h1

Pangandaran Rebuilding (1)

September 17, 2007

08092007183.jpgMinggu lalu saya berkesempatan mengunjungi pantai Pangandaran. Hitung-hitung munggahan sebelum berpuasa.Hehe…

Jarak antara Bandung dengan Pangandaran cukup ditempuh melalui jalan darat selama 5 jam. Sejak kecil saya sudah familiar dengan kondisi perjalanan Bandung-Pangandaran karena memang tempat wisata favorit keluarga saya. Mulai dari titik-titik kemacetan, tempat rawan kecelakaan hingga tempat makan favorit. Salah satunya adalah Sari Ponyo yang terletak di kota Ciamis (2 jam sebelum Pangandaran).

Restorannya kecil dan sederhana, hanya warung nasi biasa. Namun masakan-masakan khas Sunda-nya yang masih bercita rasa asli membuat saya ketagihan untuk selalu datang ke tempat ini. Tempat yang hampir tidak pernah saya lewati jika berpergian ke Pangandaran. Nah jika anda berpergian ke Pangandaran dan ingin mencicipi masakan khas Sunda, saya merekomendasikan beberapa restoran Sunda lainnya yang bisa dilewati seperti Manjabal atau Cibiuk. Keduanya pun punya speciality masing-masing seperti Gurame cobeknya Manjabal atau sambal terasinya Cibiuk. Keduanya memiliki konsistensi rasa yang tidak berubah sejak dulu.

Sesampainya di Pangandaran, saya cukup kaget melihat perubahan yg cukup mencolok sejak bencana Tsunami setahun silam. Sepi! Sungguh keueum ceuk orang Sunda mah. Saya masih ingat ketika berpergian ke Pangandaran dahulu kita harus membooking hotel sebulan sebelumnya karena selalu full-booked. Pangandaran memang salah satu tempat wisata terfavorit di Jawa Barat. Tidak hanya pantainya yang nyaman, tempat wisata yg lainnya seperti Cagar Alam, Batu Karas, Karang Nini dan Batu Hiu merupakan tempat-tempat menarik lainnya yang bisa ditawarkan di Pantai Pangandaran ini.

Sekarang, alih-alih harus memesan hotel terlebih dahulu, justru pegawai-pegawai hotel yang harus datang ke kami dan menawarkan hotel mereka yang kosong dengan harga-harga yang bervariasi. Beruntung kita sudah memiliki hotel langganan yang selalu kita inap setiap datang ke sini. Beruntung pula hotel ini masih utuh karena ombak tsunami hanya menggenangi sebagian kecil komplek hotel. Padahal secara geografis, hotel ini terletak dekat sekali dengan pantai.

Kami pun beristirahat sejenak untuk melepas lelah. Kemudian mencari makan malam di sekitaran hotel. Pemandangan yang mencolok pun sangat terasa malam ini. Sepi tetapi damai. Hanya beberapa turis asing saja yang terlihat nongkrong di cafe bersama keluarganya dan beberapa warga menjajakan kaus dan barang dagangannya. Saya pun berkesempatan melihat puing-puing bangunan bekas bencana tsunami. Beberapa diantaranya sudah dibangun kembali, tetapi beberapa diantaranya dibiarkan begitu saja (terutama bangunan milik Pemda). Ada pula proyek pembangunan “benteng” di pinggir pantai sebagai penahan ombak. Lebih jauh menyusuri pantai barat, bekas-bekas bangunan saksi bisu bencana tsunami masih tampak jelas terlihat dan tak ada niatan untuk membangunnya kembali.

07092007172.jpg08092007188.jpg

Keesokan pagi harinya, saya memberanikan diri mencebur di laut Pangandaran. Tentu saja perasaan insecure selalu menghinggap di diri saya karena yang berenang saat itu mungkin hanya 10 orang saja dan saya adalah orang yang berenang paling jauh. Kebetulan pantai sedang surut. Ombak dan arus pun tidak terlalu kencang. Nilai positif dari bencana tsunami adalah laut menjadi jauh lebih bersih ketimbang dulu. Tidak terasa 2 jam lebih saya berada di laut untuk berenang dan surfing. Nikmat rasanya. Saya memang anak gunung yang berjiwa pelaut. Bau amis maksudnya. Hehehe…

Wisata Kuliner di sebuah restoran di Pantai Timur Pangandaran adalah jadwal saya selanjutnya. Seafood yang segar khas Pangandaran membuat kadar kolesterol dalam darah saya meningkat tajam. Tapi berhubung sebentar lagi puasa, hajar aja bleh!. Meskipun bumbu-bumbu yang diracik di restoran ini memang terkesan seadanya, tetapi kesegaran hasil-hasil laut yang disajikan dapat menutupi kekurangan itu. Kepiting saus padang, Udang goreng mentega, udang rebus dan Ikan bakarnya…Ma’nyos…!

Berbeda dengan hari sebelumnya, tampaknya hari ini Pangandaran mulai ramai dikunjungi orang. Mungkin karena weekend. Turis-turis yang kebanyakan berasal dari daerah Jawa Barat dan sekitarnya mulai memenuhi hotel-hotel dan beramai-ramai bermain di pantai. Meskipun tidak seramai sebelum tsunami, tetapi industri pariwisata pantai Pangandaran sangat jelas mulai menggeliat. Mungkin hanya masalah waktu sampai pantai Pangandaran dibangun kembali secara total.

08092007197.jpg

Semoga sampai saatnya nanti, pantai Pangandaran masih dengan kesederhanaannya seperti dulu.

4 comments

  1. Btw Munggahan ritual apaan tuh Fin? Mungkin kalo di Jawa kayak ritual padusan gitu yah?


  2. Munggahan itu sejenis ritual orang Sunda sebelum bulan puasa. Yah kayak nyekar gitu deh. Minta maaf ke kerabat n temen2. kalo aktivitas gw ini sebenarnya ga bisa disebut munggahan karena ga ada ritual minta maaf dll tapi cuman liburan aja sebelum puasa. itu juga bisa disebut munggahan.
    kalo padusan apaan tuh?


  3. Pangandaran,,,,,
    i’m coming………………………….
    pokoknya keren lah tempat’y………….


  4. informasi online pangandaran, kunjungi http://www.infopangandaran.com

    terima kasih



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: