Archive for September, 2007

h1

Across The Sea

September 18, 2007

You are 18 year old girl who live in small city in Japan.
You heard me,
on the radio.
About one year ago and you wanted to know,
all about me,
and my hobbies.
My favorite food and my birthday

Why are you so far away from me?
I need help and you’re way across the sea
I could never touch you – I think it would be wrong
I’ve got your letter
you’ve got my song

They don’t make stationery like this where I’m from – so fragile, so refined
So I sniff
and I lick
your envelope and fall to little pieces every time
I wonder what clothes you wear to school
I wonder how you decorate your room
I wonder how you touch yourself
and curse myself for being across the sea

Why are you so far away from me?
I need help and you’re way across the sea
I could never touch you – I think it would be wrong
I’ve got your letter
you’ve got my song

At 10 I shaved my head and tried to be a monk
I thought the older women would like me if i did
You see mom, I’m a good little boy
It’s all your fault, momma.
It’s all your fault

Goddamn, this business is really lame
I gotta live on an island to find the juice
So you send me
your love
from all around the world
As if I could live on words and dreams and a million screams
oh, how I need a hand in mine to feel.

Why are you so far away from me?
Why are you so far away from me?
I could never touch you – I think it would be wrong
I’ve got your letter
you’ve got my song
I’ve got your letter
you’ve got my song

Song and lyrics written by Weezer dan dijiplak habis-habisan oleh saya dalam rangka yah iseng aja…;)

h1

Pangandaran Rebuilding (2)

September 17, 2007

08092007189.jpgSalah satu tujuan saya pergi ke pantai Pangandaran adalah untuk mengetahui seberapa besar efek destruktif yang ditimbulkan oleh bencana tsunami setahun yang lalu. Memang jika dilihat dari puing-puing bangunan yang hancur, ombak tsunami di Pangandaran tidak sebesar tsunami di Aceh tahun 2004 silam. Banyak saksi yang mengatakan bahwa ombak kala itu mencapai 10 meter dan sempat terhalang oleh tanggul di pantai Timur. Belum lagi letak geografis pantai Pangandaran yang berupa teluk dapat meminimalisir impact yg ditimbulkan oleh gelombang tsunami. Korban jiwa mencapai puluhan orang. Mungkin warga sekitar juga sudah belajar dari bencana di Aceh. Ironisnya, alat pendeteksi tsunami tidak bekerja saat dibutuhkan. Bukan karena pemerintah dan institusi terkait tidak becus meng-install alat tersebut tetapi karena beberapa parts alat tersebut telah dicuri oleh warga lokal.

080920071881.jpg

Baru-baru ini telah terjadi gempa marathon 3 hari berturut-turut di Bengkulu, Padang dan kepulauan Mentawai. Jika dilihat secara geografis, lokasi-lokasi yang terkena gempa memang terletak di dekat garis pergerakan kerak bumi. Gempa berkisar antara 5 sampai 7 skala Richter ini terjadi karena pergeseran lempeng plat tektonik Indo-Australis yang tidak stabil akhir-akhir ini. Memang jika dilihat melalui peta garis kerak bumi antara pantai selatan Jawa hingga daerah barat Sumatera, semuanya menyatu dalam satu garis. Para ahli menyebutkan bahwa kepulauan Indonesia memang termasuk ke dalam Ring of Fire. Beruntung gempa kemarin tidak menimbulkan tsunami.

Sebenarnya, munculnya tsunami tidak selalu dimonopoli oleh gempa vertikal bawah laut. Menurut National Geographic Channel, setidaknya ada 3 faktor kemungkinan lain yang dapat menimbulkan tsunami besar yaitu aktivitas vulkanik dalam laut, meteor yang menubruk laut secara langsung, dan longsor besar dari daerah pegunungan. Dari ketiga faktor kemungkinan tersebut, hanya kemungkinan kedua yang belum terjadi kecuali dalam film Deep Impact-efek destruktif yg ditimbulkan kemungkinan hampir sama seperti yg divisualisasikan di film tersebut.

Faktor yang pertama tentu saja siapa yang tidak ingat tsunami yang ditimbulkan oleh meletusnya gunung Krakatau tahun 1883. Letusan dahsyat yang efek getarannya dirasakan hingga di benua Amerika menimbulkan ombak besar setinggi 50-70 meter dan menghancurkan sebagian besar kawasan Lampung dan Jawa Barat terutama Anyer. Bencana ini memakan korban jiwa 40.000 orang dan sudah termasuk banyak jika dihitung pada masa itu.

Tsunami yang umumnya terjadi adalah dikarenakan gerakan vertikal pada kerak bumi, dapat mengakibatkan dasar laut naik atau turun secara tiba-tiba, yang mengakibatkan gangguan keseimbangan air yang berada di atasnya. Hal ini mengakibatkan terjadinya aliran energi air laut, yang ketika sampai di pantai menjadi gelombang besar yang mengakibatkan terjadinya tsunami. Gerakan vertikal ini dapat terjadi pada patahan bumi atau sesar. Gempa bumi juga banyak terjadi di daerah subduksi, dimana lempeng samudera menelusup ke bawah lempeng benua.

Tsunami jenis inilah yang terjadi di Aceh akhir tahun 2004. Ombak yang dihasilkan sekitar 30-50 meter dan menghantam langsung ke daerah-daerah Aceh barat seperti Meulaboh dan Lhoknga. Efek tsunami pun dapat dirasakan hingga daerah pesisir Afrika timur. Sekitar 250.000 orang lebih dinyatakan meninggal dalam waktu sehari saja. Selain pantai Pangandaran, pada tahun 1755, tsunami jenis ini pun pernah menghantam Lisabon, Portugal dan menelan korban jiwa sekitar 70.000 orang.

Faktor penyebab tsunami yang ketiga adalah longsor. Hal ini dapat terjadi bila air dalam jumlah massa yang sangat besar seperti danau, sungai atau laut berhadapan langsung dengan gunung. Pada tahun 1990an, tsunami yang disebabkan oleh longsor bebatuan lereng gunung pernah terjadi di daerah terpencil di Alaska. Kejadiannya pun bukan di laut-seperti umumnya terjadi-tetapi di sebuah danau besar yang dikelilingi oleh pengunungan terjal. Efek gelombang pasang yang ditimbulkan adalah yang paling tinggi sepanjang sejarah bencana tsunami; 534 meter!. Bayangkan anda ditelan ombak setinggi itu. Hanya ada dua orang survivor dalam bencana itu-dan dua orang korban jiwa juga.

Menarik untuk disimak bahwa kedua survivor tersebut bersaksi bahwa mereka sedang memancing dengan menggunakan perahu di tengah danau ketika longsor terjadi. Tiba-tiba dalam hitungan detik muncul gelombang dahysat setinggi gunung menghampiri mereka. Mereka tidak bisa berbuat banyak untuk kabur karena memang semuanya sudah terlambat. Namun apa yang terjadi selanjutnya tidak dapat mereka bayangkan. Mereka bersama perahu yang mereka tumpangi terangkat oleh ombak hingga ke puncak ombak. Dari sana mereka dapat melihat sekeliling dan sadar bahwa mereka telah terangkat hingga setinggi puncak gunung sekelilingnya. Kemudian terbawa turun hingga ke belakang ombak dan begitu seterusnya hingga air danau kembali tenang. Mereka pun selamat.

Dua orang korban jiwa lainnya ternyata warga lokal yang kebetulan berada di darat. Media massa tidak terlalu mengekspose bencana ini karena kejadian ini berlokasi di daerah terpencil dan sepi populasi. Namun para ahli yang datang keesokan harinya yakin bahwa ”sesuatu yg masif” telah terjadi di daerah ini jika melihat dari efek destruktif yang mengerikan. Pepohonan di sekitar danau rata diterjang ombak. Cukup mengerikan juga.

Tsunami sebesar itu memang tidak terjadi di Bengkulu. Namun para ahli memperingatkan bahwa ada sebuah lempeng bumi yang rawan gempa dan berpotensi menimbulkan tsunami dahsyat. Lempeng itu terletak di daerah lautan Pasifik bernama circum-Pacific seismic belt atau disebut dengan Pasific Ring of Fire. Masalah kapan bencana itu terjadi, hanya tinggal menunggu waktu saja.

Tulisan saya udah kayak ensiklopedia aja yah? Hehehe… Yang jelas, saya percaya bahwa bencana alam seperti ini adalah sesuatu yg given dan bukanlah pilihan yang rasional manusia. Siapa sih yang dapat menghentikan pergerakan lempeng bumi dan mencegah efek tsunami setelahnya? Yang dapat dikatakan pilihan rasional manusia adalah bagaimana kita berusaha mengantisipasi dan meminimalisir bencana yg akan dan sudah terjadi. Sudah saatnya kita berhenti menyalahkan alam terhadap hal ini.

Save as many as you can…

h1

Pangandaran Rebuilding (1)

September 17, 2007

08092007183.jpgMinggu lalu saya berkesempatan mengunjungi pantai Pangandaran. Hitung-hitung munggahan sebelum berpuasa.Hehe…

Jarak antara Bandung dengan Pangandaran cukup ditempuh melalui jalan darat selama 5 jam. Sejak kecil saya sudah familiar dengan kondisi perjalanan Bandung-Pangandaran karena memang tempat wisata favorit keluarga saya. Mulai dari titik-titik kemacetan, tempat rawan kecelakaan hingga tempat makan favorit. Salah satunya adalah Sari Ponyo yang terletak di kota Ciamis (2 jam sebelum Pangandaran).

Restorannya kecil dan sederhana, hanya warung nasi biasa. Namun masakan-masakan khas Sunda-nya yang masih bercita rasa asli membuat saya ketagihan untuk selalu datang ke tempat ini. Tempat yang hampir tidak pernah saya lewati jika berpergian ke Pangandaran. Nah jika anda berpergian ke Pangandaran dan ingin mencicipi masakan khas Sunda, saya merekomendasikan beberapa restoran Sunda lainnya yang bisa dilewati seperti Manjabal atau Cibiuk. Keduanya pun punya speciality masing-masing seperti Gurame cobeknya Manjabal atau sambal terasinya Cibiuk. Keduanya memiliki konsistensi rasa yang tidak berubah sejak dulu.

Sesampainya di Pangandaran, saya cukup kaget melihat perubahan yg cukup mencolok sejak bencana Tsunami setahun silam. Sepi! Sungguh keueum ceuk orang Sunda mah. Saya masih ingat ketika berpergian ke Pangandaran dahulu kita harus membooking hotel sebulan sebelumnya karena selalu full-booked. Pangandaran memang salah satu tempat wisata terfavorit di Jawa Barat. Tidak hanya pantainya yang nyaman, tempat wisata yg lainnya seperti Cagar Alam, Batu Karas, Karang Nini dan Batu Hiu merupakan tempat-tempat menarik lainnya yang bisa ditawarkan di Pantai Pangandaran ini.

Sekarang, alih-alih harus memesan hotel terlebih dahulu, justru pegawai-pegawai hotel yang harus datang ke kami dan menawarkan hotel mereka yang kosong dengan harga-harga yang bervariasi. Beruntung kita sudah memiliki hotel langganan yang selalu kita inap setiap datang ke sini. Beruntung pula hotel ini masih utuh karena ombak tsunami hanya menggenangi sebagian kecil komplek hotel. Padahal secara geografis, hotel ini terletak dekat sekali dengan pantai.

Kami pun beristirahat sejenak untuk melepas lelah. Kemudian mencari makan malam di sekitaran hotel. Pemandangan yang mencolok pun sangat terasa malam ini. Sepi tetapi damai. Hanya beberapa turis asing saja yang terlihat nongkrong di cafe bersama keluarganya dan beberapa warga menjajakan kaus dan barang dagangannya. Saya pun berkesempatan melihat puing-puing bangunan bekas bencana tsunami. Beberapa diantaranya sudah dibangun kembali, tetapi beberapa diantaranya dibiarkan begitu saja (terutama bangunan milik Pemda). Ada pula proyek pembangunan “benteng” di pinggir pantai sebagai penahan ombak. Lebih jauh menyusuri pantai barat, bekas-bekas bangunan saksi bisu bencana tsunami masih tampak jelas terlihat dan tak ada niatan untuk membangunnya kembali.

07092007172.jpg08092007188.jpg

Keesokan pagi harinya, saya memberanikan diri mencebur di laut Pangandaran. Tentu saja perasaan insecure selalu menghinggap di diri saya karena yang berenang saat itu mungkin hanya 10 orang saja dan saya adalah orang yang berenang paling jauh. Kebetulan pantai sedang surut. Ombak dan arus pun tidak terlalu kencang. Nilai positif dari bencana tsunami adalah laut menjadi jauh lebih bersih ketimbang dulu. Tidak terasa 2 jam lebih saya berada di laut untuk berenang dan surfing. Nikmat rasanya. Saya memang anak gunung yang berjiwa pelaut. Bau amis maksudnya. Hehehe…

Wisata Kuliner di sebuah restoran di Pantai Timur Pangandaran adalah jadwal saya selanjutnya. Seafood yang segar khas Pangandaran membuat kadar kolesterol dalam darah saya meningkat tajam. Tapi berhubung sebentar lagi puasa, hajar aja bleh!. Meskipun bumbu-bumbu yang diracik di restoran ini memang terkesan seadanya, tetapi kesegaran hasil-hasil laut yang disajikan dapat menutupi kekurangan itu. Kepiting saus padang, Udang goreng mentega, udang rebus dan Ikan bakarnya…Ma’nyos…!

Berbeda dengan hari sebelumnya, tampaknya hari ini Pangandaran mulai ramai dikunjungi orang. Mungkin karena weekend. Turis-turis yang kebanyakan berasal dari daerah Jawa Barat dan sekitarnya mulai memenuhi hotel-hotel dan beramai-ramai bermain di pantai. Meskipun tidak seramai sebelum tsunami, tetapi industri pariwisata pantai Pangandaran sangat jelas mulai menggeliat. Mungkin hanya masalah waktu sampai pantai Pangandaran dibangun kembali secara total.

08092007197.jpg

Semoga sampai saatnya nanti, pantai Pangandaran masih dengan kesederhanaannya seperti dulu.

h1

Kuro-Hana; Death Note

September 6, 2007

death-note-picture.jpgSalah satu hobi yang sudah jarang saya tekuni adalah menonton kartun asal Jepang atau lebih dikenal dengan Anime. Saya masih ingat ketika booming anime sekitar tahun 1990an, hampir semua televisi menayangkan anime-anime yang bergenre fantasi polos. Mulai dari pelopor-pelopor anime di TV lokal yaitu Doraemon, Sailor Moon atau Dragon Ball selalu saya ikuti setiap serinya. Sekarang, variasi anime sudah sangat banyak mulai dari Rurouni Kensheen, One Piece atau Naruto. Namun sayang, mindset para produser TV lokal masih menganggap bahwa film kartun apa pun bentuknya adalah produk yang dikhususkan bagi anak-anak kecil sehingga harus dikontrol penyiarannya.

Sebenarnya pola pikir seperti ini tidak salah sama sekali. Memang betul banyak anime yang mengvisualisasikan adegan sadis bahkan pornografi (walaupun mereka mengemasnya dengan sisi artistik yang memukau). Tetapi terlepas dari kenyataan itu, tidak sedikit juga anime yang memiliki alur dan substansi cerita yang “out of ordinary”. Imanjinasi-imajinasi yang simple dapat dibuat luar biasa jika dikemas oleh orang (dan otak) yang benar. Salah satunya adalah anime yang berjudul Death Note yang diciptakan oleh Tsugumi Ohba sekitar tahun 2003 di Jepang. Saya pertama kali mengikuti anime ini ketika berada di Australia atas rekomendasi dari seorang teman (Thank’s to Weka).

Ceritanya diawali dengan seorang anak SMU berprestasi di Jepang bernama Yagami Light yang sudah muak melihat busuknya dunia ini akibat manusia-manusia dengan aksi-aksi kejahatannya. Di dalam kebosanannya, dia mendapati sebuah “kekuatan” yang diperolehnya dari Shinigami (dewa kematian) bernama Ryuk yang memungkinkan dia membunuh orang-orang yang dia anggap jahat. Uniknya, senjata yang dia pakai untuk membunuh bukanlah semacam high-tech Weapon of Mass Destruction, melainkan hanya sebuah notebook bernama Death Note. Buku tulis ini sebelumnya dimiliki oleh Ryuk yang sengaja dia jatuhkan dari alam kematian.

Buku ini memiliki beberapa ground rules seperti: orang yang namanya dicatat di buku ini akan mati dalam waktu 40 detik. Syarat utamanya adalah si pemegang buku harus hafal nama lengkap dan wajah si korban yang akan dia bunuh. Jadi orang yang kebetulan memiliki nama yang sama tidak akan mati. Begitu pula jika si pembunuh salah mengeja nama korban. Si pemilik buku pun bisa mengontrol waktu dan cara kematian bila dia menuliskan detailnya. Efeknya akan muncul setelah 6 menit 40 detik. Bila tidak, kematian hanya akan terjadi melalui gagal jantung biasa. Halaman-halaman dalam buku ini tidak akan habis dan orang yang menggunakan buku ini tidak akan masuk surga maupun neraka. Di luar itu, ada pula sebuah kesepakatan yang hanya bisa terjadi antara si pemilik buku dengan Shinigami-nya. Artinya, orang yang melakukan kesepakatan ini dapat memiliki kekuatan “Shinigami eyes” yang memungkinkan dia dapat melihat life-span dan nama seseorang hanya dengan melihat wajahnya saja. Sebagai konsekuensi bagi orang yang melaksanakan kesepekatan ini, umurnya akan dikurangi setengah dari seluruh hidupnya.

Yagami Light mencoba untuk memverifikasi kekuatan dari Death Note ini-tanpa kesepakatan Shinigami eyes-dan akhirnya terbukti setelah dia membunuh dua penjahat hanya dengan menuliskan nama dan menghafalkan wajahnya. Meskipun sempat mengalami moral dillema, Light akhirnya mengakui kekuatan Death Note dan bertemu Ryuk untuk pertama kalinya. Dia menggunakan catatan ini untuk menghukum para penjahat di luar sana dan memberikan keadilan mutlak. Tujuannya untuk menciptakan sebuah dunia yang ideal, sebuah tata dunia baru yang bersih dari kriminalitas dan menjadikan dia sebagai tuhannya. Caranya dengan meng-hack database profil-profil kriminal dan mafia dari kepolisian melalui internet. Karena dia tidak memiliki Shinigami eyes jadi yang dia perlukan hanya foto wajah dan nama lengkap seseorang yang akan dia bunuh. Pembunuhan massal pun terjadi di seluruh dunia dengan target para pelaku kejahatan-apa pun bentuk dan skalanya. Publik hanya mengenal pelaku pembunuhan dengan nickname “Kira” (Yang berarti pembunuh atau Killer dalam ucapan Jepang). Sementara identitas aslinya tidak ada yang tahu.

Pembunuhan misterius berskala besar ini mendapat perhatian serius dari Interpol. Mereka sepakat untuk meminta bantuan detektif misterius berkode “L” yang terkenal dapat memecahkan pembunuhan misterius serumit apa pun. L kemudian mempelajari kasus ini dan menduga Kira berlokasi di Jepang dan dapat membunuh tanpa perlu menyentuh korbannya. Kenyataan seperti itu membuat Light sadar bahwa L adalah musuh terkuatnya. Celakanya, karena Light tidak memiliki kemampuan Shinigami eyes, Light harus memperoleh nama lengkap “L” yang tidak diketahui oleh siapa pun. Permainan (baca: perang) psikologis cat and mouse pun dimulai.

Untuk menonton anime ini membutuhkan konsentrasi yang cukup untuk mengerti alur serta plot-plotnya secara detail. Selain efek suara dan gambar yang menakjubkan, Death Note memberikan cerita yang miskin aksi tapi kaya akan perbincangan antar karakternya. Intrik-intrik psikologis ditambah sedikit intervensi supranatural menuntut penonton untuk menebak-nebak akhir cerita ini. Anime ini sangat cocok bagi mereka yang menyukai cerita detektif dan teka-teki yang menuntut otak bekerja ekstra keras.

Anime Death Note terdiri dari 37 episode. Jumlah episode yang pas untuk dinikmati secara komprehensif. Tidak terlalu pendek tapi juga tidak terlalu panjang sehingga membuat penonton kebosanan. Anime ini pun sudah mulai ditayangkan di Eropa, Amerika Utara bahkan Kanada. Semoga Indonesia tidak lama lagi juga akan menayangkannya. Tanpa dubbing tentunya. Hehehe…

Nah, jika anda memiliki Death Note, nama-nama siapa saja yang kira-kira akan anda catat? Pejabat dan aparat korup? Kroni-kroni Soeharto? Pembobol BLBI? Teroris? Mafia? Penjahat-penjahat kelas menengah ke bawah? Artis ga penting? Atau bahkan Aktivis ekstrim? Rasa-rasanya it’s too good to be true yah?

h1

DEPLU: Mission Impossible?

September 4, 2007

Akhirnya setelah dipending selama hampir 3 tahun, hari sabtu kemarin (1/9) saya mengikuti ujian masuk CPNS DEPLU 2007 sebagai Pejabat Diplomatik dan Konsuler (PDK). Sebenarnya alasan saya mengikuti tes ini karena memang sampai saat ini saya belum bekerja di perusahaan mana pun yang saya lamar. Selain karena memang saya rada picky tapi sebenarnya ada sedikit harapan untuk bekerja menjadi PNS di DEPLU. Meskipun jika dilihat dari kuantitas para pelamar yang hampir 10.000 orang dengan kuota penerimaan hanya 100 orang, ditambah lagi saya tidak memiliki kenalan sama sekali di departemen yang sarat dengan nepotism ini, chance saya mungkin hanya 1:1000. Rasa-rasanya hampir tidak mungkin saya bisa lolos hingga tahap terakhir.

Jadi apa yah yg membuat saya menjadi apatis? Sebenarnya saya sudah mempersiapkan ujian ini dengan belajar materi-materi kuliah yg terdahulu. Hanya saja banyak pertanyaan yg saya tidak antisipasi. Selain salah strategi, manajemen waktu saya pun terbilang jelek.

Dalam waktu 3 jam, saya terlalu banyak menjawab pertanyaan essay bahasa Indonesia yang hanya berbobot 30%. Pertanyaan bahasa Inggris yang berbobot 50% pun akhirnya hanya saya jawab singkat (tapi tidak padat) dalam waktu hanya satu jam saja. Terbengkalainya bagian ini memang kesalahan saya yg tidak saya perkirakan sebelumnya.

Memang, kalau dilihat dari materi pertanyaan yang mereka ajukan, semuanya adalah pertanyaan-pertanyaan pragmatis dengan bahasa koran biasa. As a consequence, orang awam yang sama sekali tidak tahu Hubungan Internasional pun bisa menjawabnya asal nalarnya jalan. Hanya saja saya tidak tahu apa yang mereka minta dari jawaban yg saya beri. Apakah dituntut objektifitas saya atau jawaban yang sesuai dengan kepentingan mereka? Misalnya pertanyaan mengenai Hak Interpelasi DPR mengenai dukungan RI di Dewan Keamanan PBB atas sanksi terhadap Iran. Saya ingat saya pernah menulis artikel mengenai ini dan mengirimnya ke koran. namun itu sudah lama sekali dan saya sudah lupa substansi pemikiran saya.

Banyak hal lain yang saya tidak antisipasi sebelumnya dalam ujian ini. Alih-alih mengantisipasi pertanyaan-pertanyaan seputar teori, yang saya dapati adalah pertanyaan-pertanyaan seputar UUD 1945 dan pidato kepresidenan. Blunder saya ada di bagian ini. Belum lagi sejarah Organisasi Internasional yang saya pelajari semacam ASEAN atau PBB yang hampir tiap tahun muncul sebagai pertanyaan “wajib” dalam test deplu ternyata tidak diajukan sama sekali. ASEAN pun hanya muncul dalam satu soal saja yang berbobot tidak terlalu signifikan.

Yah mungkin Deplu bukan jalan saya untuk meniti karir. Beruntung untuk lulusan S2, saya masih diberi kesempatan untuk mengikuti ujian ini hingga umur 32 tahun. which is 6 years left to go. Belajar dari pengalaman sebelumnya, semoga saja yang berikutnya saya bisa diberi kesempatan bekerja di departemen ini secara jujur 🙂