Archive for February, 2008

h1

Mereka Bilang Aku Kafir

February 19, 2008

muhammad-idris.jpgAda buku menarik yang baru saja saya baca habis semalam suntuk. Judulnya “Mereka Bilang Aku Kafir” terbitan Hikmah Novel. Diilhami dari kisah nyata, novel ini bercerita mengenai pengalaman pahit seorang lelaki bernama Muhammad Idris selama menjadi anggota RII (Republik Islam Indonesia) KR9 hingga ia keluar dari aliran sesat yang dulunya Ia percayai sebagai satu-satunya tiket menuju surga. Sebuah pertentangan batin dalam fase kehidupannya yang Ia rekam dan deskripsikan dalam bentuk novel.

Ditutur melalui gaya bahasa yang sederhana dan mudah dicerna, fanatisme buta kepada organisasi ini ia mulai sekitar tahun 1999. Diawali dari pengajian biasa, berlanjut kepada diskusi agama hingga hanyut dalam ajaran sesat aliran RII. Sampai akhirnya, Idris mengabdi total demi kepentingan mereka. Sebuah komitmen yang Ia bersedia jalani demi terciptanya sebuah Negara yang berdasarkan Syariat Islam yang kaku di Indonesia dan demi sebuah tujuan akhir yaitu Surga.

Metode perekrutan yang seperti Multi Level Marketing (MLM) pun ia kerjakan demi mengejar target pemasaran. Tanpa komisi tentunya. Kewajiban memberikan upeti kepada organisasi dalam bentuk hibah, infak atau zakat kepada para pejabat RII pernah ia lakoni. Pengkafiran orang-orang di luar komunitasnya pernah ia percayai. Penyampaian dakwah yang bersifat rahasia bahkan dapat dikategorikan sebagai gerakan bawah tanah membuat organisasi ini sulit ditelusuri oleh aparat berwenang. Hingga ia menceritakan pengalamannya menjadi salah satu ustaz atau pengajar di pondok pesantren (ponpes) khusus bagi penganut aliran ini yaitu Ma’had Al-Jannah yang terletak tidak jauh dari perbatasan Jakarta-Sadang.

Pengalamannya menjadi ustaz di ponpes ini justru menjadi proses turning point dalam hidupnya untuk kembali ke jalan yang benar. Apa yang ia saksikan di pondok pesantren ini luar biasa menyakitkan hati. Secara fisik, kondisi ponpes Al-Jannah memang megah dan fasilitas di sana lebih mewah dari kebanyakan ponpes (bahkan sekolah swasta) di Indonesia. Dibangun dari dana-dana upeti (atau pemerasan), ponpes ini memiliki luar areal sekitar 2000 hektare dan memiliki jumlah santri sekitar 3000 orang dengan biaya masuk US$5000 (wowww! Bayangkan anda bisa beli berapa gorengan dengan uang segitu!!).

Namun keindahan fisiknya ternyata sangat kontras dengan kondisi internal di ponpes tersebut. Kemunafikan dan totalitarianisme yang dilakukan oleh para petinggi RII, pelanggaran akidah, instant slavery, eksklusivisme hingga feodalisme bergaya Arab adalah makanan sehari-hari yang ia dapat selama di ponpes Al-Jannah. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari ponpes tersebut secara diam-diam bersama istri dan anaknya dan memulai hidup baru di Jakarta. Ia sadar bahwa yang ia dapatkan selama bergabung dengan RII ini adalah sebuah hidayah palsu mengenai janji Highway to Heaven. Waktu 3 tahun terbuang sia-sia sebagai buah kenaifan dia selama ini.

Novel ini dapat dikatakan sebagai novel investigatif mengenai fenomena aliran sesat dan ekstrimisme yang saat itu masih kurang diwaspadai oleh masyarakat Indonesia. Meskipun alur waktu yang dikembangkan dalam novel ini cukup membingungkan, namun secara kontekstual novel ini berhasil memperingatkan kita mengenai bahaya gerakan Islam bawah tanah yang mengeksploitasi agama demi kepentingan segelintir orang. Juga mencari hikmah di balik pengalaman pahit Idris dan teman-temannya sesama korban aliran sesat. Ternyata cita-cita Islam yang universal tidak selamanya harus dipandang dari satu sisi tertentu saja. Islam sejatinya bukan monopoli siapa-siapa.

Terus terang, saya salut kepada sang penulis. Merilis novel ini merupakan tindakan yang berbahaya bagi penulisnya. Saya yakin, Muhammad Idris bukanlah satu-satunya korban aktivitas aliran sesat ini. Cerita mengenai teror yang ditargetkan kepada para eks anggota aliran ini sering terdengar. Belum lagi rumor bahwa aliran-aliran sejenis ini dibekingi dan dilindungi oleh pejabat negara (konon, mantan RI 2 adalah salah satunya). Namun Idris ternyata memiliki nyali yang besar untuk menceritakan pengalaman pahitnya ke publik dan berani membongkar kebusukan dan kemunafikan aliran sesat. Orang-orang seperti Idris inilah yang menurut saya pejuang Islam yang sesungguhnya.

Hal ini juga semakin mempertegas kenyataan bahwa idealisme mulia apa pun suatu institusi baik itu di organisasi agama, lembaga non-profit atau charity sekalipun, in the end, business is business.

Buku ini direkomendasikan bagi mereka yang ingin mengetahui kehidupan penganut aliran sesat agar tidak ada lagi yang terperosok ke lubang yang sama hanya karena tidak ingin divonis kafir.

Advertisements
h1

Pergeseran Paradigma Musik Underground

February 18, 2008

14022008386.jpgTragedi konser musik underground yang terjadi di Gedung AACC (dulu bioskop Majestic) di Bandung hari sabtu lalu merupakan salah satu tragedi konser terburuk yang pernah terjadi di Indonesia. Bayangkan saja, 11 orang tewas dalam satu malam karena berdesak-desakkan. Selain menyibukkan aparat keamanan, masyarakat sekitar hingga sukses memaksa petugas forensik di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) bergadang semalam suntuk untuk mengidentifikasi jenazah, keluarga korban pun sungguh tidak siap kehilangan anggota keluarganya dalam waktu semalam. Apalagi semua korban yang meninggal bahkan luka hanyalah anak-anak SMU yang masih naif bahkan tercatat salah satu satu korban tewas adalah perempuan.

Sepulang dari kantor kemarin saya menyempatkan diri untuk mampir sebentar ke TKP di jl. Braga. Gedung AACC ini secara fisik terlihat sangat kecil dan selintas memang tidak tampak layaknya gedung konser (mungkin lebih cocok dijadikan restoran). Terletak di sebelah museum Konferensi Asia Afrika (KAA), gedung ini pada zaman Belanda biasanya digunakan untuk pementasan muziek kamer, seperti recital piano atau biola.

14022008391.jpg
Menurut artikel yang saya baca dari Guru Besar LB-ITB, Prof. Yusuf Affendi (PR,14/2), arsitektur gedung AACC ini sengaja dibuat sempit dan kapasitas idealnya hanya diperuntukkan bagi 200 pengunjung saja. Pintu keluar hanya dua pintu kiri dan kanan gedung dan pintu entrance di bagian depan. Ventilasi bangunan tetap dipertahankan seperti aslinya hingga saat ini. Alasannya tentu saja supaya kualitas akustiknya tetap terpelihara bagus. Nah bayangkan jika anda berada di ruangan sesumpek dan sesempit itu dijejali pengunjung hingga 1000 orang dengan iringan musik metal dan goyangan full-body-contact, gepeng gepeng dah lu!

Terlepas dari pihak siapa yang salah di malam itu (panpel atau aparat), musibah tersebut sungguh sangat disayangkan. Meskipun musibah ini bukan yang pertama kali dan tidak dimonopoli oleh konser musik Underground saja. Apa pun alasannya, satu nyawa sangat mahal harganya bagi sebuah konser musik (apa pun jenisnya). Inilah potret buram dari kebebasan berekspresi berlebihan yang justru menjadi sebuah ekses yang kontraproduktif di masyarakat kita. Kegemaran masyarakat kita akan musik keras yang memiliki tendensi kuat ke arah kekerasan adalah refleksi dari masyarakat dan bangsa kita yang sedang stress dan frustrasi karena himpitan ekonomi. Ditambah dengan solidaritas sempit maka lengkaplah sudah ciri masyarakat kita yang sakit.

Perkembangan dan karakter musik Underground

14022008387.jpgSebenarnya jika dirunut melalui perjalanan musik urban underground, musik asal Inggris ini sudah diadopsi cukup lama di Indonesia sebagai sebuah mutasi sosial. Meskipun tidak ada catatan resmi, generasi awal musik ini dapat dilihat perkembangannya di era ‘70-an yang terinspirasi oleh pergolakan sosial, politik dan tata ekonomi global. Perkembangan musik underground pun merevolusi orientasinya dari sekedar isme (paham) dalam kesenian musik postmodern menjadi gerakan (movement) nyata yang mem-propagandakan idealisme anti-kemapanan, anarkisme, pacifisme dan wacana pemberontakan menghadapi ketimpangan utara-selatan (north-south gap) atau neo-liberalisme hingga cita-cita negara tanpa kelas sosial dan ekonomi.

Pembentukan komunitas atau kaderisasi sebagai media untuk aktualisasi diri pun dilancarkan untuk memperkuat eksistensi musik ini. Meskipun di panggung lirik-lirik musik underground hanya terdengar seperti teriakan keras “Oooo…”, “Aaaa…” atau sedikit “Oyyy” atau “Blaaahhh…” yang nyaris tidak bisa dicerna maksudnya apa namun sejarah membuktikan proses kaderisasi justru semakin diminati karena idealismenya membentuk suatu imagined community yang mungkin hampir dapat disamaratakan dengan Imagined Community karyanya filsuf politik terkenal, Bennedict Anderson.

Saya pun masih ingat ketika di SMU pas jenis musik ini sedang happening, teman-teman saya mulai hobi main band dan tentunya musik yang mereka mainkan adalah musik underground sebagai ekspresi idealismenya. Menurut mereka musik ini cocok dengan semangat remaja mereka yang masih rebel dan idealis (atau naif?). “Kaga dianggep gaul deh kalo ga suka musik ini!” menurut salah satu teman SMU saya.

Karakteristik utama dari musik underground yang lain adalah konsisten dengan prinsip anti-komersialisme dan anti-borjuis. Berangkat dari jalur indie, musik ini dikenal orang dari mulut ke mulut tanpa proses publikasi apalagi marketing yang biasanya dilakukan major label untuk masuk ke pasar. Apa yang mereka idamkan biasanya adalah sebuah tatanan kesetaraan struktural bagi seluruh lapisan masyarakat. Mereka membenci dominasi ekonomi yang hanya dinikmati segelintir orang saja.

Anarkisme melalui jalur kekerasan adalah manifestasi perjuangan mereka sebagai anti-thesis keteraturan sosial yang cenderung dimanipulasi oleh kepentingan politik tertentu. Setidaknya inilah yang ingin mereka katakan ke dunia: Justice for all! (Koq jadinya kayak album Metallica?).

Amatir

Terus terang, menurut saya musibah yang terjadi di gedung AACC itu sebenarnya sudah keluar dari jalur idealisme-idealisme di atas. Meskipun musik underground sudah mengalami perkembangan berarti tetapi tampaknya proses kaderisasi masih berjalan di tempat. Hal ini terlihat dari amatirnya panpel ketika acara di malam yang naas itu berlangsung.

Band Beside yang hadir untuk launching album baru malam itu mengaku tidak mengira penonton bakal sebanyak itu. Namun ketidaksigapan panitia dalam melakukan persiapan organisasi, keamanan, masalah teknis hingga ticketing menambah runyam acara yang seharusnya berjalan normal. Hal ini terungkap dari sebuah wawancara dengan seorang panitia malam itu di TV yang mengatakan bahwa kebanyakan dari panitia adalah cabutan dan seluruh personil hanya berjumlah 30 orang. Waktu persiapan acara ini pun terbilang ajaib: 3 hari aja mennnn!!! Jumlah ticket pun tidak dibatasi. Dengan harga ticket yang hanya Rp. 10.000 ditambah konser berlangsung pada tanggal muda, tentu semua kalangan bisa membelinya. Inilah yang tidak diantisipasi oleh panpel.

14022008389.jpgInsiden pembagian alkohol oleh panitia di tengah-tengah pertunjukkan adalah sebuah tindakan yang konyol kalau tidak mau dibilang tolol. Ketika ditanya, panpel berkilah kalau sebotol bir saja tidak akan memabukkan jika diminum oleh seorang penonton. Oalaaa….tampaknya mereka tidak tahu kalau small percentage of alcohol dapat sangat merusak sel-sel otak jika distimuli oleh faktor-faktor berikut ini: perut kosong, mendengar musik sangat keras, berada di dalam ruangan yang sumpek, gelap dengan penerangan seadanya dan dalam keadaan lelah setelah berjingkrak-jingkrak ga jelas. Furthermore, bad influence of alcohol akan sangat terasa efeknya bagi orang-orang yang justru tidak memiliki kebiasaan minum minuman keras terutama perempuan. Ga percaya? Coba aja sendiri Bos!

Pergeseran Paradigma

Ada lagi fakta yang membuat musik underground ini menarik. Menurut artikel yang ditulis oleh Tarlen Handayani (PR, 14/2), musik underground pasca tumbangnya orde baru mengalami pergeseran paradigma yang cukup signifikan. Berawal dari identifikasi komunal para “undergrounders” di tahun 80an, kini komunitas tersebut cenderung lebih individualistik. Ironisnya, idealisme komunal dan anti-kemapanan kini bergeser menjadi hubungan mutualisme dan negosiasi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Indikatornya terlihat dari banyaknya band indie yang masuk ke jalur komersil, booming usaha distro dan label yang mengubah wajah sangar underground menjadi potensi bisnis yang menggiurkan. Saya saja sekarang sudah tidak sanggup membeli produk-produk distro di Bandung karena terlalu mahal. Namun musibah minggu kemarin semakin mempertegas indikasi pergeseran paradigma underground: pengejaran profit semata oleh panitia melalui penjualan ticket yang tidak dibatasi hingga masuknya peran sponsorship untuk mendukung konser tersebut.

Meskipun tidak terlalu mengubah karakteristik bermusik mereka di panggung, namun pergeseran paradigma ini sebenarnya cukup disayangkan oleh sebagian pihak. Terutama para undergrounders konservatif yang masih menginginkan semangat rebel, anti-kemapanan dan komunalisme tetap dipertahankan di komunitas ini. Tapi apa daya, alih-alih memberikan teladan bagi generasi berikutnya, ternyata banyak dari mereka pun telah keluar dari jalur underground yang sesungguhnya karena kebutuhan finansial. Inilah yang menjadi paradoks bagi generasi underground yang baru.

Hal ini kian mempertegas kita bahwa prinsip apa pun yang kita anut (atau kita kultuskan) sebagai manusia biasa yah tetap saja orang juga butuh makan, cing! Pemenuhan kebutuhan ekonomi adalah hal mutlak yang harus dipenuhi oleh manusia untuk bertahan hidup (survival). Melihat paradigma underground yang sudah bergeser tadi, suka atau tidak suka, sekarang hanya tinggal menunggu waktu saja hingga saatnya cita-cita gerakan underground tadi berubah dari semangat anti-kemapanan menjadi semangat konsumerisme.

Terobosan Konstruktif

Tetapi menurut saya pergeseran paradigma ini justru menandai awal terobosan baru gerakan underground yang lebih konstruktif. Tidak selalu bercokol pada rigidisme dogma kuno yang justru mengekang komunitas ini menjadi munafik dan tidak berkembang. Bagi saya, innovation is a must. Justru mereka inilah pejuang cita-cita underground yang sesungguhnya dan patut diakomodasi kepentingannya oleh semua pihak. Setidaknya dengan pergeseran paradima ini, proses kaderisasi komunitas underground pun menjadi lebih profesional dan dapat menjamin musibah seperti di gedung AACC malam minggu kemarin tidak perlu terulang kembali.

Nah bagi mereka yang masih memuja cita-cita lama underground ada baiknya anda mulai mengikuti pergeseran tersebut. Bukan hak saya untuk menggurui memang (seperti yang biasa kalian lakukan) tetapi idealisme anti-kemapanan tidak perlu selalu diekspresikan secara berlebihan apalagi hanya fokus pada satu media kesenian musik cadas saja. Tidak ada gunanya perjuangan yang hanya berjalan di tempat saja.

Kenyataan bahwa musik underground adalah produk impor tidak dapat dipungkiri lagi. Namun atas nama gengsi yah budaya sendiri terkadang tidak diakui sampai negara lain mengklaim-nya. Menurut saya kegiatan melestarikan produk kebudayaan asli daerah yang mulai dilupakan seperti Angklung atau Reog Ponorogo pada generasi-generasi muda saat ini justru jauh lebih mulia dan lebih merepresentasikan perjuangan anti-kemapanan sejati ketimbang meneruskan cita-cita sempit para “undergrounders” konservatif yang kontraproduktif. Nah sudah sejauh mana anda mempertahankan dan menginovasi kebudayaan asli anda sendiri ketimbang budaya impor? Hehehe….

14022008384.jpg

(Turut berduka cita juga bagi para korban baik yang luka maupun yang meninggal pada musibah tersebut. Semoga arwah mereka bisa diterima di sisi Allah SWT. Semoga musibah ini menjadi bahan refleksi diri bagi kita semua. Amin!)

h1

CJ7

February 12, 2008

 

 

cj7.jpgRanah film internasional di awal tahun 2008 ini dimulai dengan dirilisnya film terbaru produksi Stephen Chow’s movie yang berjudul CJ7. Setelah sukses dengan dua film action komedi sebelumnya yaitu Shaolin Soccer dan Kungfu Hustle yang sekaligus menyiratkan cita-cita Chow untuk melestarikan salah satu kesenian bela diri tradisional China dengan cara memasukkannya ke dalam bingkai yang lebih modern, kini Stephen Chow bereksperimen dengan tema yang sedikit berbeda yaitu fiksi komedi. Meskipun tidak menganulir elemen-elemen slapstick hiperbolis ala Stephen Chow, keseluruhan cerita CJ7 menyuguhkan alur dan substansi yang lebih inovatif dari dua film sebelumnya.

Bercerita mengenai sebuah keluarga miskin yang harus bertahan hidup di kerasnya sebuah kota metropolitan di China. Ti (Stephen Chow) yang hanya bekerja sebagai buruh bangunan harus menghidupi anak semata wayangnya yang bernama Dicky (Xu Jiao) untuk memenuhi kebutuhan pendidikannya. Menarik untuk disimak bahwa dalam CJ7, Stephen Chow dengan sungguh-sungguh memperlihatkan jurang yang sangat besar antara si kaya dengan si miskin di negara yang konon ekonominya sedang booming di dunia. Hal ini terlihat dari kondisi Dicky di bandingkan dengan teman-teman sekelasnya yang bersekolah di salah satu sekolah bergengsi di kota tersebut.

Kejutan kemudian muncul ketika isu penampakan UFO muncul di kota tersebut. Secara tidak sengaja Chow yang selalu memungut sampah untuk dihadiahkan ke anaknya sebagai mainan menemukan sebuah benda aneh berbentuk bola hijau yang elastis. Dicky menemukan bahwa benda aneh tersebut adalah seekor alien imut yang dapat dipelihara layaknya seekor anjing. Alien tersebut kemudian dinamakan CJ7 (angka 7 di sini konon mengacu pada program pesawat luar angkasa berawak yang sedang dijalankan oleh China, Shenzou 7, yang akan diluncurkan pada bulan September 2008). Petualangan kocak dan seru pun berlanjut ketika Chow dan Dicky menemukan bahwa alien tersebut telah masuk menjadi anggota keluarganya. Film ini secara cerdik bertutur kisah dorongan untuk bertahan hidup meskipun dalam kondisi yang mengenaskan, pembelajaran nilai kekeluargaan sejati dan tentunya the things that money can’t buy.

Film yang berdurasi 100 menit ini memiliki kekuatan yang luar biasa dalam memainkan emosi para penontonnya. Ketika para penonton tertawa terbahak-bahak dalam suatu adegan, tiba-tiba penonton dapat tenggelam sedih oleh acting para karakternya. Saya tidak akan menjelaskan adegan apa yang dimaksud karena lebih baik anda menontonnya sendiri. Maksudnya biar ga dicap spoiler alert gituh…Hehehe…

Berbeda dari dua film sebelumnya, karakter Stephen Chow kali ini tidak memainkan peran utama yang selalu bersifat from zero to hero. Dari keseluruhan film mungkin doi hanya muncul 40%. Sisanya, mayoritas acting yang luar biasa dimainkan oleh pemeran Dicky yang berperan sebagai anak buruh bangunan yang merupakan korban ketimpangan struktural di sekolahnya.

Elemen komedi slapstick hiperbolis selalu menjadi ciri utama film-film Chow termasuk di film ini. Memang betul kebanyakan orang tidak menyukai komedi slapstick karena lelucon yang ditampilkan sangat tidak realistis. Bagi saya, selama slapstick itu orisinil, dapat dimengerti dan dipadu dengan spesial efek yang luar biasa maka hasilnya pun menjadi fantastis: slapstick kocak yang dapat mengocok perut anda hingga anda terjatuh dari kursi bioskop anda. Contoh konkritnya mungkin bisa kita lihat di film Kungfu Hustle di bagian melempar pisau yang salah sasaran dan digigit ular kobra di bibir. Hehehe…

Beberapa parodi film-film barat pun sedikit banyak telah memberi kekuatan tersendiri bagi film ini. Namun spesial efek yang disuguhkan memang tidak sedahsyat dibandingkan dengan Kungfu Hustle. Tetapi secara substansial hal itu tidak mengurangi kualitas cerita karena tampaknya Chow ingin membuat sesuatu yang baru di film ini yaitu dari sisi emosional cerita yang berpengaruh signifikan terhadap naik-turunnya emosi para penontonnya. Bisa dibilang alur dan substansi keseluruhan cerita film Stephen Chow kali ini sedikit lebih serius tetapi sama sekali tidak kehilangan sentuhan komedi yang menjadi ciri khasnya. Inilah letak kekuatan utama dari film CJ7.

Sudah lama saya tidak menonton film berkualitas seperti. Sungguh menghibur! Hanya satu kata yang dapat saya gambarkan dari mahakarya Stephen Chow yang pernah satu perguruan wushu dengan Jet Li ini: JENIUS!

(Kapan yah industri perfilman Indonesia dapat membuat film seperti ini? Huhuhu…)

h1

The Death of Soeharto

February 5, 2008

soeharto.jpgTerinspirasi dari karya Seno Gumira “the gloomy-man” Ajidarma yang berjudul “Matinya Paman Gober”, hari-hari terakhir mantan Presiden H.M. Soeharto mungkin hampir mirip dengan cerita yang dikisahkan dalam cerpen tersebut.

Dikisahkan bahwa Paman Gober sakit keras dan diharuskan dirawat di rumah sakit. Tim dokter yang menanganinya pun tidak dapat berbuat banyak untuk menyelamatkan hidupnya yang sudah renta. Mirip dengan keadaan di Indonesia, warga kota bebek setiap hari membuka koran dengan membaca headlines yang itu-itu saja,yaitu sakitnya bebek nomor satu di kota tersebut. Hingga pada akhirnya Paman Gober wafat meninggalkan harta warisan yang entah akan diberikan kepada siapa. Mirip dengan akhir hidup mantan Presiden Soeharto.

Soeharto dan Paman Gober, keduanya jelas merupakan orang nomor satu di negerinya. Siapa pun segan kepadanya apalagi jika melihat kekuasaan luar biasanya. Tidak sedikit pula pihak yang berseberangan dengannya. Keduanya dapat mengintervensi kebijakan publik di negerinya melalui power-nya. Keduanya memiliki karakteristik keras kepala dan sangat tegas dalam mengambil keputusan. Sangat jelas, keduanya hidup berjuang mempertahankan status-quo sebagai orang terkaya dan terkuat di negerinya masing-masing. Kasat mata, keduanya adalah icon diktator dan totalitarianisme di negerinya masing-masing. Mereka berdua merupakan adalah sosok yang loved by few, hated by many…atau mungkin. . . sebaliknya ???

Soeharto telah menjadi pusat perhatian masyarakat Indonesia maupun internasional sejak kematiannya pada tanggal 27 Januari 2008 kemarin. Polarisasi opini publik pun terbentuk di mata masyarakat. Ada yang memujinya, tidak sedikit pula yang menghujatnya. Tuntutan perdata oleh Kejaksaan Agung pun masih bergulir untuk mengadili keluarga dan kroni-kroninya. Namun saya ingin melihatnya dari sisi agak berbeda.

Sejak lengsernya Soeharto akibat imbas krisis moneter tahun 1998, banyak karya ilmiah yang mulai mengkritisi kiprah Soeharto bersama kroninya selama 32 tahun. Pelanggaran HAM, kekerasan di saentaro nusantara, KKN bersama keluarga dan kroninya dan yang menonjol adalah dibungkamnya demokrasi selama 32 tahun. Tulisan-tulisan ini dibuat oleh mereka yang “merasa” menjadi korban pelanggaran HAM selama Soeharto berkuasa. Sebut saja Fadjroel Rachman, Mukhtar Pakpahan atau Sri Bintang Pamungkas. Bagi mereka, Soeharto adalah sosok yang penuh dosa, seorang diktator militer, seorang monster menyeramkan yang siap menerkam siapa saja yang berani melawannya. Setelah Soeharto wafat, makin banyak tulisan dan artikel yang intinya mengecam kepemimpinannya selama 32 tahun. Kebanyakan dari mereka yang menentang Soeharto memang digalang oleh kaum akademisi, aktivis, oposisi dan korban orde baru. Entah apakah ekspresi mereka murni didasarkan atas suatu pencarian keadilan atau semata-mata karena tidak diberi jatah kursi kekuasaan ketika Soeharto berkuasa. Entahlah…

Orde Baru, sebuah terminologi yang merefleksikan kekuasaan otoriter Soeharto. Masa reformasi yang terlampau kebablasan sangat alergi dengan istilah ini. Seolah-olah Orde Baru adalah masa pembodohan kolektif. Masa dimana dibungkamnya kebebasan berekspresi dan bersuara. Pers dibredel, media dibungkam, orang-orang yang kritis pun nasibnya harus berakhir di penjara atau dibuang ke luar negeri, paling parah ya tewas ditembak oleh militer.

Tetapi kini, setelah Soeharto lengser, idealisme pembebasan demokrasi politik yang kita harapkan sejak masa reformasi bergulir tampaknya belum tercapai. Tampaknya segala kegagalan masa reformasi adalah buah ketidakbecusan pemerintahan masa lalu. Tapi apakah murni kegagalan saat ini karena warisan masa lalu? Atau memang justru demokrasi politik tidak memberikan kesejahteraan yang seharusnya kepada rakyat?

Konon, demokrasi politik memberikan kebebasan politik para korban orde baru dan masyarakat luas untuk meningkatkan kualitas partisipasi politik publik. Namun ternyata tidak berjalan efisien karena partai yang berdiri terlalu banyak dan memunculkan istilah yang dikenal dengan “kartel partai politik”. Partai politik sekarang mungkin memiliki modal yang lebih besar daripada sebuah BUMN. Kualitas kerjanya sebagai representasi rakyat? Yah tau sendirilah.

Kebijakan desentralisasi kekuasaan melalui otonomi daerah justru menimbulkan kejahatan korupsi yang tersebar luas ke daerah. Pilkada tidak ubahnya ajang adu otot antar suporter sepakbola akibat ego dan primordialisme berlebihan. Partai politik pun tidak ubahnya berhala kekuasaan yang mewajibkan para konstituennya untuk menyetor uang sebagai tanda “balas jasa”. Demi terciptanya reformasi parpol yang demokratis katanya.

Masa euforia reformasi, kebebasan berekspresi dan akses informasi pun mudah didapat melalui UU penyiaran dan dilikuidasinya Departemen Penerangan. Yup! pers dengan mudah memberitakan isu-isu sensitif seperti SARA tanpa tanggung jawab seolah-olah ingin mengadu domba demi kepentingan bisnis sesaat. Demi memenuhi kebutuhan informasi bagi publik katanya. Belum lagi media yang mengumbarkan kehidupan konsumerisme berlebihan melalui sinetron-sinetron kacangan. Demi tegaknya kebebasan berekspresi katanya.

Masa demokrasi, kehidupan bermasyarakat, berserikat dan menyuarakan pendapat kini dijamin dan dilindungi oleh UU. Orang-orang macam Abu Bakar Baasyir, yang ketika masa orde baru diasingkan ke Malaysia, kini dengan tenang menanamkan benih-benih kebencian terhadap non-muslim kepada generasi muda yang naif. Seniman, dan budayawan yang dahulu tidak laku kini mendapat tumpukan order melalui parodi-parodi garing yang mempertontonkan secara verbal betapa payahnya negara ini. Anarkisme seperti ricuh pasca-pilkada, perang antar kampung, brutalitas geng motor, FPI sampai kekerasan mahasiswa atas nama solidaritas ga penting seperti yang terjadi di universitas HKBP di Medan pun sudah menjadi berita sehari-hari. Lagi-lagi atas nama sebuah perjuangan semu dan kebebasan mutlak katanya. Bah!!!

Memang betul, Soeharto adalah pemimpin yang kontroversial jika dilihat dari track record-nya di bidang HAM, demokratisasi dan kejahatan ekonomi, ia adalah sosok yang gagal di bidang-bidang tersebut. Namun tidak dapat dipungkiri, ia masih mendapat tempat di hati rakyatnya. Hal ini dapat terlihat dari banyaknya rakyat yang mengantar kepergiannya ketika dia diantar ke tempat peristirahatan terakhirnya di Astana Giri Bangun, Solo. Rakyat yang tidak mengetahui apa pun mengenai masalah politik mulai dapat membandingkan kehidupan sekarang dengan kehidupan yang serba murah ketika Soeharto berkuasa.

Pemikiran rakyat memang pragmatis…permisif, namun hal inilah yang benar-benar dirindukan oleh masyarakat kita. Cobalah anda pergi ke daerah pameungpeuk, Garut dan tanyalah mengenai kehidupan semasa orde baru kepada petani di sana mengenai sosok presiden kedua tersebut. Mungkin jawabannya pun akan sama: mereka rindu masa-masa itu dibandingkan sekarang. Tentu saja kalau anda menanyakan siapa itu Munir ke mereka mungkin mereka akan menjawab: “Who the f*ck is Munir?” atau “Eta mah ngaran soang abdi di lembur!”. Nah, jika ada pameo yang mengatakan “suara rakyat adalah suara Tuhan”, wah para aktivis dan korban orde baru bisa kebakaran bulu ketek tuh.

Bagi saya, pendekatan mencolok yang dilakukan oleh Soeharto adalah pendekatan keamanan. Manifestasi kebijakannya bertangan besi. Tujuannya adalah stabilitas sosial dan ekonomi. Kita tidak bisa bebas berekspresi karena akan dianggap subversif dan provokatif yang akan mengancam status-quo lokal maupun regional. Namun korbannya pun tidak sedikit. Demokrasi dan kebebasan pun diberangus habis-habisan. Mitos pembantaian massal yang terjadi sekitar tahun 1970 hingga akhir 1990an membuat Soeharto dibenci oleh para korban HAM. Tetapi jika kita melihat apa yang kita capai selama 10 tahun masa reformasi ini, tampaknya demokrasi yang pernah diperjuangkan dulu menjadi mubazir yah?

Tahun 1998 ketika mahasiswa berdemo meneriakan slogan turunkan Soeharto, Soeharto sebenarnya memiliki kekuasaan untuk menghalau para demonstran dengan kekerasan sehingga kejadian itu dapat disamaratakan dengan tragedi Tiananmen tahun 1989. Memang tidak ada jaminan jika Soeharto menjalankan kebijakan yang sama, perekonomian Indonesia akan maju seperti China saat ini. Namun, melihat Soeharto yang memerintahkan dengan tangan besi hampir sama dengan melihat beberapa diktator yang justru berhasil memajukan pembangunan ekonominya dan kesejahteraan rakyatnya tanpa demokrasi politik. Sebut saja Mahathir Mohammad, Lee Kuan Yew, Goh Chok Tong dan Vladimir Putin. Ketika kebutuhan perut terpenuhi, siapa yang butuh kebebasan bersuara hey? Yah kecuali, tentu saja, bagi mereka yang gila hormat dan kekuasaan mungkin akan berpikiran sebaliknya.

Saya selalu bingung dengan mereka yang mengaku pejuang demokrasi dan HAM hanya karena mereka lebih kritis daripada orang lain. Mereka berjuang dari level “grass root” sebenarnya tanpa seorang pun yang meminta. Menuntut perubahan sistem tetapi cenderung mengabaikan perubahan diri sendiri yang lebih konstruktif. Apa jaminannya rakyat akan lebih sejahtera apabila orang-orang ini berkuasa? Tampaknya sudah banyak contohnya.

Soeharto mungkin seorang diktator, tapi dia tidak pernah menjual aset BUMN ketika Megawati berkuasa misalnya. Andaikan Soekarno masih hidup dan melihat kebijakan anaknya ini, kira-kira apa reaksinya yah?.

Soeharto mungkin penjahat HAM tapi ia tidak pernah berusaha melobi ke parlemen Belanda untuk menekan negaranya sendiri hanya karena seorang pejuang HAM mati sambil mengabaikan fakta bahwa jutaan rakyat Indonesia pernah dibantai oleh Belanda ketika masa penjajahan dulu.

Apakah ini semua adalah konsekuensi logis dari sebuah demokrasi prematur? Lieur aing mah!

Tulisan ini bukanlah untuk mengkultuskan Soeharto. Namun setidaknya kita semua harus belajar secara objektif dari kepemimpinannya. Konsekuensi seorang yang besar, kesalahan kecil pun dapat menjadi kesalahan yang besar. Apapun kesalahan mantan presiden ke-2 RI tersebut bukanlah hak kita untuk menghakiminya sebagai sesama manusia biasa. Tetapi tampaknya bangsa ini terlalu kerdil untuk belajar dan telah terlalu diperbudak oleh solidaritas sempit dan subjektivitas pribadi yang berlebihan.

Selamat Jalan Pak Harto!

(Kalau tulisan ini saja dianggap sebagai pro-Soehartois, gimana mau tercapai yang namanya cita-cita rekonsiliasi nasional dong? Hehehe…)