h1

Sicko

November 19, 2007

sicko_poster.jpgSatu lagi karya Michael Moore yang kontroversial baru saja dirilis di tahun 2007 ini. Setelah mengeluarkan film-film sebelumnya yang berjudul Bowling for Columbine (2002) dan Farhenheit 911 (2005), Moore lagi-lagi mengeluarkan film barunya yang berjudul Sicko (2007). Film semi-dokumenter ini sebenarnya sudah ada sejak pertengahan tahun 2007 namun untuk Indonesia sendiri, film ini baru masuk sekitar bulan Oktober.

Dalam Sicko ini, Moore mengkritisi isu pelayanan American Health Care System yang hanya memfokuskan usaha mereka pada profit asuransi kesehatan dan industri farmasi. Isu klasik yang sebenarnya sudah muncul sejak perang dingin dan berlanjut hingga sekarang. Bermula dari keluhan mayoritas masyarakat AS mengenai akses pelayanan kesehatan yang tidak memadai di AS. Mulai dari mahalnya biaya pengobatan yang jauh melebihi pendapatan masyarakat AS hingga korupnya sistem pelayanan perusahaan asuransi kesehatan yang sama sekali tidak bekerja sebagaimana fungsinya. Moore juga menggunakan metode perbandingan antara sistem pelayanan kesehatan dan asuransi di AS dengan negara-negara seperti Kanada, Inggris, Perancis dan bahkan Kuba yang jauh lebih baik.

Saya tidak akan bercerita panjang lebar mengenai film ini karena akan lebih bijak jika anda menontonnya dan menilainya sendiri. Saya tidak ingin blog saya dicap sebagai spoiler alert. Hehehe…

Ketertarikan saya pada film ini adalah seperti film-film sebelumnya, Moore berusaha untuk jujur dan objektif dalam menyampaikan pesannya. Presentasi yang diberikan di film ini kurang lebih sama dengan film-film semi-dokumenter kebanyakan, kritik konstruktif bagi para pembuat kebijakan di AS. Saya tidak tahu apakah ada skenario dalam pembuatan filmnya tetapi itu tidak penting karena secara substansial, Moore sudah mengemasnya secara jelas meskipun sedikit sarkastik. Meskipun tidak sedikit juga orang membencinya karena kritisismenya.

Namun bagi masyarakat non-AS seperti saya, karya-karya sejenis Moore merupakan karya yang selalu saya kagumi dan-meskipun bukan tanpa cacat-sedikitnya telah memberikan pencerahan yang berarti bagi saya pribadi. Sebut saja karya Morgan Spurlock dengan Supersize Me-nya yang mengkritik perusahaan-perusahaan makanan cepat saji di AS atau karya Al Gore dengan the Inconvinience Truth-nya yang memperingatkan kita mengenai dampak pemanasan global. Karya-karya seperti inilah yang seharusnya bisa kita contoh bagi industri perfilman Indonesia. Tidak lagi-lagi tentang Cinta. Tidak lagi-lagi tentang Mistis atau Horor or whatever you wanna call it! Mungkin tidak sekarang tetapi semoga tidak lama lagi Indonesia dapat membuat karya sejenis mereka (tanpa harus menjiplak habis-habisan tentunya!).

Four thumbs up (Dua jempol tangan dan dua jempol kaki) saya berikan bagi film Sicko. It’s entertaining, hillarious, educating and illuminating…ing…ing…ing….!

5 comments

  1. sepertinya cita2 idealisme bung arfin ttg per-film an Indonesia akan belum tercapai dan terlaksana dalam waktu dekat..

    jikalau Ram Punjabi Clan masih menguasai industri per-fil-an Indonesia…,hahahahah :P~


  2. Wakakakkakaakaaa….LoL!ngakak!yoi bener banget bung apip!

    Selama nama2 merek pedagang tekstil seperti Punjabi,Shanker or KK Dheeraj (tanpa bermaxud SARA) masih berkibar dengan film2 berkualitas *sensor*nya niscaya kualitas film Indonesia bakal selalu terdegradasi secara akut.

    Gw jadi curiga sob!jangan2 orang2 kaya Punjabi,Shanker n KK Dheeraj itu adalah agen intelijen India yg sengaja dikirim ke Indonesia buat ngancurin kesenian n tradisi Indonesia.hehehe….

    Beruntung belum ada film Indonesia yg menyuguhkan tari2an demi sebuah resolusi konflik.kalo sampe ada bersiap2lah menghadapi dominasi borderless world on globalization by India’s cultural and heritage association.namanya:neo-punjabisme;ketika penindasan struktural tidak lagi mengenal kata kompromi kepada warisan kebudayaan leluhur nenek moyang kita.bahkan pemerintah pusat pun tidak bisa berbuat apa2 dengan munculnya fenomena ini.argghhhh!!!!noooo!!!!!

    Untuk referensi mengenai film2 Indonesia mana aja yg layak dan tidak layak tonton beserta kritik2annya silahkan klik di blogroll saya yg berjudul Sinema Indonesia.

    Lumayan bagi2 pencerahan.hehehehe….


  3. pengen nonton deh. tapi belum sempet nyari dvdnya..

    di sini belum ada yg kayak Moore ya?


  4. Udah ada Dot! namanya Metro realitas dengan host “saya Rahma Sarita. Tim Metro realitas. Sampai jumpa!” dengan gaya khasnya yg terkesan menggurui. pengen ngikutin Moore tapi ga kesampean.hehehehe….


  5. kebetulan nemu ni film di kota kembang… beres nonton, jadi mikir-mikir lagi deh buat pindah ke amrik hehehe…🙂



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: