini terlihat dari amatirnya panpel ketika acara di malam yang naas itu berlangsung.

Band Beside yang hadir untuk launching album baru malam itu mengaku tidak mengira penonton bakal sebanyak itu. Namun ketidaksigapan panitia dalam melakukan persiapan organisasi, keamanan, masalah teknis hingga ticketing menambah runyam acara yang seharusnya berjalan normal. Hal ini terungkap dari sebuah wawancara dengan seorang panitia malam itu di TV yang mengatakan bahwa kebanyakan dari panitia adalah cabutan dan seluruh personil hanya berjumlah 30 orang. Waktu persiapan acara ini pun terbilang ajaib: 3 hari aja mennnn!!! Jumlah ticket pun tidak dibatasi. Dengan harga ticket yang hanya Rp. 10.000 ditambah konser berlangsung pada tanggal muda, tentu semua kalangan bisa membelinya. Inilah yang tidak diantisipasi oleh panpel.

14022008389.jpgInsiden pembagian alkohol oleh panitia di tengah-tengah pertunjukkan adalah sebuah tindakan yang konyol kalau tidak mau dibilang tolol. Ketika ditanya, panpel berkilah kalau sebotol bir saja tidak akan memabukkan jika diminum oleh seorang penonton. Oalaaa….tampaknya mereka tidak tahu kalau small percentage of alcohol dapat sangat merusak sel-sel otak jika distimuli oleh faktor-faktor berikut ini: perut kosong, mendengar musik sangat keras, berada di dalam ruangan yang sumpek, gelap dengan penerangan seadanya dan dalam keadaan lelah setelah berjingkrak-jingkrak ga jelas. Furthermore, bad influence of alcohol akan sangat terasa efeknya bagi orang-orang yang justru tidak memiliki kebiasaan minum minuman keras terutama perempuan. Ga percaya? Coba aja sendiri Bos!

Pergeseran Paradigma

Ada lagi fakta yang membuat musik underground ini menarik. Menurut artikel yang ditulis oleh Tarlen Handayani (PR, 14/2), musik underground pasca tumbangnya orde baru mengalami pergeseran paradigma yang cukup signifikan. Berawal dari identifikasi komunal para “undergrounders” di tahun 80an, kini komunitas tersebut cenderung lebih individualistik. Ironisnya, idealisme komunal dan anti-kemapanan kini bergeser menjadi hubungan mutualisme dan negosiasi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Indikatornya terlihat dari banyaknya band indie yang masuk ke jalur komersil, booming usaha distro dan label yang mengubah wajah sangar underground menjadi potensi bisnis yang menggiurkan. Saya saja sekarang sudah tidak sanggup membeli produk-produk distro di Bandung karena terlalu mahal. Namun musibah minggu kemarin semakin mempertegas indikasi pergeseran paradigma underground: pengejaran profit semata oleh panitia melalui penjualan ticket yang tidak dibatasi hingga masuknya peran sponsorship untuk mendukung konser tersebut.

Meskipun tidak terlalu mengubah karakteristik bermusik mereka di panggung, namun pergeseran paradigma ini sebenarnya cukup disayangkan oleh sebagian pihak. Terutama para undergrounders konservatif yang masih menginginkan semangat rebel, anti-kemapanan dan komunalisme tetap dipertahankan di komunitas ini. Tapi apa daya, alih-alih memberikan teladan bagi generasi berikutnya, ternyata banyak dari mereka pun telah keluar dari jalur underground yang sesungguhnya karena kebutuhan finansial. Inilah yang menjadi paradoks bagi generasi underground yang baru.

Hal ini kian mempertegas kita bahwa prinsip apa pun yang kita anut (atau kita kultuskan) sebagai manusia biasa yah tetap saja orang juga butuh makan, cing! Pemenuhan kebutuhan ekonomi adalah hal mutlak yang harus dipenuhi oleh manusia untuk bertahan hidup (survival). Melihat paradigma underground yang sudah bergeser tadi, suka atau tidak suka, sekarang hanya tinggal menunggu waktu saja hingga saatnya cita-cita gerakan underground tadi berubah dari semangat anti-kemapanan menjadi semangat konsumerisme.

Terobosan Konstruktif

Tetapi menurut saya pergeseran paradigma ini justru menandai awal terobosan baru gerakan underground yang lebih konstruktif. Tidak selalu bercokol pada rigidisme dogma kuno yang justru mengekang komunitas ini menjadi munafik dan tidak berkembang. Bagi saya, innovation is a must. Justru mereka inilah pejuang cita-cita underground yang sesungguhnya dan patut diakomodasi kepentingannya oleh semua pihak. Setidaknya dengan pergeseran paradima ini, proses kaderisasi komunitas underground pun menjadi lebih profesional dan dapat menjamin musibah seperti di gedung AACC malam minggu kemarin tidak perlu terulang kembali.

Nah bagi mereka yang masih memuja cita-cita lama underground ada baiknya anda mulai mengikuti pergeseran tersebut. Bukan hak saya untuk menggurui memang (seperti yang biasa kalian lakukan) tetapi idealisme anti-kemapanan tidak perlu selalu diekspresikan secara berlebihan apalagi hanya fokus pada satu media kesenian musik cadas saja. Tidak ada gunanya perjuangan yang hanya berjalan di tempat saja.

Kenyataan bahwa musik underground adalah produk impor tidak dapat dipungkiri lagi. Namun atas nama gengsi yah budaya sendiri terkadang tidak diakui sampai negara lain mengklaim-nya. Menurut saya kegiatan melestarikan produk kebudayaan asli daerah yang mulai dilupakan seperti Angklung atau Reog Ponorogo pada generasi-generasi muda saat ini justru jauh lebih mulia dan lebih merepresentasikan perjuangan anti-kemapanan sejati ketimbang meneruskan cita-cita sempit para “undergrounders” konservatif yang kontraproduktif. Nah sudah sejauh mana anda mempertahankan dan menginovasi kebudayaan asli anda sendiri ketimbang budaya impor? Hehehe….

14022008384.jpg

(Turut berduka cita juga bagi para korban baik yang luka maupun yang meninggal pada musibah tersebut. Semoga arwah mereka bisa diterima di sisi Allah SWT. Semoga musibah ini menjadi bahan refleksi diri bagi kita semua. Amin!)

12 comments

  1. kayaknya, dalam hal ini, anarkisme, atau hal yang serupa, cuma sekedar justifikasi untuk dapat berbuat seenaknya aja. nggak yakin deh panitia atau peserta yang dateng ngerti filsafat. 🙂


  2. Ga juga sih. Sebenarnya kalo masalah filsafat musik underground sendiri mereka paham betul. Meskipun ga secara totalitas yah. Kalo kita observasi lebih dalam sebenarnya basic filosofi itu dimasukkan pada tahap proses kaderisasi seperti yang gw jelaskan tadi. Bahkan tidak sedikit dari mereka yg memahami betul teori2 Sigmund Freud misalnya (bahkan gw aja belum pernah baca karyanya Sigmund Freud). Mereka ini sebenarnya pintar dan punya potensi. Lirik musik mereka pun secara tidak langsung merupakan indoktrinasi filsafat atau idealisme yg mereka cita-citakan kepada pangsa pasarnya yg kebanyakan remaja yg masih mencari jati diri. Kenapa gw bisa tau? Karena gw tahu persis ketika teman2 seangkatan gw termasuk adik gw sendiri terjun ke dunia underground itu. Yah tapi emang waktu itu mereka terjun cuman sekedar hobi doang sih. Ga lebih.
    Tapi itu setidaknya menjelaskan dasar filosofi musik underground hingga mereka nekat berbuat anarkis. cape dehhh…!


  3. Wah tulisan loe makin panjang aje Bang, jadi pusing ngebacanya hehehe. Tampak lagi semangat nulis yah….


  4. Kita juga perlu lebih banyak orang seperti Bpk Masrion (salah satu orangtua yang anaknya menjadi korban) yang berani bersuara dengan lantang dan berbeda tentang musik underground.


  5. Wah notice juga lu yah. Iya nih. gw jg ngerasa koq.nature gw ternyata cerewet yah?hahahahahaa….

    Ternyata eh ternyata menulis itu bisa menjadi pekerjaan yg mengasyikkan! Nulis nulis nulis hasil pemikiran terus eh ga kerasa dah panjang.

    Kan katanya Socrates juga Cogito Ergo Sum. Aku berpikir maka aku ada.Hehehe…

    Tapi lain kali diefisensikan deh. Kalo dah nulis kadang2 gw juga males ngebacanya (loh???).

    Bro! Kenapa kalo ngasi comment di blog lu sekarang mesti login dulu? Man!


  6. Ah, apa pula ini? Saat gue udah ninggalin yg model beginian, nah elu malah concern? Wkwkw.

    Sekarang gue suka U2. I love Bono.


  7. Please ignore the previous entry (Bastard) which is a real bastard who can’t even tie his own shoes. You f*cking bastard!gragragragraaaa….

    U2 sucks! I hate Bono!


  8. Flip-flop.

    Saat si Hani mulai menyanyikan kasidah, Aa-nya yang terkenal santun malah peduli dengan tragedi Metal Maot.

    Weird. Mudah-mudahan elu semakin menemukan arti hidup selepas vacation di Bali bareng Yoyo. Ya, bareng Yoyo. One way system. Anal. Wkwkw.

    Becanda, Pin. Gimana juga kan elu masih sodara gue. Hehehe.


  9. Aduh tragedi deh punya sodara kayak elu Gal! Sumpeh deh. Pas lagi lu nulisnya di entry tragedi Metal Maot ini. Jadi terinspirasi kalo ternyata tragedi itu ga selamanya terjadi di panggung death metal.Gyagyagygagya….
    Tragedi metal maut di atas hanyalah puncak dari gunung es bung.hanyalah puncak….gluk gluk gluk


  10. Kata siapa? Udah beberapa tahun terakhir Jakarta selalu aman dari yg model begituan.

    Panitianya aja yg geblek. Mau untung gede doang. Polisi yg ngeliyat juga diam aja. Gak punya sense o’ crisis. Taee.

    Dan, kenapa pula gak diadain di Lapangan Bola Unpad Jatinenjer? Gue jamin, gak akan ada tragedi kayak begitu.


  11. Lengang..


  12. tulisan bagus… saya suka!!

    pembahasan tentang musik underground memang ga ada habisnya. masing-masing individu punya pendapat sendiri-sendiri. itu bagus and positif, so, kita bisa saling diskusi and sharing serta tambah wawasan…^_^v

    gue suka dengan Musik Underground dari angkatan 90an; and pada jamannya, mereka (baca; Musik Underground) bergaung kerasnya; gue tinggal di Jakarta. Gue juga suka nonton live concert (tentunya musik-musik underground); seperti di Univ. Jayabaya “Gerilya Musik Underground”; Kampus ABA-ABI “Total Noise”, “Music Corner”; Univ. GUnadarma; POster Cafe; Hanggar (dulu blm jadi tempat bilyard; tempat Launching nya album RUMAH SAKIT); Guinea Cafe, Cikini; Parkit Cafe, Sabang; Nirvana Cafe (gimana kabarnya sekarang,masih?), Mampang;dan lain-lain.

    emang bener sih, mereka (yang sekarang) sudah bergeser menjadi kebutuhan akan ekonomi hidup atau hanya sekedar ikut-ikutan pengen terkenal di kalangan mereka atau apa..?? tapi (menurut gue) itu gpp, coz tetap pada jalur positif khan? and gue juga setuju banget terhadap mempromosikan musik / alat-alat kebudayaan daerah kita (baca; Indonesia). atau ngga, kolaborasi musik aja antara musik underground dengan membawa alat-alat musik daerah kita.

    dan saya setuju juga, kalau panitia yg ngadain live konsernya Beside itu lah yg stupid. polisi nya juga fucked up!!

    akhir-akhir ini gue juga sedang browsing-browsing mencari berita-berita tentang musik-musik underground jaman dulu. intinya, gue pengen nostalgia juga seh terhadap band-band underground dulu. mereka pada kemana yaks?? sampe sekarang pun aliran musik kesukaan gue masih underground poenya..^_^v
    yahh .. masih yang bergenre … ROCK!!!!



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: