h1

Quickie Express

November 26, 2007

quickee-express.jpgSetelah sukses dengan film-film sebelumnya seperti Berbagi Suami, Janji Joni dan Arisan!, Kalyana Shira film telah merilis film terbarunya berjudul Quickee Express bulan November 2007 ini. Disutradai oleh Dimas Djayadiningrat, Quickee Express merupakan film Indonesia kontemporer tervulgar sekaligus paling berani yang pernah saya tonton. Catatan ringan: arti Vulgar di sini bukan berarti harus film-film bokep jadul jamannya Sally Marcelinna, Eva Arnaz atau bintang film dengan bulu-ketiak-ngadadahan lainnya.

Mengetengahkan kisah hidup seorang pengangguran bernama Jojo (Tora Sudiro) yang direkrut menjadi seorang Gigolo profesional. Di bawah naungan gerai Pizza “Quickee Express”, Jojo bersama “newcomers” lainnya yaitu Marley (Aming) dan Piktor (Lukman Sardi) memulai hidup barunya sebagai gigolo profesional yang dilatih untuk memuaskan nafsu birahi para tante-tante gatelan di Jakarta. Setelah beberapa lama bekerja, ketiganya ternyata memiliki bakat yang luar biasa sebagai gigolo sehingga manajer mereka menempatkan mereka di posisi tertinggi di perusahaan ini. Prestasi kerja mereka pun diakui oleh klien-klien mereka. Namun, masalah timbul ketika Jojo (sebagai lelaki normal) jatuh cinta kepada seorang mahasiswi kedokteran yang ternyata memiliki hubungan darah dengan salah satu tante langganannya dan seorang mafia kelas kakap.

Menurut saya, kekuatan film ini adalah selain dari sisi sinematografinya yang luar biasa, akting para pemainnya pun terlihat sangat natural. Tidak ada kesan script dan dialog yang seolah dibuat-buat atau artificial script seperti kebanyakan film-film produksi para pedagang textil (yeah u know who!). Bahasa yang digunakan sangat natural sesuai dengan bahasa sehari-hari. Jalan cerita yang kocak ditambah dengan lelucon-lelucon “ga penting” justru membuat kekuatan khusus pada film ini. Ide ceritanya pun ringan dan tidak terlalu membuat otak bekerja extra keras untuk mencerna film ini.

Kelemahan dalam film ini adalah jalan cerita yang mudah ditebak dan tampaknya kelemahan ini merupakan hal yang umum dalam film-film Indonesia kontemporer. Kenapa sih? Kemudian ending yang terkesan terburu-buru entah karena masalah budget atau memang dikejar deadline sehingga finishing touch yang disuguhkan pun kurang ‘nendang’ bahkan terkesan menggantung.

Banyak kritikus yang menilai film ini sebagai film vulgar yang menyuguhkan berbagai macam adegan sex,violence and also…sex.ya! Tidak sedikit yang membencinya. Bahkan saya pernah mendengar dari sebuah blog bahwa beberapa penonton melakukan aksi ‘walk out’ dari bioskop ketika film ini masih diputar sambil mendumel “Film apaan sih ini?”. Namun bagi saya pribadi, saya tidak melihat dari sisi tema sexism itu diangkat (secara masih banyak film-film yang jauh lebih parah.ga munafik!) tapi melihat bagaimana seorang Jojo yang berusaha untuk bertahan hidup dalam kompleksitas kehidupan metropolitan akhirnya menempuh jalan pintas bekerja sebagai seorang gigolo; Survival. Kenyataan ini menyiratkan ternyata profesi penjaja seks komersial itu tidak selalu dimonopoli oleh kaum perempuan seperti premis umum yang selama ini berlaku. Entah kehidupan tersebut nyata atau tidak, tetapi hal itu membuat kita untuk membuka mata lebih lebar lagi. Sesuatu yang tabu tidak selamanya buruk, semuanya bergantung dari sisi mana kita melihat dan belajar.

Bagi saya, film ini merupakan sebuah satire, juga sebuah pencerahan bagi para sineas-sineas lainnya khususnya para pedagang textil seperti Shanker, Punjabi, Koya dan Dheeraj. Saya berikan four thumbs up (dari empat jempol yang ada di badan saya) bagi film ini.

Bravo!

3 comments

  1. Setujuh, filmnya mang keren dan menghibur. Aktingnya juga keren, cuman sayangnya pesannya gak senendang karya Joko Anwar sebelumnya “Arisan”. Mungkin bener karena pembuatan skripnya agak terburu-buru. soalnya denger-denger pembuatan skrip cuman seminggu. Tapi filmnya tampak sangat meledak kok di pasaran. Bagoesss, berarti film Indonesia makin dihargai…


  2. Sebenernya rada geli juga sih nonton film ini bro.
    Moga2 ga ketularan yah.Huehehehe…
    Tapi overall, film ini worth-watching koq.


  3. seru!!!!

    lucu banged ni film!!

    realitanya dapet banged…
    susahnya hidup jaman sekarang…pengennya yg cepet + praktis…
    tapi ada alur cerita sedikit yg mirip ma sinetron yaa…??

    but, overall…hebat deh film…salut ma film indonesia sekarang,,,



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: