h1

What if she’s the ONE?

October 10, 2007

Akhir-akhir ini saya selalu dihinggapi pertanyaan ini. Pertanyaan yang sederhana sebenarnya. Hanya terdiri dari 6 kata dan sebuah tanda tanya. Bahasa Inggris pula. Namun bagi sebagian orang jawabannya akan diulas berular-ular. Padahal yang dia minta mungkin tidak lebih dari satu paragraf atau sebuah tema klasik-Cinta. Basi yah?

Terkadang saya merasa aneh melihat orang mengekspresikan rasa cintanya melalui film, lagu atau buku dan kemudian dikomersialisasikan atas kepentingan bisnis. Cinta = Bisnis? Rasa-rasanya yang namanya perasaan cinta tidak sebobrok itu yah. Tapi yah terserah orang mau mengartikulasikannya dengan cara apa. Cinta itu subjektif dan tidak bebas nilai koq. Meskipun masih ada beberapa tema film romantis yang dodgy alias absurd seperti Love is Cinta atau Hate is Benci. Dude! Orang pacaran mesti difilmin yah?

Kembali, what if she’s the one? SIAPA subjek she itu? KENAPA selalu ada di benak saya padahal status saya masih menjadi single fighter? Could she be one of my long lost friend or someone who lives hundreds miles away? What if she turned out to be someone who has already dead? What if ‘she’ turned out to be ‘he’? Waduh!…Jangan sampe yah!

Saya tidak terlalu percaya Premonition. Hanya saja bagaimana anda tahu kalo she IS the ONE? Bagaimana anda bisa yakin jika ‘she’ adalah seseorang yang bakal menemani anda in the next 20 years or more? ‘she’ yang selalu ada di menyejukkan hati anda ketika anda sedang resah? ‘she’ yang anda cintai? Mungkin ada benarnya kata mereka bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan ini hanyalah sebuah takdir. Saya percaya adanya sebuah takdir. Definisi takdir berbeda dengan nasib. Nasib adalah “nahkoda” yang mengendalikan hidup kita jika kita kehilangan kendali atas apa yang terjadi pada kita. Sementara takdir adalah apa yang selalu ingin seseorang capai. Semakin dekat seseorang dalam mewujudkan takdirnya, semakin takdir menjadi alasan sejati keberadaannya (Paulo Coelho, The Alchemist). Begitu pula pemahaman konsep cinta.

Sebenarnya, apa sih artinya cinta? Ada orang menginterpretasikannya sebagai rasa kagum yang dimanifestasikan sebagai sebuah pilihan yang rasional. Ada pula yang mengasumsikannya sebagai rasa kagum yang dimanifestasikan dalam bentuk nafsu biologis. Ada juga yang menjelaskannya dalam kerangka proses kimiawi (ini pasti orang ITB deh!). Pro dan kontra pun muncul bagi sebagian orang yang tidak mengerti makna tersebut. Siapa pun bisa berpendapat. Namun memonopoli total hanya pada sebuah pilihan (rasional atau biologis) rasa-rasanya hampir tidak mungkin. Disadari atau tidak manusia pasti memiliki keduanya. Saya sendiri percaya bahwa cinta datang sebagai sesuatu yang given. Ia tidak bisa ditawar-tawar lagi kapan dan dimana dia bakal muncul. Keberadaannya adalah sebuah pencapaian yang tidak mengenal ruang dan waktu.

Sungguh senang rasanya melihat banyak teman-teman seangkatan saya yg sudah menikah dan memiliki anak. The ONE menemukan the other ONE. Semuanya hanyalah masalah waktu. Mereka berkomitmen dengan pasangannya untuk menginstitusikan cinta ini ke sebuah jenjang pernikahan. Dan menurut pengakuan mereka, hidup mereka jauh lebih berarti dan bahagia setelah menikah dan lebih jauh berarti lagi setelah dianugerahi seorang anak. Tentunya setelah mereka mempersiapkan segalanya secara total, kebahagiaan pun akan menjadi sebuah pencapaian takdir yang luar biasa hingga mereka tua nanti.

Fase berikutnya, dalam kematian, konon segalanya menjadi sangat jelas. Karena jika kematian menghampiri seseorang, dia tidak memikirkan seberapa sakit dia akan menderita atau seberapa banyak harta yang akan dia tinggalkan, tetapi dia akan memikirkan siapa yang akan mendampingi istrinya, menemani anak-anaknya dan cucunya setelah dia mati nanti. Setelah itu ketika dia tahu bahwa perjalanannya di dunia sudah mencapai titik akhir, segala keraguan di hatinya menjadi jelas. Dia tidak pernah merasa cukup untuk melakukan yang terbaik untuk mereka selama dia masih hidup. Dia akhirnya sadar bahwa kadar cintanya kepada keluarganya sudah jauh di ambang batas normal. Next thing he knows, dia sudah terbaring kaku dikelilingi oleh keluarga, kerabat dan sahabat-sahabatnya yang terus mendoakan mereka. Sebagian ada yang mengaji, sebagian lagi ada yang menshalatinya dan sebagian lagi ada yang membuka tutup wajahnya sambil berbisik “Jangan khawatir”, kata mereka. “beristirahatlah dengan tenang karena suatu saat nanti kita pun akan bertemu kembali…”.

Dia ingin membalasnya untuk menitipkan keluarganya. Sayang, jasadnya bukan lagi menjadi miliknya. Dia telah pergi untuk selamanya. Tetapi kekhawatiran dia hilang setelah dia sejenak menyadari bahwa di dunia ini, hanya ada satu konsep yang mutlak dialami manusia: Kematian. Dia hanya perlu menunggu dan yakin bahwa mereka akan menepati janjinya . . .

Anyway, saya belum pernah merasakan cinta yang benar-benar rasional. Menjalani hubungan interpersonal secara khusus pun (alias pacaran) hanya bisa dihitung jari kanan saya. Alih-alih pernah merasakan rasanya cinta rasional seperti apa, saya malah lebih banyak merasakan faktor yang kedua (nafsu biologis). Tidak perlu munafik. Is there any fine line between those two?

Walhasil, rasa bosan dan menikmati hubungan itu secara temporal pun sering saya alami. Akhirnya, perasaan “She’s not sexually attracted to me anymore” meruntuhkan semuanya. Padahal niatan awal saya untuk menjalani suatu hubungan adalah baik dan melihatnya dalam sebuah kerangka jangka panjang. Memang benar perasaan hati tidak bisa dimanipulasi bagaimana pun caranya. Waktu memberikan saya pelajaran yang berarti. Rasionalitas cinta belum tentu membutuhkan dia yang cantik, dia pun tidak perlu sempurna dan dia tidak perlu memiliki segalanya. “Sometimes perfect is not always what you need” adalah sebuah hikmah yang berharga.

She…Dia tidak perlu sempurna segalanya. Terkadang kecacatannya justru menjadikan dia sungguh sempurna. Ketololannya justru membuat dia menjadi seorang yang jenius. Dan ketika anda telah menemukannya dalam sebuah momentum, segalanya menjadi sangat jelas. Anda akan berbuat apa saja demi dia secara tulus. Ketika anda berhasil mendapatkannya dan membangun semuanya, anda tidak pernah khawatir tentang ketidaksempurnaannya. Alih-alih selalu merasa curiga dengan aktivitas sosialnya yang mungkin akan mengganggu hubungan anda tanpa alasan yang jelas, anda justru akan selalu mempercayai kesetiaannya karena telah mencapai takdir apa adanya. Konsep kesetiaan tidak bisa digeneralisasi hanya melalui kerangka hitam atau putih. Anda akan cukup bahagia karena sadar semua yang anda berikan tidak akan pernah cukup sampai anda mati nanti. Tetapi berbahagialah, justru dengan demikian, anda telah menemukan the ONE.

3 comments

  1. you can never be 100% sure about it. is she the one? well, we did it just like that. step by step, believing we’re the ones for ourselves. we live believing it, day by day.

    just believe it, and put your ass into it. hehehehe..


  2. “believing we’re the ones for ourselves”
    –>Ambigu n kurang ngerti maxudnya apaan? but it’s good to be single anyway. Hehehe…


  3. lagi biru membiru yah perasaannya?”:)

    ingat aja Hukum kekekalan Illahi (lupa yang keberapanya):

    “KepunyaanNya lah semua yang ada di langit dan di bumi. ”
    Semua? berarti termasuk juga diri kita, nasib dan takdir kita,
    ataupun juga “seseorang” yang kita cinta dan sayangi.
    Semuanya milik Illahi Robb.

    take care:)



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: