h1

Lautan Merah di Gelora Bung Karno

July 19, 2007

14072007135.jpgHari sabtu yang lalu (14/07) saya diajak menonton pertandingan sepak bola Piala Asia antara Indonesia melawan Arab Saudi. Kebetulan saya sudah lama sekali tidak melakukan perjalanan bersama teman-teman ke luar kota jadilah kami meluncur bersama dari Bandung pukul 4 dini hari dan tiba di senayan pukul 7 pagi. Setelah melalui perjuangan yang berat untuk mendapatkan tiket, akhirnya kami mendapatkan tiket masuk pertandingan. Itu pun diperolehnya dari calo. Tapi kami menilai harga yg harus kami keluarkan worth it untuk menonton ajang bergengsi yang hanya berlangsung 3 tahun sekali itu. Lagian kapan lagi Indonesia jadi tuan rumah Piala Asia?

Kick off akan dimulai pukul 7.30 malam dan kami mulai memasuki stadion olah raga Gelora Bung Karno (GBK) pukul 5 sore bersama suporter-suporter Indonesia yang mengenakan kaos merah yang lain. Yang menarik adalah beberapa dari suporter yang mengenakan kaos merah berlogo Garuda itu adalah bule-bule yang berasal dari Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Dukungan mereka kepada tim merah putih benar-benar membuat saya bangga dan saya sempat berfoto dengan mereka. Memang saya pernah mendengar bahwa banyak pemain asing dari Eropa ingin menjadi pemain timnas sepakbola Indonesia namun terbentur masalah imigrasi dan birokrasi. Tapi baguslah, setidaknya timnas Indonesia berlaga dengan materi pemain-pemain yang warga asli Indonesia dan mampu lolos sebagai tuan rumah Piala Asia 2007 bersama Malaysia, Vietnam dan Thailand. Apa kabar Singapore yah yang udah cape-cape beli pemain asing dari Turki dan Eropa untuk menjadi timnasnya tetapi mereka tidak lolos di Piala Asia 2007? Yah memang konsep nation-state tidak dimanipulasi.

14072007142.jpgSesampainya saya di sektor 14, tempat kami duduk, saya terkesima dengan arsitektur GBK yang luar biasa megah yang selama ini hanya bisa saya lihat melalui televisi. It was soo damn gigantic! GBK memang stadion sepak bola terbesar kedua di dunia setelah Brasil. Lapangan hijau yang empuk dan berstandar internasional memang sangat jauh berbeda dengan lapangan sepak bola pakuan di Jatinangor.hehehe…

14072007144.jpgPertandingan dibuka dengan pengenalan pemain dan sedikit upacara formal untuk menjunjung tinggi fair play dalam persepakbolaan internasional. Sejauh mata memandang yang saya bisa lihat hanya lautan merah yang sumpek namun kompak. Yah ditambah sekitar satu petak tribune untuk pendukung arab saudi. Lagu kebangsaan masing-masing negara pun dikumandangkan. Setelah lagu bahlul dari arab saudi dan this is the best part! 80.000 penonton berdiri sambil menyanyi lagu Indonesia raya yang kekuatan suaranya tidak bisa dihitung melalui satuan desible. Momen yang paling menggentarkan hati saya karena sudah lama sekali saya tidak menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan begini khidmat dan kompak! Memang betul kata Mr. Jusuf Kalla bahwa kita memang sudah lama merindukan hadirnya kebanggaan nasional. Kita sudah mumet dengan berbagai macam persoalan bangsa yang datang bertubi-tubi sehingga sudah melupakan kebanggaan nasional. Yah korupsilah, reformasi gagalah, parlemen ribut teruslah, kritikus cuman bisa ngomong doanglah, blah blah blah yada yada yada…dan justru hanya dengan olahragalah mereka bisa bersatu. Kebanggaan pada Nasionalisme memang bisa dipacu melalui kompetisi olahraga.

Jadi saya cukup bingung ketika ada orang yang membenci sepakbola karena ia menganggap sepakbola hanya sebagai bentuk kompetisi mutlak yang tidak menghargai kerjasama. Cukup kaget juga karena ada orang yang berpikiran sedangkal ini. Menurut saya, sebenarnya dalam sepakbola atau olahraga yang berbasis permainan apa pun, menang atau kalah adalah efek yang biasa dan hanya sebagai faktor pelengkap belaka. Yang penting adalah our best effort yang menentukan kualitas olahraga itu sehingga proses pertandingan itu menjadi lebih menarik. Jika saya memenangkan pertandingan sepak bola melawan tim yang cupu justru buat saya itu adalah penghinaan karena membuat kualitas pertandingan itu menjadi sekelas gurem. Lain hal jika saya kalah dari tim yang kuat dan professional justru saya akan bangga karena dapat menunjukan pertandingan yang berkualitas. Kalah atau menang hanyalah sebuah inevitable risk. Bukankah kerjasama itu muncul justru karena adanya kompetisi?

Begitu pula yang dialami oleh timnas Indonesia. Arab saudi adalah tim papan atas yang selalu berlaga di Piala Dunia dan merupakan tim paling tangguh di daratan teluk. Di atas kertas (atau menurut statistik Winning Eleven 2007), timnas arab saudi bakal menang mudah melawan timnas Indonesia. Namun secanggih-canggihnya metode kalkulasi pertandingan sepakbola, tidak dapat memprediksi hasil akhir yang dicapai di akhir pertandingan secara akurat. Hal ini dibuktikan oleh Bambang Pamungkas dkk ketika bermain sangat indah melawan pasukan berkaki tiga tersebut. Meskipun harus kebobolan lebih dulu, hanya berselang 5 meni kemudiant, Elie Aiboy dapat dengan tenang merobek gawang arab saudi melalui gol cantik. Siapa yang sangka bahwa Indonesia dapat menekan pertahanan tim sekelas arab saudi selama nyaris seluruh pertandingan? Secara fisik pemain-pemain arab memiliki tinggi di atas rata-rata 180 cm dan panjang lebih dari 17 cm (panjang apaan nih?hey!) ternyata mampu dibuat frustasi oleh pemain-pemain Indonesia yang 20 cm lebih pendek. Semangat juang, usaha tiada batas dan never say die attitude menjadi modal utama pasukan Ivan Kolev ini untuk mengimbangi permainan arab saudi. Sungguh pertandingan yang berkualitas yang pernah saya lihat!

Memang patut disayangkan tim merah putih harus mengakui keunggulan arab saudi di menit ke 90. Sebuah kekalahan yang menyakitkan namun harus diakui, Indonesia kalah dengan kepala tegak karena bisa mengimbangi performa sekelas arab saudi. Buat saya itulah yang paling penting. Tontonan yang seru yang membuat 80.000 penonton tetap duduk selama 2 x 45 menit non stop. Tidak peduli hasilnya seperti apa, yang penting timnas Indonesia sudah memberikan yang terbaik di laga ini. Tidak perlu dengar kritikus-kritikus yang pesimis dengan kemampuan kalian toh mereka belum tentu lebih baik dari kalian. Apalagi ada beberapa anggota DPR yang terhormat yang meragukan kemampuan kalian (kalo saya sih Indonesia ga ada parlemen atau DPR juga ga bakalan kenapa-kenapa. Bagus malah!hehehe…). tapi semua harapan telah pupus, Indonesia harus rela meninggalkan Piala Asia setelah dikalahkan Korea 0-1 semalam. kecewa memang, namun Indonesia mampu membuktikan kualitasnya sebagai tim internasional dengan mengimbangi permainan korea yang sangat cepat. Ini sudah lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Salut bagi Markus Horison yang telah menjadi Man of the Match malam tadi! Maju terus Indonesia!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: