h1

Autopsy; The voice from the Death

July 21, 2007

Saya baru ingat, ketika saya kuliah di Australia, saya pernah menginap di rumah seorang teman. Kebetulan dia berlangganan Foxtel digital (sejenis cable TV sono deh!) dan menyuguhkan beragam acara-acara menarik mulai dari HBO, ESPN hingga Star World.

Suatu malam yang dingin nih ceritanye, saya hendak begadang hingga pagi untuk mengerjakan tugas. Teman saya itu sudah beranjak tidur dan hanya meninggalkan saya di ruang makannya sendirian. Believe me! Di Perth kalo udah jam 12 ke atas suasana sepinya nauzubillah n lebih seram dari taman makam pahlawan sekalipun. Namun tugas tetaplah tugas dan harus dikerjakan karena due date hampir tiba. Kira-kira pukul 2.30 saya memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil menonton HBO di ruang TV yg letaknya bersebelahan dengan ruang makan tempat saya mengerjakan tugas.

Begitu kaget karena acara yang disuguhkan HBO malam itu adalah acara dokumenter yang pernah saya tonton sekitar tahun 1996 berjudul Autopsy; tho voice from the Death. Saya ingat, ketika pertama kali nonton film ini (dan saya pun nontonnya tidak sampai habis), saya tidak bisa tidur tenang hampir satu minggu. Menurut saya ini adalah film dokumenter yang paling sadis dan paling seram yang pernah saya tonton ketika itu.

Jadi ini film sebenarnya dibuat dalam beberapa series. Yang saya tonton malam itu adalah salah satunya. Ceritanya sebenarnya cukup edukatif dengan memperkenalkan profesi forensik phatologist di ilmu kedokteran dan perannya dalam mengungkapkan pembunuhan-pembunuhan sadistik di seluruh dunia. Film Autopsy ini diambil dari file-file kriminal asli dari kepolisian di AS dan Eropa yang pernah dianggap serius untuk ditangani. Dianggap serius karena pembunuhan ini berbeda dari pembunuhan lainnya.

Dimulai dari penemuan mayat di suatu tempat namun pelaku kejahatan sama sekali tidak meninggalkan jejak dan bukti sama sekali. Mayat-mayat yang ditemukan biasanya sudah membusuk atau dimutilasi dengan sadis. Di film ini, foto mayat-mayat (atau potongan tubuh) tersebut diperlihatkan secara jelas dan tanpa sensor! Biasanya polisi kesulitan untuk mengidentifikasikan pelaku pembunuhan karena mayat yang sudah tidak jelas lagi bentuknya (konstur muka yang sudah hancur atau hanya menyisakan torso saja). Satu-satunya jalan adalah dengan melakukan autopsi mayat kepada ahli-ahli forensik yang profesional. Setelah itu baru melakukan pengolahan data beserta bukti-bukti di lapangan. Bukan tidak mungkin autopsi dilakukan setelah mayat sudah dikebumikan karena keperluan penyelidikan. Menurut mereka, autopsi mayat adalah kunci utama bagi polisi untuk mengungkapkan pelaku kejahatan. Atau dengan kata lain, ahli forensik melalui keahliannya melakukan autopsi adalah penerjemah (interpreter) bagi mayat-mayat yang bisu yang ingin bersuara menuntut keadilan.

Nah! Seperti yang telah saya jelaskan di atas, yang membuat bulu kuduk saya merinding selain foto-foto mayat yang tanpa sensor, adalah betapa kejamnya manusia-manusia saling membunuh sesamanya tanpa belas kasih entah karena dendam atau masalah sepele. Saya ingat ada seorang pembunuh berdarah dingin di AS menyimpan potongan tangan dan potongan kaki di lemari esnya setelah dia membunuh korbannya. Ada juga yang menguliti wajah korbannya setelah membunuhnya untuk kemudian dipakainya. Ada juga yang punya kebiasaan mengambil bola mata manusia setelah membunuhnya. Hiii…

Yang paling menyeramkan adalah pelaku pembunuhan-pembunuhan berantai yang sadistik. Dalam beberapa kasus, ada beberapa pelaku yang belum terungkap hingga sekarang seperti yang paling terkenal adalah Jack the Ripper yang membunuh pelacur-pelacur di Inggris pada tahun 1880an. Namun ada juga kasus yang menurut saya susah dicerna dengan akal sehat dan merinding mendengarnya. Salah satunya yang saya kutip dari the World’s Greates Serial Killers (1999) adalah sebagai berikut:

Mass murderer Jeffrey Dahmer not only kept the corpses of his victimis in his house for many days after their murder, but he even went as far as eating the flesh of some of them. He practiced his killing skills on animals from an early age, and killed his first human victim aged 18. Before being caught, he killed 18 young men.

Sebenarnya banyak kasus yang mungkin tidak layak dijelaskan di blog ini, namun hipotesis menarik dapat ditarik bahwa motivasi utama pembunuhan berantai biasanya berdasar pada hasrat seksual. Beberapa pelaku menyukai proses mutilasi mayat hingga tahap kanibalisme. Sepertinya mereka suka melihat seberapa jauh mereka berjalan di luar batas-batas moralitas dan merasa lega ketika mereka akhirnya tertangkap dan mengakui segala perbuatan mereka tanpa rasa bersalah.

Saya tidak tahu apakah di Indonesia ada kasus semacam ini atau tidak (mungkin kasus Sumanto yang paling mendekati) tetapi apa sih yang mendasari manusia berbuat sadis seperti ini? Tidak hanya sekali namun hingga berkali-kali? Banyak dari kasus tidak membuktikan adanya motivasi uang dibalik pembunuhan sadis ini namun lebih kepada “enjoyment” si pelaku dalam melakukan aksinya. Bahkan tidak sedikit di antara pelaku-pelaku kejahatan yang ‘mampu’ secara finansial. Mungkin ga sih mereka melakukannya hanya untuk iseng tanpa pilih-pilih target mereka? Sungguh menyeramkan memang dunia yang kita tinggali ini.

Lagi-lagi setelah menonton film itu, saya tidak berani lagi melanjutkan tugas saya dan langsung beranjak tidur dengan perasaan insecure.

 

The Death do Speak…

3 comments

  1. haha, penasaran nonton serem2 tapi udahnya paranoid sendiri wkkwkwkwk


  2. jadi intinya cerita soal film nya atau cerita soal kejadian malem itu?


  3. berarti . . . . . .
    gimana pun caranya, di mana pun tempatnya, apa pun sebabnya, we will dead ! selamat berjumpa lagi di hari perhitungan…….smoga kelak kita gak mendapat keburukan walaupun kematian menjemput dengan cara yang mengerikan…amin



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: