Archive for August, 2007

h1

62 Tahun Indonesia, “Quo Vadis?”

August 17, 2007

bendera-ri.gif00:37 AM, 17 Agustus 2007, 62 tahun sudah Indonesia merdeka. Rasa-rasanya gemerlap ulang tahun RI tidak semegah dan semeriah setidaknya dalam 10 tahun terakhir ini. Saya masih ingat ketika Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-50. Panitia kemerdekaan RI saat itu mewajibkan setiap rumah harus dipasangi oleh lampu kerlap-kerlip dan bendera merah putih panjang. Walaupun memang tidak ada sanksi apa pun bagi yang tidak mematuhinya namun sangat berbeda suasananya jika dibandingkan perayaan HUT RI sekarang ini. Ada apa yah?

Banyak yang menilai bahwa erosi nasionalisme secara potensial dapat disebabkan oleh krisis multidimensi yang melanda negara ini. Masalah klasik tapi kenyataannya memang demikian toh? Sudah banyak contohnya seperti penurunan bendera merah putih di Aceh atau pengibaran bendera RMS di Maluku. Inti permasalahannya sebenarnya mudah untuk diindentifikasi: ketimpangan struktural, kohesi sosial yang lemah dan ikatan primordial yang kuat. Yang paling berpengaruh secara signifikan biasanya adalah faktor yang pertama. Gap yang makin lebar antara si kaya dan si miskin jelas terlihat. Hal inilah yang pernah “terpaksa” saya lihat ketika kuliah di Australia dulu. Iri dengki? Ngapain juga! Manusia diberi potensi dan rezeki yang berbeda-beda jadi anggap saja ketidakadilan memang sudah ada sebelum kita lahir. Yang jelas, baik-buruk yang diberikan oleh Allah SWT pasti adalah sesuatu yang terbaik untuk kita tergantung sejauh mana kita mau belajar.

Terkadang saya suka berpikir mungkin orang Indonesia selalu mengeluh seperti ini: “mengapa saya tidak dilahirkan menjadi warga negara lain yang lebih makmur atau kalaupun saya dilahirkan menjadi warga negara Indonesia kenapa saya harus sengsara? Kenapa tidak semuanya saja sejahtera?” Sebenarnya, saya tidak pernah mengeluh menjadi orang Indonesia. Walaupun terkadang gregetan melihat manajemen krisis di negeri ini, tetapi sangat tidak dewasa bila kita mengikis rasa nasionalisme kita hanya karena perbuatan segelintir orang yang telah “berkhianat”. Tidak perlu mengacu pada Pancasila atau UUD 1945, kita semua tahu bahwa itu adalah tugas bagi generasi kita untuk membenahinya. Ketimbang apatis lalu kabur ke luar negeri dan menjadi warga negara sana hanya untuk mengejar segepok dollar. Tanya hati kecil. Malu ga sih lu? Atau tidak berani menghadapi persaingan edan di sini?

Ironis memang keadaan nasionalisme kita yang merosot hanya karena kita melihatnya dari sisi ekonomi. Face the fact-lah! Pahlawan dan cendekiawan juga butuh makan. Sayangnya dampak globalisasi membuat kebutuhan itu telah dimodifikasi menjadi manifestasi yang konsumtif berlebihan. Memang betul seperti yang pernah diprediksi oleh Nabi Muhammad SAW bahwa ada zaman ketika manusia tidak pernah merasa puas akan nafsu duniawi yang telah mereka raih dan akan terus mencarinya dengan menghalalkan segala cara. Yah tidak perlu bertanya kapan zaman itu tiba bukan?

Terkadang saya bingung memandang orang Indonesia yang konsumtif berlebihan namun jarang dari mereka yang mau bekerja keras dan melakukan inovasi. Mungkin akhir-akhir ini jumlahnya lumayan bertambah sebagai efek demokrasi liberal atau entah apa namanya setelah reformasi berguling. Mungkinkah keputusasaan yang membuat mereka begitu? Atau tekanan finansial? Yang jelas sejarah berkata bahwa Indonesia tidak pernah (tepatnya belum pernah) merasakan zaman industrialis seperti kebanyakan negara-negara Eropa atau Jepang. China dan India mungkin sedang berjalan di tahap ini untuk mengejar globalisasi yang super duper cepat.

Indonesia? Berusaha mengejar sih tapi sayang, hanya sebatas diskusi ilmiah dan seminar para ahli. Sesekali nerbitin bukulah. Tapi berpikirlah positif, mungkin jika mereka memiliki akses dan fasilitas saya yakin Indonesia mampu mengejar kecepatan globalisasi. Ada yang bilang saya cuman bisa nulis doang? Gimana bisa maju juga kalo kesempatan untuk mengembangkan diri belum tampak? Tentu saja kalau bisa sih kesempatan itu akan saya raih dengan cara yang halal dan sesuai dengan kemampuan saya. Susah memang untuk jadi orang jujur di negeri tercinta ini (Cieeehhh!!!).

Rasa nasionalisme saya terhadap tanah air tentu saja masih ada. Walaupun berita-berita masih saja menurunkan cerita-cerita yang hanya menebar ketakutan dan sedikit dibumbui manipulasi demi kepentingan bisnis (aneh ga sih?), saya masih bangga menjadi orang Indonesia. Saya ingat banyak hal yang saya rindukan akan tanah air ketika saya masih berada di down under; Makanan yang murah dan enak, peraturan yang fleksibel (meskipun rada error), wanita-wanita yang ramah dan tidak jual mahal(di Bandung doang) dan rokok kretek yang mudah didapat. Nikmatnya hidup di negeri ini. Semoga nasionalisme yang semakin terkikis bisa diperbaiki dengan berpikiran positif dan mau sedikit bekerja keras. Tidak usah memikirkan upah atau intensif ketika bekerja untuk negara apalagi untuk anak-cucu kita. Yang penting, kita sudah melakukan yang terbaik bagi Indonesia apa pun bentuknya. Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-62. Jayalah selalu Merah Putih!

h1

Oh my God! They’ve killed Kenny!

August 14, 2007

south-park-movie.jpgBelakangan ini saya sedang keranjingan menonton serial South Park. Entah sudah berapa episode sudah saya tonton sejak mengenalnya pertama kali lewat South Park the movie (Bigger, Longer and Uncut) yang dirilis tahun 1999. Awalnya saya tidak terlalu suka dengan serial ini jika melihat dari gambarnya yang crappy dengan teknologi animasi yang terkesan seadanya. Ceritanya pun agak berbelit-belit dengan alur yang sangat cepat. Namun saya mulai menyukainya sejak mengerti substansial ceritanya yang ternyata merupakan kritik sosial yang tajam (walaupun sedikit vulgar dan kasar). Hasilnya, kita harus mengerti pesan moral yang disampaikan di akhir cerita untuk dapat menutupi kekurangan teknik animasinya. Itulah tujuan utama yang ingin ditekankan oleh Trey Parker dan Matt Stone, sang arsitek serial South Park ini (Konon mereka berdua ini adalah orang nyentrik yang memiliki IQ 180), pada setiap individu yang menontonnya.

Serial ini bercerita mengenai kondisi sebuah kota kecil bernama South Park di Colorado, Amerika Serikat (AS). Berbeda dengan sinetron Indonesia yang selalu mengetengahkan gaya hidup yang glamour dan penuh mimpi, serial South Park menggambarkan kisah masyarakat AS yang termarjinalkan (baca: kelas menengah ke bawah). Walaupun dimanifestasikan dalam bentuk kartun (atau semi-kartun?), tokoh-tokoh dalam serial tersebut memiliki sifat dan karakter yang berbeda satu sama lain. Uniknya, tokoh utama dalam serial ini tidak dimonopoli oleh satu karakter saja (seperti kebanyakan film AS lainnya).

Ceritanya mengenai 4 anak kecil yang tinggal di South Park dengan latar belakang keluarga yang berbeda-beda. Stan Marsh, seorang anak tunggal yang memiliki ayah yang bekerja sebagai geologist dan ibu yang hanya bekerja sebagai ibu rumah tangga. Stan satu-satunya anak yang berkarakter dewasa dan bijak dibandingkan dengan teman-teman sebayanya. Kyle Brofolski, anak seorang imigran Yahudi yang taat namun sering mendapatkan streotip negatif mengenai agamanya yang juga merepresentasikan keadaan yang hampir sama di AS. Eric Cartman, satu-satunya tokoh menyebalkan yang paling saya benci dalam serial ini. Eric adalah anak yang berwatak keras, manja dan berpikiran dangkal. Dia menganggap bahwa dirinya adalah yang berpikiran paling dewasa diantara teman-temannya. Kenyataannya, dia adalah anak yang sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan negatif di sekitarnya. Terakhir, Kenny McCormick, yang merupakan tokoh kesayangan saya dalam serial ini. Kenny adalah anak paling miskin di kota ini. Lahir dan besar dari pasangan orang tua yang hanya bekerja serabutan. Karakter Kenny adalah yang paling unik di antara semuanya. Selain dia selalu memakai penutup kepala hingga mukanya tidak terlihat seluruhnya, dia selalu tewas di hampir setiap episodenya. Parahnya, di setiap episode Kenny selalu tewas secara mengenaskan dengan bersimbah darah dan anehnya selalu muncul lagi di episode berikutnya. Tewasnya Kenny selalu diikuti oleh ritual sumpah serapah teman-temannya: “Oh my God! They’ve killed Kenny!”, “You Bastard!”. Kecuali di beberapa seri terakhir, karakter Kenny yang sudah mati “permanen” telah digantikan oleh Timmy, seorang anak yang memiliki keterbelakangan mental dan kesulitan komunikasi karena dia hanya bisa mengatakan namanya saja.

Yang membuat saya tertarik akan serial ini adalah kritik sosial yang tajam yang ditunjukkan di setiap episodenya. Mulai dari tewasnya Kenny McCormick di setiap episodenya hingga kritik yang berbau politik global. Alasan di balik ritual tewasnya Kenny diceritakan bahwa dia adalah anak yang paling miskin di kota South Park. Dalam kritiknya, ternyata hal itu merepresentasikan realitas sosial bahwa memang orang miskin di mana pun mereka berada selalu mati lebih dahulu dengan cara yang mengenaskan. Ironisnya, Kenny tidak hanya berada di South Park. Masih banyak Kenny-kenny lainnya di dunia ini yang tidak mendapatkan perhatian secara serius dari masyarakat. Dalam pesannya tersirat bahwa kemiskinan dapat dibilang sebagai salah satu solusi mengendalikan populasi yang sudah tidak bisa terkontrol (Overwhelming Population). Namun apakah anak-anak seperti Kenny tidak bisa hidup layak seperti halnya teman-teman sebayanya?

Memang tidak seharusnya anak-tipe-Kenny ini hidup di bawah garis kemiskinan apalagi dia tinggal di AS sebagai satu-satunya negara terkaya di dunia. Memang sintesis kapitalisme di AS menekankan perekonomian berbasis kompetisi agar orang dapat berkreasi dan berinovasi untuk kemajuan mereka. Namun konsep tersebut akan berakibat kontraproduktif bila kompetisi itu didasarkan oleh sifat ketamakan manusia. Memang benar kata Muhammad Yunus bahwa kemiskinan diciptakan oleh struktur, kebijakan dan sistem di masyarakat itu sendiri. Sistem itu pulalah yang selalu membunuh Kenny di setiap episodenya.

Meskipun dapat dianggap sebagai serial yang kontroversial, serial South Park ini selalu meramu humor sarkastik dan memparodikan isu-isu mutakhir seperti ketimpangan struktural antara si kaya dan si miskin. Seolah-olah kartun ini merupakan cermin sistem masyarakat kelas di AS. Bisa dikatakan bahwa kartu ini merupakan ejekan kepada kaum redneck yang merupakan stereotip orang Amerika yang bodoh. Lucunya, orang-orang bodoh yang digambarkan di serial ini adalah selalu orang-orang dewasa. Sementara itu, justru anak-anak seperti Stan, Kyle dan Kenny (kecuali Eric) adalah tokoh-tokoh yang mampu berpikiran rasional dan naif. Ternyata masalah-masalah yang selalu dilebih-lebihkan oleh kebanyakan masyarakat AS dapat diselesaikan secara efisien sesuai dengan mindset anak-anak seumuran mereka. Hasilnya bahkan dapat menginspirasi orang-orang dewasa di South Park untuk menyelesaikan masalahnya secara sederhana tetapi memiliki outcome yang maksimal. Memang terkadang setelah menonton serial ini, kita harus mengecek diri sendiri dan meyakinkan diri apakah kita bisa berpikiran senaif dan seefisien mereka.

Seandainya serial South Park disituasikan dengan kondisi di Indonesia mungkin tokoh Kenny McCormick tidak hanya dibuat satu tokoh saja kali yah? Hehehe…

h1

Who do you think he ARE???

August 6, 2007

Bukan! Ini bukan acara infotainment murahan yang bercerita tentang artis yang sedang berseteru dengan pacarnya. Kita tahu sendiri artisnya siapa bukan? Kalimat berbahasa Inggris yang salah di atas memang sangat fenomenal. Padahal kita semua tahu kalau si artis nih ngomong kalimat error tersebut sekitar tahun 1999-an. Hebatnya gemanya terngiang-ngiang hingga sekarang! Sebuah kesalahan total. Grammar macam apa itu? Coba, Who do you think he ARE? He ARE?! Yah…da ‘he’ teh JAMAK WAEEE!

“Who do you think he ARE?”

What does the woman imply?


Anyway, di halaman ini, saya ingin bercerita tentang profesi aktivis yang banyak digeluti orang-orang khususnya setelah pada tahun 1998 Soeharto turun dari kekuasaannya. Sebenarnya, menjadi aktivis adalah profesi yang mulia dan cukup menantang jika dia benar-benar berkomitmen pada idealismenya untuk menegakan keadilan. Tentu saja, dia berkomitmen untuk kepentingan rakyat banyak dan biasanya diselingi dengan pandangan-pandangan dia tentang ketidakadilan sosial, ekonomi, politik, lingkungan dan masalah global lainnya. Biasanya tidak selalu dalam bentuk konsolidasi massa tetapi juga dituangkan dalam bentuk buku atau jurnal. Seseorang menjadi aktivis biasanya jika ada salah satu dari keluarga atau kerabat mereka menjadi korban supresi otoritas penguasa dan militer. Ada pula yang ikut-ikutan menjadi aktivis supaya bisa bergabung dengan komunitas-komunitas atau forum tertentu. Ada juga yang ingin menjadikan kegiatan ini sebagai batu loncatan untuk bekerja di lembaga non-pemerintah yang membutuhkan pemikiran-pemikiran yang kritis dan terbuka.

Tetapi apa yang terjadi jika seorang aktivis menjalankan kegiatannya hanya untuk memanifestasikan ”semangat” perlawanannya secara dangkal? Lebih-lebih jika mereka melakukannya secara radikal dan tanpa basis yang komprehensif? Mereka menganggap semua yang dilakukan pemerintah, LSM atau pun masyarakat adalah salah dan patut dilawan demi sebuah idealisme yang ekstrim. Menjadi anarkhis dan apatis akan kondisi lingkungan di sekitarnya tentu sudah hal biasa bagi mereka. Sangat berbahaya jika aktivis seperti ini mampu mengkonsolidasi kekuatannya menjadi kekuatan yang besar yang akhirnya mampu menguasai pemerintahan dan masyarakat. Pada akhirnya, pemerintahan dan masyarakat yang mereka buat hanyalah sebuah eksperimen dari idealisme radikal mereka.

Rezim Khmer Merah di Kamboja yang disetiri oleh Pol Pot adalah salah satu contoh nyatanya. Jutaan rakyat sipil kamboja menjadi korban pembunuhan dari sebuah idealisme radikal yang gagal. Terlalu banyak korban hanya demi sebuah ide kesetaraan struktural saat itu. Sekarang, Khmer Merah mungkin sudah musnah. Namun saya yakin idealismenya masih banyak didambakan oleh aktivis-aktivis kiri radikal termasuk di Indonesia. Entah mungkin dilindungi oleh prinsip perjuangan antar kelas, demokrasi atau HAM yang jelas mereka yang dahulu pernah menjadi korban Orde Baru karena dituduh PKI tidak mungkin melewati kesempatan ”kebebasan mengemukakan pendapat” sekarang ini untuk kembali menanamkan idealisme dan cita-cita utopis mereka. Demi kesetaraan hak dan keadilan katanya…entah apa jadinya jika mereka berhasil menguasai Indonesia.

Meskipun demikian, ada juga cerita-cerita konyol yang dialami oleh aktivis dan aktivis-wanna-be yang pernah saya lihat dan dengar. Mulai dari seorang aktivis kiri yang akhirnya menjadi aktif di kegiatan MLM (Multi Level Marketing), ada juga aktivis-wanna-be, yang menganggap kegiatan MLM adalah sebagai produk kapitalis, yang ternyata namanya tertera di bagian distributor produk MLM tersebut. Atau aktivis yang saling berkelahi dengan aktivis yang lainnya hanya karena tidak menerima perbedaan ”aliran” mereka. Ada juga aktivis dengan banner bintang merah dan simbol tangan kiri yang dikepal yang kerjaannya melakukan agitasi (penghasutan) dan propaganda terhadap para buruh dan tani kemudian mengumpulkan mereka di suatu tempat dan berorasi untuk mendapatkan perhatian publik akan ide mereka. Kenyataan bahwa para kaum buruh dan tani tersebut tidak mengetahui apa yang mereka lakukan hampir mutlak di setiap acara demonstrasi. Mereka hanya menjadi objek politik. Ketika demonstrasi menjadi anarkhis karena ulah si penghasut lagi-lagi mereka hanya bisa jadi korban. Bahkan saya juga pernah mendengar ada beberapa aktivis yang sengaja menghilangkan diri dan pura-pura mengaku bahwa mereka diculik oleh aparat untuk mendapatkan tuntutan dan hak mereka. Namun ketika ada orang yang hendak mengkritik aktivitas mereka pasti sudah divonis pro-kapitalis, anti-demokrasi, penjahat HAM, musuh masyarakat bahkan pengecut. Ketika banyak orang yang mengutuk pemberian suaka kepada orang-orang Papua yang kabur ke Australia, mereka malah mendukungnya habis-habisan atas nama demokrasi dan HAM. Namun, ketika rakyat Indonesia mendukung Timnas PSSI yang berlaga di Piala Asia baru-baru ini, mereka malah memvonisnya sebagai bentuk Nasionalisme sempit. Ck…ck…ck…Maunya apa sih?

Tetapi ada kejadian lucu yang pernah saya dengar tentang protes aktivis. Ceritanya terjadi ketika beberapa aktivis melakukan aksi mogok makan di sebuah institusi pendidikan di Bandung. Saya lupa tuntutan mereka apa tapi yang jelas tidak terlalu penting hingga mahasiswa yang lain tidak terlalu mempedulikannya. Ketika pihak rektorat mengajak untuk berdiskusi mereka malah menolak dan lebih mengutamakan aksi mogok makan untuk menarik perhatian mahasiswa lainnya.

Setelah beberapa hari aksi ini berlanjut, tiba-tiba sebuah kasus penganiayaan terhadap para aktivis ini muncul ketika tengah malam mereka didatangi orang-orang yang tak dikenal dan memukul para aktivis ini hingga cedera. Spekulasi pun bermunculan ketika media massa mengangkat beritanya. Disinyalir pemukulan terhadap aktivis ini dilakukan oleh aparat keamanan yang disewa oleh pihak rektorat. Hipotesis klasik! Demonstrasi pun akhirnya selesai setelah ada konsensus antara pihak rektorat dengan para aktivis.

Kenapa hingga ada kasus pemukulan? Ternyata eh ternyata, beberapa bulan setelah kejadian tersebut, saya bertemu dengan ”oknum” pemukulan yang tidak lain dan tidak bukan adalah mahasiswa di institusi itu sendiri. Sebut saja namanya Dasuki (nama samaran yang aneh!). Dia bercerita bahwa ketika aksi mogok makan berlangsung, si Dasuki ini yang kebetulan menjadi pengurus salah satu unit kegiatan mahasiswa di institusi itu sedang sibuk mengerjakan persiapan acara yang akan dilangsungkan dalam waktu dekat. Pekerjaan dilakukan bersama teman-teman satu unitnya hingga tengah malam dengan persediaan logistik (termasuk makanan) seadanya karena harus memenuhi tenggat waktu.

Ketika sibuk-sibuknya bekerja, tiba-tiba mereka mencium aroma Indomie rebus dari kejauhan. Setelah dicek, ternyata aroma tersebut berasal dari posko aksi mogok makan yang dilakukan oleh para aktivis tersebut. Mereka kaget bercampur marah karena para aktivis yang seharusnya konsisten dengan aksi mogok makannya malah sedang asik memakan Indomie rebus bersama rekan-rekan aktivis lainnya. Perkelahian pun tidak terhindarkan setelah Dasuki bersama teman-teman satu unit lainnya memergoki para aktivis ini sedang ”pesta Indomie”. Kalah jumlah, para aktivis ini pun babak belur.

Kenapa si Dasuki cs tidak ketahuan? Ternyata para aktivis ini punya kebiasaan anti-sosial terhadap mahasiswa lain dan mengekslusifkan diri dari orang-orang yang tidak sealiran dengan mereka sehingga tidak kenal dengan teman-teman mahasiswa lainnya. Memang kalo udah urusan perut sih idealisme kalah dengan Indomie rebus (campur telor lagi!). Hehehe….

Saya bukan seorang aktivis dan belum pernah menjadi salah satunya. Bagaimana pun juga, aktivis hanyalah seorang manusia biasa sama seperti kita meskipun mereka berlagak seperti pahlawan kesiangan. Ia tidak pernah luput dari kesalahan meskipun pemikirannya lebih kritis. Masalah publik sudah antipati terhadap mereka, masalah mereka selalu lebih memaksakan pendapatnya biarlah masyarakat yang menilai. Tetapi saya tidak tahu apa yang ada di benak mereka sehingga mereka seolah-olah memiliki hak istimewa untuk memvonis orang lain salah atau benar. Menuntut lebih banyak hak tapi di sisi lain kewajiban mereka lupakan. Yang jelas, fungsi introspeksi diri mereka entah kapan mereka gunakan. Mengkritik (baca: protes) memang selalu lebih mudah. Daripada dicap sebagai orang munafik lebih baik diam tak usah bicara jika memang tidak tahu.

Yah kira-kira seperti si Nafa Ur…eh! maksud saya si artis pernah bilang: ”who do you think he ARE???”.