Archive for November, 2007

h1

Arti Hidup dan Kehidupan

November 28, 2007

Banyak orang yang berusaha untuk mendefinisikan arti Hidup. Mulai dari seorang Filsuf zaman yunani kuno, Sastrawan, Politikus, Teknokrat hingga Ilmuwan dengan berbagai macam dalilnya. Tidak sedikit definisi yang mereka kembangkan menginspirasi manusia-manusia sesudahnya dan berjalan sesuai dengan jalur yang mereka kultuskan-atau setidaknya yang mereka percayai. Bahkan tidak sedikit manusia yang terbunuh percuma karena mempertahankan kepercayaannya.
Tapi apa arti hidup dan kehidupan bagi saya pribadi? Sarjana S2 HI koq ngebahas arti hidup? Hehehe…

Sebenarnya tidak ada suatu insan pun yang dapat memonopoli divinitas kehidupan. Banyak karya atau bacaan-bacaan inspirasional yang dapat membentuk suatu arti kehidupan bagi saya sendiri. Saya menemukan bahwa tidak ada segregasi antara hidup dan kehidupan. keduanya link together. Mungkin yang dapat saya lakukan adalah menarik benang merah dari semua input yang saya dapat baik dari bacaan, film atau aktivitas sosial dengan orang lain.

Lalu apakah definisi yang akan saya kemukakan tidak orisinil alias artificial karena menyontek karya-karya sebelumnya? Belum tentu! saya percaya sesuatu karya apa pun tidak akan pernah orisinil meskipun mereka mengaku bahwa karyanya telah dipatenkan di UNESCO atau Badan Paten Internasional (kalaupun ada). Hidup dan Kehidupan itulah yang menurut saya memberikan inspirasi bagi sebuah karya sejati. Manusia diberi akal untuk memilih dan mendesain karyanya dengan hidup sebagai fundamental pemikirannya. Seorisinil-orisinilnya Star Wars, George Lucas tidak mungkin mendapatkannya hanya dengan bangun di pagi hari dan semua karakter-karakter dan cerita Star Wars telah diciptakan saat itu juga di otaknya.

Anyway…

Seorang teman pernah mengatakan bahwa inti kehidupan adalah mencari kebahagian baik itu materi maupun imateri. Meskipun saya tidak menampik bahwa realitas hidup adalah salah satunya itu sehingga teman saya itu sangat berobsesi untuk mencari kesuksesan duniawi and I admit he’s capable in doing so. Jenius dan mungkin the only one yang mengatakan bahwa Computer Science adalah hal termudah yang pernah dia pelajari. Dude!

Tetapi kemudian saya berpikir kontradiktif. Bagi saya hidup itu justru untuk mencari penderitaan. Penderitaan agar manusia bisa belajar dari kesalahannya. Kehidupan itu adalah sebuah proses Pembelajaran agar manusia bisa me-manusiakan manusia yang lain (where did i take that kind of phrase?hmm). Anyway, yang saya maksud adalah Hidup ini sepenuhnya adalah konsekuensi manusia sebagai mahkluk yang memiliki akal dan memiliki pilihan.

Tidak salah bagi Allah SWT memiliki kebijakan untuk menurunkan nabi Adam AS ke bumi ,yang kemudian diprotes oleh para Malaikat, adalah karena manusia memiliki akal yang tidak dimiliki oleh para Malaikat itu. Akal yang dimaksudkan di sini adalah bahwa manusia diuji intelektualitasnya sehingga memiliki banyak pilihan supaya bisa survive dari penderitaan. Dari pilihannya untuk survival itulah kemudian lahir peradaban manusia yang pertama dan kemudian berkembang pesat hingga saat ini. Kehidupan inilah yang merupakan proses regenerasi.

Sudah banyak blog dan buku yang saya selancar (surf?!) yang berusaha untuk mendefinisikan arti hidup. Tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah dari semua yang mereka katakan yang jelas semuanya itu adalah inspirasi yang berarti bagi jalur kehidupan saya. Yang saya bisa sikapi adalah dengan mengkaji dan memahami “jalur” yang mereka percayai dan semoga dengan ini saya tidak perlu mengkultuskan seseorang atau sesuatu secara berlebihan.

Yang jelas hidup ini adalah sebuah proses pengkajian hikmah dari sebuah penderitaan dan selamanya seperti itu hingga kita mati. Saya percaya ketika kita sedang berbahagia, kita tidak akan pernah belajar mengenai kehidupan kita. Kebahagiaan=Lupa. Justru penderitaan itulah yang membuat kita sadar akan beharganya hidup ini asalkan kita mau belajar dan bersabar. Karena dari belajar itu kita memiliki banyak pilihan (akal). Karena akal itulah warisan terbesar nenek moyang kita yang tidak dimiliki oleh makhluk lain.

Udah ah mau keluar dulu hujan-hujanan kayak waktu kecil dulu!

Yipeeee!!!

h1

(Untitled)

November 27, 2007

Dia telah mencuri hati saya dan membuat saya penasaran selama sebulan terakhir ini…

Siapakah sebenarnya dia?

Haruskah saya percaya semua kenyataan?

Ataukah ini hanya sebuah ilusi?

Sepertinya semuanya sudah menjadi bias.

Seperti sebuah anomali kehidupan yang dimanifestasikan dalam bentuk senyawa kimia yang bereaksi dalam tubuh saya. Tapi tidak untuk dia.

Anomali yang sangat jarang saya temui di kehidupan nyata seorang pecundang seperti saya.

Aneh…Sungguh aneh…

Ah! Bingung! Mungkin ini terlalu indah untuk menjadi kenyataan.

Perjalanan saya masih panjang. Masih banyak yang harus saya kerjakan. Masih banyak yang harus saya bangun.

Masih terlalu naif untuk sebuah kenyataan utopis.

Saya masih butuh waktu dan belajar… Sebuah proses.

Dan pada akhirnya, semuanya akan menjadi sangat indah ketika saya bisa menjadi diri saya sendiri dan dia menjadi dia apa adanya.

Bukan siapa-siapa . . .

h1

Quickie Express

November 26, 2007

quickee-express.jpgSetelah sukses dengan film-film sebelumnya seperti Berbagi Suami, Janji Joni dan Arisan!, Kalyana Shira film telah merilis film terbarunya berjudul Quickee Express bulan November 2007 ini. Disutradai oleh Dimas Djayadiningrat, Quickee Express merupakan film Indonesia kontemporer tervulgar sekaligus paling berani yang pernah saya tonton. Catatan ringan: arti Vulgar di sini bukan berarti harus film-film bokep jadul jamannya Sally Marcelinna, Eva Arnaz atau bintang film dengan bulu-ketiak-ngadadahan lainnya.

Mengetengahkan kisah hidup seorang pengangguran bernama Jojo (Tora Sudiro) yang direkrut menjadi seorang Gigolo profesional. Di bawah naungan gerai Pizza “Quickee Express”, Jojo bersama “newcomers” lainnya yaitu Marley (Aming) dan Piktor (Lukman Sardi) memulai hidup barunya sebagai gigolo profesional yang dilatih untuk memuaskan nafsu birahi para tante-tante gatelan di Jakarta. Setelah beberapa lama bekerja, ketiganya ternyata memiliki bakat yang luar biasa sebagai gigolo sehingga manajer mereka menempatkan mereka di posisi tertinggi di perusahaan ini. Prestasi kerja mereka pun diakui oleh klien-klien mereka. Namun, masalah timbul ketika Jojo (sebagai lelaki normal) jatuh cinta kepada seorang mahasiswi kedokteran yang ternyata memiliki hubungan darah dengan salah satu tante langganannya dan seorang mafia kelas kakap.

Menurut saya, kekuatan film ini adalah selain dari sisi sinematografinya yang luar biasa, akting para pemainnya pun terlihat sangat natural. Tidak ada kesan script dan dialog yang seolah dibuat-buat atau artificial script seperti kebanyakan film-film produksi para pedagang textil (yeah u know who!). Bahasa yang digunakan sangat natural sesuai dengan bahasa sehari-hari. Jalan cerita yang kocak ditambah dengan lelucon-lelucon “ga penting” justru membuat kekuatan khusus pada film ini. Ide ceritanya pun ringan dan tidak terlalu membuat otak bekerja extra keras untuk mencerna film ini.

Kelemahan dalam film ini adalah jalan cerita yang mudah ditebak dan tampaknya kelemahan ini merupakan hal yang umum dalam film-film Indonesia kontemporer. Kenapa sih? Kemudian ending yang terkesan terburu-buru entah karena masalah budget atau memang dikejar deadline sehingga finishing touch yang disuguhkan pun kurang ‘nendang’ bahkan terkesan menggantung.

Banyak kritikus yang menilai film ini sebagai film vulgar yang menyuguhkan berbagai macam adegan sex,violence and also…sex.ya! Tidak sedikit yang membencinya. Bahkan saya pernah mendengar dari sebuah blog bahwa beberapa penonton melakukan aksi ‘walk out’ dari bioskop ketika film ini masih diputar sambil mendumel “Film apaan sih ini?”. Namun bagi saya pribadi, saya tidak melihat dari sisi tema sexism itu diangkat (secara masih banyak film-film yang jauh lebih parah.ga munafik!) tapi melihat bagaimana seorang Jojo yang berusaha untuk bertahan hidup dalam kompleksitas kehidupan metropolitan akhirnya menempuh jalan pintas bekerja sebagai seorang gigolo; Survival. Kenyataan ini menyiratkan ternyata profesi penjaja seks komersial itu tidak selalu dimonopoli oleh kaum perempuan seperti premis umum yang selama ini berlaku. Entah kehidupan tersebut nyata atau tidak, tetapi hal itu membuat kita untuk membuka mata lebih lebar lagi. Sesuatu yang tabu tidak selamanya buruk, semuanya bergantung dari sisi mana kita melihat dan belajar.

Bagi saya, film ini merupakan sebuah satire, juga sebuah pencerahan bagi para sineas-sineas lainnya khususnya para pedagang textil seperti Shanker, Punjabi, Koya dan Dheeraj. Saya berikan four thumbs up (dari empat jempol yang ada di badan saya) bagi film ini.

Bravo!

h1

Sicko

November 19, 2007

sicko_poster.jpgSatu lagi karya Michael Moore yang kontroversial baru saja dirilis di tahun 2007 ini. Setelah mengeluarkan film-film sebelumnya yang berjudul Bowling for Columbine (2002) dan Farhenheit 911 (2005), Moore lagi-lagi mengeluarkan film barunya yang berjudul Sicko (2007). Film semi-dokumenter ini sebenarnya sudah ada sejak pertengahan tahun 2007 namun untuk Indonesia sendiri, film ini baru masuk sekitar bulan Oktober.

Dalam Sicko ini, Moore mengkritisi isu pelayanan American Health Care System yang hanya memfokuskan usaha mereka pada profit asuransi kesehatan dan industri farmasi. Isu klasik yang sebenarnya sudah muncul sejak perang dingin dan berlanjut hingga sekarang. Bermula dari keluhan mayoritas masyarakat AS mengenai akses pelayanan kesehatan yang tidak memadai di AS. Mulai dari mahalnya biaya pengobatan yang jauh melebihi pendapatan masyarakat AS hingga korupnya sistem pelayanan perusahaan asuransi kesehatan yang sama sekali tidak bekerja sebagaimana fungsinya. Moore juga menggunakan metode perbandingan antara sistem pelayanan kesehatan dan asuransi di AS dengan negara-negara seperti Kanada, Inggris, Perancis dan bahkan Kuba yang jauh lebih baik.

Saya tidak akan bercerita panjang lebar mengenai film ini karena akan lebih bijak jika anda menontonnya dan menilainya sendiri. Saya tidak ingin blog saya dicap sebagai spoiler alert. Hehehe…

Ketertarikan saya pada film ini adalah seperti film-film sebelumnya, Moore berusaha untuk jujur dan objektif dalam menyampaikan pesannya. Presentasi yang diberikan di film ini kurang lebih sama dengan film-film semi-dokumenter kebanyakan, kritik konstruktif bagi para pembuat kebijakan di AS. Saya tidak tahu apakah ada skenario dalam pembuatan filmnya tetapi itu tidak penting karena secara substansial, Moore sudah mengemasnya secara jelas meskipun sedikit sarkastik. Meskipun tidak sedikit juga orang membencinya karena kritisismenya.

Namun bagi masyarakat non-AS seperti saya, karya-karya sejenis Moore merupakan karya yang selalu saya kagumi dan-meskipun bukan tanpa cacat-sedikitnya telah memberikan pencerahan yang berarti bagi saya pribadi. Sebut saja karya Morgan Spurlock dengan Supersize Me-nya yang mengkritik perusahaan-perusahaan makanan cepat saji di AS atau karya Al Gore dengan the Inconvinience Truth-nya yang memperingatkan kita mengenai dampak pemanasan global. Karya-karya seperti inilah yang seharusnya bisa kita contoh bagi industri perfilman Indonesia. Tidak lagi-lagi tentang Cinta. Tidak lagi-lagi tentang Mistis atau Horor or whatever you wanna call it! Mungkin tidak sekarang tetapi semoga tidak lama lagi Indonesia dapat membuat karya sejenis mereka (tanpa harus menjiplak habis-habisan tentunya!).

Four thumbs up (Dua jempol tangan dan dua jempol kaki) saya berikan bagi film Sicko. It’s entertaining, hillarious, educating and illuminating…ing…ing…ing….!