h1

CJ7

February 12, 2008

 

 

cj7.jpgRanah film internasional di awal tahun 2008 ini dimulai dengan dirilisnya film terbaru produksi Stephen Chow’s movie yang berjudul CJ7. Setelah sukses dengan dua film action komedi sebelumnya yaitu Shaolin Soccer dan Kungfu Hustle yang sekaligus menyiratkan cita-cita Chow untuk melestarikan salah satu kesenian bela diri tradisional China dengan cara memasukkannya ke dalam bingkai yang lebih modern, kini Stephen Chow bereksperimen dengan tema yang sedikit berbeda yaitu fiksi komedi. Meskipun tidak menganulir elemen-elemen slapstick hiperbolis ala Stephen Chow, keseluruhan cerita CJ7 menyuguhkan alur dan substansi yang lebih inovatif dari dua film sebelumnya.

Bercerita mengenai sebuah keluarga miskin yang harus bertahan hidup di kerasnya sebuah kota metropolitan di China. Ti (Stephen Chow) yang hanya bekerja sebagai buruh bangunan harus menghidupi anak semata wayangnya yang bernama Dicky (Xu Jiao) untuk memenuhi kebutuhan pendidikannya. Menarik untuk disimak bahwa dalam CJ7, Stephen Chow dengan sungguh-sungguh memperlihatkan jurang yang sangat besar antara si kaya dengan si miskin di negara yang konon ekonominya sedang booming di dunia. Hal ini terlihat dari kondisi Dicky di bandingkan dengan teman-teman sekelasnya yang bersekolah di salah satu sekolah bergengsi di kota tersebut.

Kejutan kemudian muncul ketika isu penampakan UFO muncul di kota tersebut. Secara tidak sengaja Chow yang selalu memungut sampah untuk dihadiahkan ke anaknya sebagai mainan menemukan sebuah benda aneh berbentuk bola hijau yang elastis. Dicky menemukan bahwa benda aneh tersebut adalah seekor alien imut yang dapat dipelihara layaknya seekor anjing. Alien tersebut kemudian dinamakan CJ7 (angka 7 di sini konon mengacu pada program pesawat luar angkasa berawak yang sedang dijalankan oleh China, Shenzou 7, yang akan diluncurkan pada bulan September 2008). Petualangan kocak dan seru pun berlanjut ketika Chow dan Dicky menemukan bahwa alien tersebut telah masuk menjadi anggota keluarganya. Film ini secara cerdik bertutur kisah dorongan untuk bertahan hidup meskipun dalam kondisi yang mengenaskan, pembelajaran nilai kekeluargaan sejati dan tentunya the things that money can’t buy.

Film yang berdurasi 100 menit ini memiliki kekuatan yang luar biasa dalam memainkan emosi para penontonnya. Ketika para penonton tertawa terbahak-bahak dalam suatu adegan, tiba-tiba penonton dapat tenggelam sedih oleh acting para karakternya. Saya tidak akan menjelaskan adegan apa yang dimaksud karena lebih baik anda menontonnya sendiri. Maksudnya biar ga dicap spoiler alert gituh…Hehehe…

Berbeda dari dua film sebelumnya, karakter Stephen Chow kali ini tidak memainkan peran utama yang selalu bersifat from zero to hero. Dari keseluruhan film mungkin doi hanya muncul 40%. Sisanya, mayoritas acting yang luar biasa dimainkan oleh pemeran Dicky yang berperan sebagai anak buruh bangunan yang merupakan korban ketimpangan struktural di sekolahnya.

Elemen komedi slapstick hiperbolis selalu menjadi ciri utama film-film Chow termasuk di film ini. Memang betul kebanyakan orang tidak menyukai komedi slapstick karena lelucon yang ditampilkan sangat tidak realistis. Bagi saya, selama slapstick itu orisinil, dapat dimengerti dan dipadu dengan spesial efek yang luar biasa maka hasilnya pun menjadi fantastis: slapstick kocak yang dapat mengocok perut anda hingga anda terjatuh dari kursi bioskop anda. Contoh konkritnya mungkin bisa kita lihat di film Kungfu Hustle di bagian melempar pisau yang salah sasaran dan digigit ular kobra di bibir. Hehehe…

Beberapa parodi film-film barat pun sedikit banyak telah memberi kekuatan tersendiri bagi film ini. Namun spesial efek yang disuguhkan memang tidak sedahsyat dibandingkan dengan Kungfu Hustle. Tetapi secara substansial hal itu tidak mengurangi kualitas cerita karena tampaknya Chow ingin membuat sesuatu yang baru di film ini yaitu dari sisi emosional cerita yang berpengaruh signifikan terhadap naik-turunnya emosi para penontonnya. Bisa dibilang alur dan substansi keseluruhan cerita film Stephen Chow kali ini sedikit lebih serius tetapi sama sekali tidak kehilangan sentuhan komedi yang menjadi ciri khasnya. Inilah letak kekuatan utama dari film CJ7.

Sudah lama saya tidak menonton film berkualitas seperti. Sungguh menghibur! Hanya satu kata yang dapat saya gambarkan dari mahakarya Stephen Chow yang pernah satu perguruan wushu dengan Jet Li ini: JENIUS!

(Kapan yah industri perfilman Indonesia dapat membuat film seperti ini? Huhuhu…)

3 comments

  1. Wahhh jadi penarannnn pengin ikutan nontonnnnnnnnnn


  2. Nonton deh. ga bakalan nyesel ngeluarin duit…


  3. woooooooooooooooooow…..

    film yang sangat keren,, d suatu saat saya tertawa terbahak-bahak tapi d suatu saat saya mengis.. sedih banget ketika ayahnya meninggal,, bayangkan saja,, seorang anak yang dari kecil tinggal bersama ayahnya harus d tinggal pergi sang ayah yang selama ini menjadi pengganti ibunya. gak bakalan ada yang bisa ngegantiin ayahnya itu. untung aja ada si CJ7 yang berhasil ngehidupin ayahnya lagi. gak masuk akal sih tapi syukurlah dia bisa ketemu ayahnya lagi.



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: