h1

Who do you think he ARE???

August 6, 2007

Bukan! Ini bukan acara infotainment murahan yang bercerita tentang artis yang sedang berseteru dengan pacarnya. Kita tahu sendiri artisnya siapa bukan? Kalimat berbahasa Inggris yang salah di atas memang sangat fenomenal. Padahal kita semua tahu kalau si artis nih ngomong kalimat error tersebut sekitar tahun 1999-an. Hebatnya gemanya terngiang-ngiang hingga sekarang! Sebuah kesalahan total. Grammar macam apa itu? Coba, Who do you think he ARE? He ARE?! Yah…da ‘he’ teh JAMAK WAEEE!

“Who do you think he ARE?”

What does the woman imply?


Anyway, di halaman ini, saya ingin bercerita tentang profesi aktivis yang banyak digeluti orang-orang khususnya setelah pada tahun 1998 Soeharto turun dari kekuasaannya. Sebenarnya, menjadi aktivis adalah profesi yang mulia dan cukup menantang jika dia benar-benar berkomitmen pada idealismenya untuk menegakan keadilan. Tentu saja, dia berkomitmen untuk kepentingan rakyat banyak dan biasanya diselingi dengan pandangan-pandangan dia tentang ketidakadilan sosial, ekonomi, politik, lingkungan dan masalah global lainnya. Biasanya tidak selalu dalam bentuk konsolidasi massa tetapi juga dituangkan dalam bentuk buku atau jurnal. Seseorang menjadi aktivis biasanya jika ada salah satu dari keluarga atau kerabat mereka menjadi korban supresi otoritas penguasa dan militer. Ada pula yang ikut-ikutan menjadi aktivis supaya bisa bergabung dengan komunitas-komunitas atau forum tertentu. Ada juga yang ingin menjadikan kegiatan ini sebagai batu loncatan untuk bekerja di lembaga non-pemerintah yang membutuhkan pemikiran-pemikiran yang kritis dan terbuka.

Tetapi apa yang terjadi jika seorang aktivis menjalankan kegiatannya hanya untuk memanifestasikan ”semangat” perlawanannya secara dangkal? Lebih-lebih jika mereka melakukannya secara radikal dan tanpa basis yang komprehensif? Mereka menganggap semua yang dilakukan pemerintah, LSM atau pun masyarakat adalah salah dan patut dilawan demi sebuah idealisme yang ekstrim. Menjadi anarkhis dan apatis akan kondisi lingkungan di sekitarnya tentu sudah hal biasa bagi mereka. Sangat berbahaya jika aktivis seperti ini mampu mengkonsolidasi kekuatannya menjadi kekuatan yang besar yang akhirnya mampu menguasai pemerintahan dan masyarakat. Pada akhirnya, pemerintahan dan masyarakat yang mereka buat hanyalah sebuah eksperimen dari idealisme radikal mereka.

Rezim Khmer Merah di Kamboja yang disetiri oleh Pol Pot adalah salah satu contoh nyatanya. Jutaan rakyat sipil kamboja menjadi korban pembunuhan dari sebuah idealisme radikal yang gagal. Terlalu banyak korban hanya demi sebuah ide kesetaraan struktural saat itu. Sekarang, Khmer Merah mungkin sudah musnah. Namun saya yakin idealismenya masih banyak didambakan oleh aktivis-aktivis kiri radikal termasuk di Indonesia. Entah mungkin dilindungi oleh prinsip perjuangan antar kelas, demokrasi atau HAM yang jelas mereka yang dahulu pernah menjadi korban Orde Baru karena dituduh PKI tidak mungkin melewati kesempatan ”kebebasan mengemukakan pendapat” sekarang ini untuk kembali menanamkan idealisme dan cita-cita utopis mereka. Demi kesetaraan hak dan keadilan katanya…entah apa jadinya jika mereka berhasil menguasai Indonesia.

Meskipun demikian, ada juga cerita-cerita konyol yang dialami oleh aktivis dan aktivis-wanna-be yang pernah saya lihat dan dengar. Mulai dari seorang aktivis kiri yang akhirnya menjadi aktif di kegiatan MLM (Multi Level Marketing), ada juga aktivis-wanna-be, yang menganggap kegiatan MLM adalah sebagai produk kapitalis, yang ternyata namanya tertera di bagian distributor produk MLM tersebut. Atau aktivis yang saling berkelahi dengan aktivis yang lainnya hanya karena tidak menerima perbedaan ”aliran” mereka. Ada juga aktivis dengan banner bintang merah dan simbol tangan kiri yang dikepal yang kerjaannya melakukan agitasi (penghasutan) dan propaganda terhadap para buruh dan tani kemudian mengumpulkan mereka di suatu tempat dan berorasi untuk mendapatkan perhatian publik akan ide mereka. Kenyataan bahwa para kaum buruh dan tani tersebut tidak mengetahui apa yang mereka lakukan hampir mutlak di setiap acara demonstrasi. Mereka hanya menjadi objek politik. Ketika demonstrasi menjadi anarkhis karena ulah si penghasut lagi-lagi mereka hanya bisa jadi korban. Bahkan saya juga pernah mendengar ada beberapa aktivis yang sengaja menghilangkan diri dan pura-pura mengaku bahwa mereka diculik oleh aparat untuk mendapatkan tuntutan dan hak mereka. Namun ketika ada orang yang hendak mengkritik aktivitas mereka pasti sudah divonis pro-kapitalis, anti-demokrasi, penjahat HAM, musuh masyarakat bahkan pengecut. Ketika banyak orang yang mengutuk pemberian suaka kepada orang-orang Papua yang kabur ke Australia, mereka malah mendukungnya habis-habisan atas nama demokrasi dan HAM. Namun, ketika rakyat Indonesia mendukung Timnas PSSI yang berlaga di Piala Asia baru-baru ini, mereka malah memvonisnya sebagai bentuk Nasionalisme sempit. Ck…ck…ck…Maunya apa sih?

Tetapi ada kejadian lucu yang pernah saya dengar tentang protes aktivis. Ceritanya terjadi ketika beberapa aktivis melakukan aksi mogok makan di sebuah institusi pendidikan di Bandung. Saya lupa tuntutan mereka apa tapi yang jelas tidak terlalu penting hingga mahasiswa yang lain tidak terlalu mempedulikannya. Ketika pihak rektorat mengajak untuk berdiskusi mereka malah menolak dan lebih mengutamakan aksi mogok makan untuk menarik perhatian mahasiswa lainnya.

Setelah beberapa hari aksi ini berlanjut, tiba-tiba sebuah kasus penganiayaan terhadap para aktivis ini muncul ketika tengah malam mereka didatangi orang-orang yang tak dikenal dan memukul para aktivis ini hingga cedera. Spekulasi pun bermunculan ketika media massa mengangkat beritanya. Disinyalir pemukulan terhadap aktivis ini dilakukan oleh aparat keamanan yang disewa oleh pihak rektorat. Hipotesis klasik! Demonstrasi pun akhirnya selesai setelah ada konsensus antara pihak rektorat dengan para aktivis.

Kenapa hingga ada kasus pemukulan? Ternyata eh ternyata, beberapa bulan setelah kejadian tersebut, saya bertemu dengan ”oknum” pemukulan yang tidak lain dan tidak bukan adalah mahasiswa di institusi itu sendiri. Sebut saja namanya Dasuki (nama samaran yang aneh!). Dia bercerita bahwa ketika aksi mogok makan berlangsung, si Dasuki ini yang kebetulan menjadi pengurus salah satu unit kegiatan mahasiswa di institusi itu sedang sibuk mengerjakan persiapan acara yang akan dilangsungkan dalam waktu dekat. Pekerjaan dilakukan bersama teman-teman satu unitnya hingga tengah malam dengan persediaan logistik (termasuk makanan) seadanya karena harus memenuhi tenggat waktu.

Ketika sibuk-sibuknya bekerja, tiba-tiba mereka mencium aroma Indomie rebus dari kejauhan. Setelah dicek, ternyata aroma tersebut berasal dari posko aksi mogok makan yang dilakukan oleh para aktivis tersebut. Mereka kaget bercampur marah karena para aktivis yang seharusnya konsisten dengan aksi mogok makannya malah sedang asik memakan Indomie rebus bersama rekan-rekan aktivis lainnya. Perkelahian pun tidak terhindarkan setelah Dasuki bersama teman-teman satu unit lainnya memergoki para aktivis ini sedang ”pesta Indomie”. Kalah jumlah, para aktivis ini pun babak belur.

Kenapa si Dasuki cs tidak ketahuan? Ternyata para aktivis ini punya kebiasaan anti-sosial terhadap mahasiswa lain dan mengekslusifkan diri dari orang-orang yang tidak sealiran dengan mereka sehingga tidak kenal dengan teman-teman mahasiswa lainnya. Memang kalo udah urusan perut sih idealisme kalah dengan Indomie rebus (campur telor lagi!). Hehehe….

Saya bukan seorang aktivis dan belum pernah menjadi salah satunya. Bagaimana pun juga, aktivis hanyalah seorang manusia biasa sama seperti kita meskipun mereka berlagak seperti pahlawan kesiangan. Ia tidak pernah luput dari kesalahan meskipun pemikirannya lebih kritis. Masalah publik sudah antipati terhadap mereka, masalah mereka selalu lebih memaksakan pendapatnya biarlah masyarakat yang menilai. Tetapi saya tidak tahu apa yang ada di benak mereka sehingga mereka seolah-olah memiliki hak istimewa untuk memvonis orang lain salah atau benar. Menuntut lebih banyak hak tapi di sisi lain kewajiban mereka lupakan. Yang jelas, fungsi introspeksi diri mereka entah kapan mereka gunakan. Mengkritik (baca: protes) memang selalu lebih mudah. Daripada dicap sebagai orang munafik lebih baik diam tak usah bicara jika memang tidak tahu.

Yah kira-kira seperti si Nafa Ur…eh! maksud saya si artis pernah bilang: ”who do you think he ARE???”.

One comment

  1. sakit mata bos.

    :p



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: