h1

Pangandaran Rebuilding (2)

September 17, 2007

08092007189.jpgSalah satu tujuan saya pergi ke pantai Pangandaran adalah untuk mengetahui seberapa besar efek destruktif yang ditimbulkan oleh bencana tsunami setahun yang lalu. Memang jika dilihat dari puing-puing bangunan yang hancur, ombak tsunami di Pangandaran tidak sebesar tsunami di Aceh tahun 2004 silam. Banyak saksi yang mengatakan bahwa ombak kala itu mencapai 10 meter dan sempat terhalang oleh tanggul di pantai Timur. Belum lagi letak geografis pantai Pangandaran yang berupa teluk dapat meminimalisir impact yg ditimbulkan oleh gelombang tsunami. Korban jiwa mencapai puluhan orang. Mungkin warga sekitar juga sudah belajar dari bencana di Aceh. Ironisnya, alat pendeteksi tsunami tidak bekerja saat dibutuhkan. Bukan karena pemerintah dan institusi terkait tidak becus meng-install alat tersebut tetapi karena beberapa parts alat tersebut telah dicuri oleh warga lokal.

080920071881.jpg

Baru-baru ini telah terjadi gempa marathon 3 hari berturut-turut di Bengkulu, Padang dan kepulauan Mentawai. Jika dilihat secara geografis, lokasi-lokasi yang terkena gempa memang terletak di dekat garis pergerakan kerak bumi. Gempa berkisar antara 5 sampai 7 skala Richter ini terjadi karena pergeseran lempeng plat tektonik Indo-Australis yang tidak stabil akhir-akhir ini. Memang jika dilihat melalui peta garis kerak bumi antara pantai selatan Jawa hingga daerah barat Sumatera, semuanya menyatu dalam satu garis. Para ahli menyebutkan bahwa kepulauan Indonesia memang termasuk ke dalam Ring of Fire. Beruntung gempa kemarin tidak menimbulkan tsunami.

Sebenarnya, munculnya tsunami tidak selalu dimonopoli oleh gempa vertikal bawah laut. Menurut National Geographic Channel, setidaknya ada 3 faktor kemungkinan lain yang dapat menimbulkan tsunami besar yaitu aktivitas vulkanik dalam laut, meteor yang menubruk laut secara langsung, dan longsor besar dari daerah pegunungan. Dari ketiga faktor kemungkinan tersebut, hanya kemungkinan kedua yang belum terjadi kecuali dalam film Deep Impact-efek destruktif yg ditimbulkan kemungkinan hampir sama seperti yg divisualisasikan di film tersebut.

Faktor yang pertama tentu saja siapa yang tidak ingat tsunami yang ditimbulkan oleh meletusnya gunung Krakatau tahun 1883. Letusan dahsyat yang efek getarannya dirasakan hingga di benua Amerika menimbulkan ombak besar setinggi 50-70 meter dan menghancurkan sebagian besar kawasan Lampung dan Jawa Barat terutama Anyer. Bencana ini memakan korban jiwa 40.000 orang dan sudah termasuk banyak jika dihitung pada masa itu.

Tsunami yang umumnya terjadi adalah dikarenakan gerakan vertikal pada kerak bumi, dapat mengakibatkan dasar laut naik atau turun secara tiba-tiba, yang mengakibatkan gangguan keseimbangan air yang berada di atasnya. Hal ini mengakibatkan terjadinya aliran energi air laut, yang ketika sampai di pantai menjadi gelombang besar yang mengakibatkan terjadinya tsunami. Gerakan vertikal ini dapat terjadi pada patahan bumi atau sesar. Gempa bumi juga banyak terjadi di daerah subduksi, dimana lempeng samudera menelusup ke bawah lempeng benua.

Tsunami jenis inilah yang terjadi di Aceh akhir tahun 2004. Ombak yang dihasilkan sekitar 30-50 meter dan menghantam langsung ke daerah-daerah Aceh barat seperti Meulaboh dan Lhoknga. Efek tsunami pun dapat dirasakan hingga daerah pesisir Afrika timur. Sekitar 250.000 orang lebih dinyatakan meninggal dalam waktu sehari saja. Selain pantai Pangandaran, pada tahun 1755, tsunami jenis ini pun pernah menghantam Lisabon, Portugal dan menelan korban jiwa sekitar 70.000 orang.

Faktor penyebab tsunami yang ketiga adalah longsor. Hal ini dapat terjadi bila air dalam jumlah massa yang sangat besar seperti danau, sungai atau laut berhadapan langsung dengan gunung. Pada tahun 1990an, tsunami yang disebabkan oleh longsor bebatuan lereng gunung pernah terjadi di daerah terpencil di Alaska. Kejadiannya pun bukan di laut-seperti umumnya terjadi-tetapi di sebuah danau besar yang dikelilingi oleh pengunungan terjal. Efek gelombang pasang yang ditimbulkan adalah yang paling tinggi sepanjang sejarah bencana tsunami; 534 meter!. Bayangkan anda ditelan ombak setinggi itu. Hanya ada dua orang survivor dalam bencana itu-dan dua orang korban jiwa juga.

Menarik untuk disimak bahwa kedua survivor tersebut bersaksi bahwa mereka sedang memancing dengan menggunakan perahu di tengah danau ketika longsor terjadi. Tiba-tiba dalam hitungan detik muncul gelombang dahysat setinggi gunung menghampiri mereka. Mereka tidak bisa berbuat banyak untuk kabur karena memang semuanya sudah terlambat. Namun apa yang terjadi selanjutnya tidak dapat mereka bayangkan. Mereka bersama perahu yang mereka tumpangi terangkat oleh ombak hingga ke puncak ombak. Dari sana mereka dapat melihat sekeliling dan sadar bahwa mereka telah terangkat hingga setinggi puncak gunung sekelilingnya. Kemudian terbawa turun hingga ke belakang ombak dan begitu seterusnya hingga air danau kembali tenang. Mereka pun selamat.

Dua orang korban jiwa lainnya ternyata warga lokal yang kebetulan berada di darat. Media massa tidak terlalu mengekspose bencana ini karena kejadian ini berlokasi di daerah terpencil dan sepi populasi. Namun para ahli yang datang keesokan harinya yakin bahwa ”sesuatu yg masif” telah terjadi di daerah ini jika melihat dari efek destruktif yang mengerikan. Pepohonan di sekitar danau rata diterjang ombak. Cukup mengerikan juga.

Tsunami sebesar itu memang tidak terjadi di Bengkulu. Namun para ahli memperingatkan bahwa ada sebuah lempeng bumi yang rawan gempa dan berpotensi menimbulkan tsunami dahsyat. Lempeng itu terletak di daerah lautan Pasifik bernama circum-Pacific seismic belt atau disebut dengan Pasific Ring of Fire. Masalah kapan bencana itu terjadi, hanya tinggal menunggu waktu saja.

Tulisan saya udah kayak ensiklopedia aja yah? Hehehe… Yang jelas, saya percaya bahwa bencana alam seperti ini adalah sesuatu yg given dan bukanlah pilihan yang rasional manusia. Siapa sih yang dapat menghentikan pergerakan lempeng bumi dan mencegah efek tsunami setelahnya? Yang dapat dikatakan pilihan rasional manusia adalah bagaimana kita berusaha mengantisipasi dan meminimalisir bencana yg akan dan sudah terjadi. Sudah saatnya kita berhenti menyalahkan alam terhadap hal ini.

Save as many as you can…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: