h1

Muslim Introspektif

October 18, 2007

eidfitr.jpgAlhamdulillah, akhirnya setelah dua tahun di Australia saya bisa menikmati kembali berlebaran di Indonesia bersama keluarga. Suasana Idul Fitri yang khusyuk, bertemu sanak saudara untuk saling bermaafan dan makanan-makanan lezat berkadar kolesterol tinggi pun sudah menjadi tradisi di hampir setiap umat muslim di dunia.

Tidak terasa saya sudah melewati puasa 30 hari full. Perbedaan atmosfir puasa di Indonesia pun terasa sangat berbeda. Sejak pertama kali berpuasa sebulan yang lalu, saya memang berjanji untuk lebih introspeksi diri atas perbuatan-perbuatan saya di masa lalu. Tidak terhitung banyaknya dosa saya bergelimpangan karena kesalahan saya sendiri. Bahkan bahkan hal-hal yang sebenarnya secara sakral tidak boleh dilakukan sebagai umat muslim saya lakukan juga. Beruntung Allah SWT masih memberikan saya kesempatan untuk berbenah diri. Entah bagaimana jadinya jika saya hanya diberi umur pendek saat itu.

Bertepatan dengan lebaran kali ini juga, bangsa Indonesia bersama negara-negara tetangga lainnya sedang memperingati 5 tahun tragedi Bom Bali yang menewaskan lebih dari 200 orang. Ada hikmah yang berharga sebagai muslim yang bisa saya petik dari kejadian itu: ekstrimisme dan pengkultusan individu secara berlebihan. Biasanya ini lahir justru sebagai konsekuensi logis dari kebebasan mengemukakan pendapat.

Ketika pendapatnya tidak didengar maka kekerasan adalah satu-satunya jalan untuk mencapai tujuan mereka. Meskipun terkadang argumentasi mereka dilandasi tanpa alasan yang jelas. Sejarah membuktikan, butuh berapa banyak generasi lagi yang perlu hilang atas surga yang mereka janjikan? sungguh ironis.

Beberapa waktu lalu ada diskursus mengenai pembentukan negara Indonesia berdasarkan sistem syariah. Menarik untuk disimak bahwa ketika banyak kelompok ekstrimis menuntut diimplementasikannya regulasi berdasarkan syariah Islam, justru banyak cendekiawan muslim yang menentangnya. Alasannya sederhana; kita sudah memiliki NKRI yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 yang merupakan warisan pendahulu-pendahulu kita. Mungkin tidak sempurna tetapi kedua landasan tersebut setidaknya sudah merepresentasikan konsensus kepentingan masyarakat Indonesia yang pluralis. Meskipun sudah banyak amandemen di sana sini tetapi setidaknya kedua landasan tersebut tidak dimonopoli oleh satu kepentingan tertentu.

Biasanya ada kesamaan karakter negatif di antara kelompok Islam ekstrimis; alergi terhadap paham sekularisme, tidak menerima kritikan (apalagi membuka suara konsumen ;p), dan anti-Israel (maupun antek-anteknya). Tetapi saya melihat obsesi mereka untuk menegakan syariah Islam justru hanya terbatas pada hal-hal yang sifatnya ritualistik (baca: teknis) semata. Manifestasinya terdengar konyol: Arabisasi!. Contohnya tata cara berjilbab, cara berpakaian, perkawinan (yang memperbolehkan poligami bla bla bla), waris dan jihad. Saya setuju dengan pendapat Jalaluddin Rahmat bahwa secara religius (baca:substansial), dalam Al-Quran aturan-aturan mengenai hubungan manusia dengan Allah SWT, hubungan manusia dengan manusia baik muslim maupun non-muslim, masalah keadilan atau masalah kesejahteraan yang telah “diadopsi” oleh Pancasila dan UUD 1945 justru jauh lebih banyak ketimbang masalah jilbab atau jihad. Inilah yang menjadi paradox. Orang yang ritualistik belum tentu 100% religius. Begitu pula sebaliknya.

Sayangnya banyak orang yang tidak sadar akan hal ini. Tidak sedikit kaum ekstrimis menganggap bahwa orang di luar kelompok mereka adalah murtad, kafir dan darahnya halal untuk dibunuh. Vonis mati bagi mereka yang berani menentangnya pun diberlakukan meski tanpa alasan yang jelas. Entah geledek datangnya dari mana sehingga kelompok mereka berani mengaku sebagai satu-satunya pemegang kebenaran mutlak dan representasi Islam sejati? Who do you think he ARE, dude??

Ironis ketika mereka memperlakukan Islam sebagai “produk” yang tak boleh disentuh kecuali bagi kelompok mereka. Ironis ketika mereka menggunakan Islam untuk kepentingan politis dan ekonomi mereka. Ironis ketika Islam tak ubahnya tameng untuk mempertahankan status-quo mereka. Ironis ketika Islam yang sejuk justru disalahgunakan sebagai senjata perang yang pamungkas atas nama jihad katanya. Tuhanku lebih baik daripada Tuhanmu. Bah…!

Memang sulit untuk membuat seseorang menjadi mengerti ketika mereka sudah mengkultuskan sesuatu (atau seseorang) secara berlebihan tanpa mau menerima perbedaan perspektif yang lain. Entah itu dengan cara menurut dan mempercayai 110% perkataan si Imam A, Habib B atau Ustadz C yang tidak lebih hanya manusia biasa. Naif kalau tidak mau dibilang dangkal. Sempit kalau tidak mau dibilang autis. Hehehe…

Tentu kita boleh kecewa dengan perlakuan Israel terhadap warga sipil di Palestina. Tentu kita sedih melihat kaum muslim ditindas di Ambon, Poso, Irak dan Afghanistan. Tentu kita miris kehilangan saudara-saudara muslim kita di Bosnia. Tetapi apa hak kita sebagai manusia biasa untuk memvonis mati mereka yang tidak tahu apa-apa tentang kondisi di atas? Apakah karena kita sudah cukup religius hanya karena sering shalat di masjid, puasa, mengaji atau menjadi laskar jihad? Apakah kita sudah merasa lebih mulia di mata Allah SWT dibandingkan mereka? Apakah para pembom bali atau teroris-teroris sejenis pernah merasa bahwa mereka mungkin tidak berbeda dengan kaum-kaum kafir lainnya yang pernah membantai kaum muslim tidak berdosa?

Ralph Boyce (mantan dubes AS untuk RI) pernah mengatakan bahwa citra Islam yang sejatinya cinta damai justru menjadi rusak oleh aktivitas kaum ekstrimis yang mengaku pembela Islam. Menurut saya Islam yang sejati hanya dapat diraih ketika kita sebagai muslim mampu mengintrospeksi dan mengkoreksi diri, toleran kepada kaum non-muslim lainnya dan menghargai perbedaan perspektif.

Selamat hari raya Idul Fitri 1428 Hijriyah, minal aidin wal faidzin semuanya . . .

4 comments

  1. hmmm setuju banget dengan pendapat loe Fin. Gw paling males dengan golongan ekstrimis yang memperjuangkan negara islam. Btw tanggal 27 bakal ada pesta Blogger, loe dateng gak?


  2. Wah!sekarang udah ada yg baru lagi yg ngaku2 jadi Rasul setelah Nabi Muhammad SAW. namanya Jamaah Al-Islamiyah yah di bekasi kalo ga salah.Shalat cuman sekali,ga perlu puasa pula.Dude!who do u think he ARE?? Aya aya wae!hehehe…
    Pesta Blogger?mau sih tapi mesti mesen tempat dulu n bayar pula.nanti aja deh kalo blog gw dah banyak.


  3. MARI KITA TEGAKKAN SYARIAT ISLAM!!!

    huekekekekekekekkekeke


  4. Wets!Tumben2an si Ibu satu ini baca blog gw.Huehehehe…Apa kabar bu?udah nikah yah?selamet yee…!

    Kapan nih maen2 lagi ke awiligar bandung?lumayan hiking di sana konsekuensinya bisa turun bero(TURBO).wakakaka…!

    AYO MARI KITA GALAKAN GERAKAN ISLAMI NASIONAL!



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: