Archive for July, 2007

h1

2+2=5

July 30, 2007

Akhir-akhir ini keinginan untuk menulis sesuatu agak kurang. KOSONG… Entah kenapa. Mungkin karena minggu depan saya akan dihadapkan pada suatu tahap interview di sebuah bank asing yang akan menentukan hidup saya ke depan. Yah seperti menentukan gerbang tol mana yang akan dimasuki untuk membayar tarif tol setelah menempuh perjalanan jauh. Mau pilih yang antreannya pendek tapi perlu uang pas/langganan. Mau pilih yang antreannya panjang tapi kelamaan toh nanti juga macet lagi. Resiko memang tapi apakah jalan yang sudah saya tentukan benar-benar yang terbaik bagi saya?

Beberapa waktu sebelumnya saya dihadapkan pada sebuah kenyataan: selalu gagal dalam psikotest. Sudah hampir 5 kali saya mengikuti ujian psikotest dan selalu gagal. Padahal saya sudah membeli bukunya dan belajar hingga larut malam tapi entah masalah transparansi atau psikologi saya yang rada kacau, selalu berujung pada kegagalan. “Maaf anda kurang beruntung!”. begitu katanya. saya tahu kelemahan saya dalam menghadapi ujian psikotest adalah ujian matematika. Ya! padahal itu adalah matematika umum tetapi saya sudah sejak kelas 4 SD tidak bersentuhan lagi dengan urusan hitung menghitung. call me idiot or retarded but believe me, i’m really bad in mathematics. Eventually, saya berkonsultasi dengan psikolog untuk mengatasi masalah ini dan alhamdulillah psikotest yang terakhir saya lulus walau harus dihinggapi dengan rasa pesimis. Fiuuuhhh…!

Enough with the Psycho test things. yang jelas inilah realitas hidup. Globalisasi dan dunia kapitalisme memang tidak menyediakan tempat bagi mediocre-tipe-orang. Mau tidak mau, suka atau tidak suka itulah realitas hidup saat ini. seorang individu dituntut untuk harus berinovasi dan menyukai hal-hal baru di sekitarnya. Dulu saya cenderung tidak menyukai sesuatu yang baru. saya nyaman dengan keadaan di sekitar saya saat itu atau yang biasa disebut dengan comfort zone. kenyataanya musuh paling utama dalam pengembangan diri adalah kenyamanan kita berada di zona tertentu. akibatnya, saya cenderung tidak mudah bergaul dan berpikiran pendek dengan melihat dunia hitam dan putih semata. tidak banyak orang yang berkata terus terang dengan kondisi saya saat itu karena rata-rata teman saya pun memiliki sifat yang hampir sama dengan saya. mungkin karena mereka memiliki masalah prinsip atau patuh akan dogma tertentu. apa yang membuat saya berubah adalah kebosanan dan determinasi untuk berkembang. saya bosan dengan tempat dan dekorasi yang sama sehingga butuh perubahan. saya bosan dengan prinsip dan dogma yang kaku yang telah membatasi ruang gerak saya untuk mengeksplorasi dunia. saya memulai dengan berjalan-jalan, membaca buku,menulis hingga menonton film baru hanya untuk menyegarkan pikiran saya yang sudah jenuh. menurut saya itu pun tidak cukup. saya harus lebih mengenal orang-orang baru, komunitas baru dan berpengalaman di luar sana. apa pun bentuknya, sifat anti-sosial dan ekslusifisme sudah bukan menjadi bagian dari diri saya lagi.

Aneh memang saya memandang hidup ini. cukup lega karena sudah banyak teman yang mengatakannya terus terang kepada saya. tentu tanpa vonis apa pun. rasanya hidup ini terkadang harus dilihat dari sudut yang berbeda. tidak perlu melihat dunia hitam dan putih. tidak perlu melihat suatu kondisi negara hanya dari frame-work ketimpangan struktural miskin vs kaya semata. atau Jawa dan non-Jawa. atau Muslim dan non-muslim.

Yah kira-kira sama dengan menjawab penjumlahan 2+2 = 5. Aneh bukan?

h1

Autopsy; The voice from the Death

July 21, 2007

Saya baru ingat, ketika saya kuliah di Australia, saya pernah menginap di rumah seorang teman. Kebetulan dia berlangganan Foxtel digital (sejenis cable TV sono deh!) dan menyuguhkan beragam acara-acara menarik mulai dari HBO, ESPN hingga Star World.

Suatu malam yang dingin nih ceritanye, saya hendak begadang hingga pagi untuk mengerjakan tugas. Teman saya itu sudah beranjak tidur dan hanya meninggalkan saya di ruang makannya sendirian. Believe me! Di Perth kalo udah jam 12 ke atas suasana sepinya nauzubillah n lebih seram dari taman makam pahlawan sekalipun. Namun tugas tetaplah tugas dan harus dikerjakan karena due date hampir tiba. Kira-kira pukul 2.30 saya memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil menonton HBO di ruang TV yg letaknya bersebelahan dengan ruang makan tempat saya mengerjakan tugas.

Begitu kaget karena acara yang disuguhkan HBO malam itu adalah acara dokumenter yang pernah saya tonton sekitar tahun 1996 berjudul Autopsy; tho voice from the Death. Saya ingat, ketika pertama kali nonton film ini (dan saya pun nontonnya tidak sampai habis), saya tidak bisa tidur tenang hampir satu minggu. Menurut saya ini adalah film dokumenter yang paling sadis dan paling seram yang pernah saya tonton ketika itu.

Jadi ini film sebenarnya dibuat dalam beberapa series. Yang saya tonton malam itu adalah salah satunya. Ceritanya sebenarnya cukup edukatif dengan memperkenalkan profesi forensik phatologist di ilmu kedokteran dan perannya dalam mengungkapkan pembunuhan-pembunuhan sadistik di seluruh dunia. Film Autopsy ini diambil dari file-file kriminal asli dari kepolisian di AS dan Eropa yang pernah dianggap serius untuk ditangani. Dianggap serius karena pembunuhan ini berbeda dari pembunuhan lainnya.

Dimulai dari penemuan mayat di suatu tempat namun pelaku kejahatan sama sekali tidak meninggalkan jejak dan bukti sama sekali. Mayat-mayat yang ditemukan biasanya sudah membusuk atau dimutilasi dengan sadis. Di film ini, foto mayat-mayat (atau potongan tubuh) tersebut diperlihatkan secara jelas dan tanpa sensor! Biasanya polisi kesulitan untuk mengidentifikasikan pelaku pembunuhan karena mayat yang sudah tidak jelas lagi bentuknya (konstur muka yang sudah hancur atau hanya menyisakan torso saja). Satu-satunya jalan adalah dengan melakukan autopsi mayat kepada ahli-ahli forensik yang profesional. Setelah itu baru melakukan pengolahan data beserta bukti-bukti di lapangan. Bukan tidak mungkin autopsi dilakukan setelah mayat sudah dikebumikan karena keperluan penyelidikan. Menurut mereka, autopsi mayat adalah kunci utama bagi polisi untuk mengungkapkan pelaku kejahatan. Atau dengan kata lain, ahli forensik melalui keahliannya melakukan autopsi adalah penerjemah (interpreter) bagi mayat-mayat yang bisu yang ingin bersuara menuntut keadilan.

Nah! Seperti yang telah saya jelaskan di atas, yang membuat bulu kuduk saya merinding selain foto-foto mayat yang tanpa sensor, adalah betapa kejamnya manusia-manusia saling membunuh sesamanya tanpa belas kasih entah karena dendam atau masalah sepele. Saya ingat ada seorang pembunuh berdarah dingin di AS menyimpan potongan tangan dan potongan kaki di lemari esnya setelah dia membunuh korbannya. Ada juga yang menguliti wajah korbannya setelah membunuhnya untuk kemudian dipakainya. Ada juga yang punya kebiasaan mengambil bola mata manusia setelah membunuhnya. Hiii…

Yang paling menyeramkan adalah pelaku pembunuhan-pembunuhan berantai yang sadistik. Dalam beberapa kasus, ada beberapa pelaku yang belum terungkap hingga sekarang seperti yang paling terkenal adalah Jack the Ripper yang membunuh pelacur-pelacur di Inggris pada tahun 1880an. Namun ada juga kasus yang menurut saya susah dicerna dengan akal sehat dan merinding mendengarnya. Salah satunya yang saya kutip dari the World’s Greates Serial Killers (1999) adalah sebagai berikut:

Mass murderer Jeffrey Dahmer not only kept the corpses of his victimis in his house for many days after their murder, but he even went as far as eating the flesh of some of them. He practiced his killing skills on animals from an early age, and killed his first human victim aged 18. Before being caught, he killed 18 young men.

Sebenarnya banyak kasus yang mungkin tidak layak dijelaskan di blog ini, namun hipotesis menarik dapat ditarik bahwa motivasi utama pembunuhan berantai biasanya berdasar pada hasrat seksual. Beberapa pelaku menyukai proses mutilasi mayat hingga tahap kanibalisme. Sepertinya mereka suka melihat seberapa jauh mereka berjalan di luar batas-batas moralitas dan merasa lega ketika mereka akhirnya tertangkap dan mengakui segala perbuatan mereka tanpa rasa bersalah.

Saya tidak tahu apakah di Indonesia ada kasus semacam ini atau tidak (mungkin kasus Sumanto yang paling mendekati) tetapi apa sih yang mendasari manusia berbuat sadis seperti ini? Tidak hanya sekali namun hingga berkali-kali? Banyak dari kasus tidak membuktikan adanya motivasi uang dibalik pembunuhan sadis ini namun lebih kepada “enjoyment” si pelaku dalam melakukan aksinya. Bahkan tidak sedikit di antara pelaku-pelaku kejahatan yang ‘mampu’ secara finansial. Mungkin ga sih mereka melakukannya hanya untuk iseng tanpa pilih-pilih target mereka? Sungguh menyeramkan memang dunia yang kita tinggali ini.

Lagi-lagi setelah menonton film itu, saya tidak berani lagi melanjutkan tugas saya dan langsung beranjak tidur dengan perasaan insecure.

 

The Death do Speak…

h1

Lautan Merah di Gelora Bung Karno

July 19, 2007

14072007135.jpgHari sabtu yang lalu (14/07) saya diajak menonton pertandingan sepak bola Piala Asia antara Indonesia melawan Arab Saudi. Kebetulan saya sudah lama sekali tidak melakukan perjalanan bersama teman-teman ke luar kota jadilah kami meluncur bersama dari Bandung pukul 4 dini hari dan tiba di senayan pukul 7 pagi. Setelah melalui perjuangan yang berat untuk mendapatkan tiket, akhirnya kami mendapatkan tiket masuk pertandingan. Itu pun diperolehnya dari calo. Tapi kami menilai harga yg harus kami keluarkan worth it untuk menonton ajang bergengsi yang hanya berlangsung 3 tahun sekali itu. Lagian kapan lagi Indonesia jadi tuan rumah Piala Asia?

Kick off akan dimulai pukul 7.30 malam dan kami mulai memasuki stadion olah raga Gelora Bung Karno (GBK) pukul 5 sore bersama suporter-suporter Indonesia yang mengenakan kaos merah yang lain. Yang menarik adalah beberapa dari suporter yang mengenakan kaos merah berlogo Garuda itu adalah bule-bule yang berasal dari Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Dukungan mereka kepada tim merah putih benar-benar membuat saya bangga dan saya sempat berfoto dengan mereka. Memang saya pernah mendengar bahwa banyak pemain asing dari Eropa ingin menjadi pemain timnas sepakbola Indonesia namun terbentur masalah imigrasi dan birokrasi. Tapi baguslah, setidaknya timnas Indonesia berlaga dengan materi pemain-pemain yang warga asli Indonesia dan mampu lolos sebagai tuan rumah Piala Asia 2007 bersama Malaysia, Vietnam dan Thailand. Apa kabar Singapore yah yang udah cape-cape beli pemain asing dari Turki dan Eropa untuk menjadi timnasnya tetapi mereka tidak lolos di Piala Asia 2007? Yah memang konsep nation-state tidak dimanipulasi.

14072007142.jpgSesampainya saya di sektor 14, tempat kami duduk, saya terkesima dengan arsitektur GBK yang luar biasa megah yang selama ini hanya bisa saya lihat melalui televisi. It was soo damn gigantic! GBK memang stadion sepak bola terbesar kedua di dunia setelah Brasil. Lapangan hijau yang empuk dan berstandar internasional memang sangat jauh berbeda dengan lapangan sepak bola pakuan di Jatinangor.hehehe…

14072007144.jpgPertandingan dibuka dengan pengenalan pemain dan sedikit upacara formal untuk menjunjung tinggi fair play dalam persepakbolaan internasional. Sejauh mata memandang yang saya bisa lihat hanya lautan merah yang sumpek namun kompak. Yah ditambah sekitar satu petak tribune untuk pendukung arab saudi. Lagu kebangsaan masing-masing negara pun dikumandangkan. Setelah lagu bahlul dari arab saudi dan this is the best part! 80.000 penonton berdiri sambil menyanyi lagu Indonesia raya yang kekuatan suaranya tidak bisa dihitung melalui satuan desible. Momen yang paling menggentarkan hati saya karena sudah lama sekali saya tidak menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan begini khidmat dan kompak! Memang betul kata Mr. Jusuf Kalla bahwa kita memang sudah lama merindukan hadirnya kebanggaan nasional. Kita sudah mumet dengan berbagai macam persoalan bangsa yang datang bertubi-tubi sehingga sudah melupakan kebanggaan nasional. Yah korupsilah, reformasi gagalah, parlemen ribut teruslah, kritikus cuman bisa ngomong doanglah, blah blah blah yada yada yada…dan justru hanya dengan olahragalah mereka bisa bersatu. Kebanggaan pada Nasionalisme memang bisa dipacu melalui kompetisi olahraga.

Jadi saya cukup bingung ketika ada orang yang membenci sepakbola karena ia menganggap sepakbola hanya sebagai bentuk kompetisi mutlak yang tidak menghargai kerjasama. Cukup kaget juga karena ada orang yang berpikiran sedangkal ini. Menurut saya, sebenarnya dalam sepakbola atau olahraga yang berbasis permainan apa pun, menang atau kalah adalah efek yang biasa dan hanya sebagai faktor pelengkap belaka. Yang penting adalah our best effort yang menentukan kualitas olahraga itu sehingga proses pertandingan itu menjadi lebih menarik. Jika saya memenangkan pertandingan sepak bola melawan tim yang cupu justru buat saya itu adalah penghinaan karena membuat kualitas pertandingan itu menjadi sekelas gurem. Lain hal jika saya kalah dari tim yang kuat dan professional justru saya akan bangga karena dapat menunjukan pertandingan yang berkualitas. Kalah atau menang hanyalah sebuah inevitable risk. Bukankah kerjasama itu muncul justru karena adanya kompetisi?

Begitu pula yang dialami oleh timnas Indonesia. Arab saudi adalah tim papan atas yang selalu berlaga di Piala Dunia dan merupakan tim paling tangguh di daratan teluk. Di atas kertas (atau menurut statistik Winning Eleven 2007), timnas arab saudi bakal menang mudah melawan timnas Indonesia. Namun secanggih-canggihnya metode kalkulasi pertandingan sepakbola, tidak dapat memprediksi hasil akhir yang dicapai di akhir pertandingan secara akurat. Hal ini dibuktikan oleh Bambang Pamungkas dkk ketika bermain sangat indah melawan pasukan berkaki tiga tersebut. Meskipun harus kebobolan lebih dulu, hanya berselang 5 meni kemudiant, Elie Aiboy dapat dengan tenang merobek gawang arab saudi melalui gol cantik. Siapa yang sangka bahwa Indonesia dapat menekan pertahanan tim sekelas arab saudi selama nyaris seluruh pertandingan? Secara fisik pemain-pemain arab memiliki tinggi di atas rata-rata 180 cm dan panjang lebih dari 17 cm (panjang apaan nih?hey!) ternyata mampu dibuat frustasi oleh pemain-pemain Indonesia yang 20 cm lebih pendek. Semangat juang, usaha tiada batas dan never say die attitude menjadi modal utama pasukan Ivan Kolev ini untuk mengimbangi permainan arab saudi. Sungguh pertandingan yang berkualitas yang pernah saya lihat!

Memang patut disayangkan tim merah putih harus mengakui keunggulan arab saudi di menit ke 90. Sebuah kekalahan yang menyakitkan namun harus diakui, Indonesia kalah dengan kepala tegak karena bisa mengimbangi performa sekelas arab saudi. Buat saya itulah yang paling penting. Tontonan yang seru yang membuat 80.000 penonton tetap duduk selama 2 x 45 menit non stop. Tidak peduli hasilnya seperti apa, yang penting timnas Indonesia sudah memberikan yang terbaik di laga ini. Tidak perlu dengar kritikus-kritikus yang pesimis dengan kemampuan kalian toh mereka belum tentu lebih baik dari kalian. Apalagi ada beberapa anggota DPR yang terhormat yang meragukan kemampuan kalian (kalo saya sih Indonesia ga ada parlemen atau DPR juga ga bakalan kenapa-kenapa. Bagus malah!hehehe…). tapi semua harapan telah pupus, Indonesia harus rela meninggalkan Piala Asia setelah dikalahkan Korea 0-1 semalam. kecewa memang, namun Indonesia mampu membuktikan kualitasnya sebagai tim internasional dengan mengimbangi permainan korea yang sangat cepat. Ini sudah lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Salut bagi Markus Horison yang telah menjadi Man of the Match malam tadi! Maju terus Indonesia!

h1

7-7-07

July 16, 2007

Duh! Mestinya saya nulis judul ini sejak seminggu yang lalu bertepatan dengan tanggal tersebut. Dikarenakan disibukkan oleh banyak kegiatan, (kegiatan apa coba orang masih nganggur?), saya baru sempat menulis hari ini.

Nah ceritanya nih, saya sedang menonton acara infotainment di TV-yang hampir semua isinya seragam di setiap stasiun TV-dan melihat seorang artis menikah tepat pada tanggal tersebut dengan alasan bahwa tanggal itu dipercaya dapat memberikan hoki bagi pasangan yang menikah karena angka tujuh yang berurutan pada tanggal itu. Yah pasti udah pada tau lah ya siapa artis yang saya sebut. But eniwei, yang menarik bagi saya adalah tepat pada tanggal tersebut, digelar sebuah konser musik amal bertajuk “Live Earth” di Wembley Stadium, London yg menghadirkan artis-artis besar dunia. Konser amal ini sebenarnya sudah menjadi “tradisi global” yang digelar sejak tahun 2005 untuk menggugah kesadaran kolektif mengenai ancaman serius pemanasan global dan kerusakan lingkungan.

inconvinient-truth.jpgIsu pemanasan global dan konservasi lingkungan somehow, mengingat saya akan sebuah film dokumenter berjudul : An Inconvinient Truth, The Planetary Emergency of Global Warming and What we can do about it yang dirilis pada tahun 2006. Selain panjangnya yang luar biasa dari judul film ini, yang menarik lagi adalah pemunculan isu pemanasan global yang menjadi topik sentral dari film ini. Adalah Al Gore, mantan wakil Presiden AS pada masa Clinton, yang mencentus dan mengangkat masalah ini melalui media film dokumenter. Saya ingat ketika Al Gore mencalonkan diri sebagai Presiden AS dan bersaing dengan siapa-lagi-kalau-bukan Mr. Bush, Al Gore memiliki visi dan misi sebagai capres yang pro-lingkungan. Kenyataan bahwa dia kalah setelah melalui keputusan Mahkamah Agung-teori konspirasi lain menyebutkan bahwa para kaum industrialis AS merasa terancam dengan visi Gore dan memanipulasi hasil penghitungan suara-, tidak menyurutkan cita-citanya untuk membangun Bumi yang lebih bersih dan layak huni dengan menyosialisasikan pandangan-pandangannya disertai dengan bukti-bukti scientific yang akurat dan cara-cara kita untuk mengurangi ancaman tersebut juga dipaparkan di akhir line of cast.

Memang benar, seperti yg pernah akang Buzan postulatkan dalam teorinya mengenai Environmental Security, krisis lingkungan sebenarnya baru menjadi isu yang signifikan akhir-akhir ini setelah bencana Tsunami tahun 2004 dan terutama sekali setelah bencana badai terburuk Katrina yang melanda negara bagian New Orleans, AS pada tahun 2005. Banyak ahli yang menyebutkan bahwa gempa bumi dalam laut sebenarnya bisa distimuli melalui pengeboran minyak lepas pantai yang berlebihan yang dapat merusak pergerakan kerak bumi. Celakanya, sampai saat ini kita belum menemukan teknologi yang dapat memprediksi datangnya gempa bumi.

Untuk badai Katrina yang seharusnya tidak perlu terjadi sebesar itu sebenarnya mudah sekali diketahui penyebabnya, menurut penjelasan ilmiah di film itu, selama 150 tahun terakhir, dalam kecepatan yang menakjubkan, manusia telah memindahkan gas CO2-gas rumah kaca penyebab pemanasan Bumi- dari perut Bumi ke atmosfer dengan cara membakar minyak bumi sebagai sumber energi. Dalam satu hari, 70 juta ton CO2 berpindah ke atmosfer, menahan panas yang dipantulkan Bumi yang seharusnya lepas ke angkasa luar dan memantulkannya kembali ke permukaan Bumi. panas yang ditahan dan dipantulkan kembali ke permukaan Bumi ini disebut efek rumah kaca dan meningkatkan suhu Bumi dan laut. Nah, tentu kita semua sudah pada tahu bahwasanya laut yang hangat mudah sekali untuk menguap dan uap air laut hangat dalam jumlah yang sangat besar menguap ke langit dan membentuk awan kumulonimbus yang sangat masif. Bagi daerah yang bertekanan rendah dan sub-tropis seperti seperti AS, awan ini biasanya membentuk badai yang besar karena sedotan udara dari bawah yang luar biasa kuat. Semakin besar awan dan tekanan udara, semakin besar pula badai yang dihasilkan. Biasanya ini terjadi pada bulan-bulan peralihan musim panas menuju musim dingin. Bahkan imbas badai ini bisa juga dirasakan di negara-negara tropis di dekatnya yang tidak pernah mengalami topan sekalipun jika bencananya sudah sangat parah. Itulah yang menjelaskan kenapa badai Katrina dianggap sebagai badai yang paling parah sepanjang sejarah.

Terkadang saya berpikir bahwa manusia memang diciptakan satu paket dengan akal dan nurani. Tetapi mereka pun memiliki kemampuan untuk menciptakan kehancuran di bumi karena memiliki akal tersebut dan membiarkan nafsu mendominasi kegiatannya. Kenyataan inilah yang pernah menjadi alasan dasar bagi Jeffrey Lang untuk menjadi seorang Atheis. “untuk apa Tuhan menurunkan manusia ke bumi jika yang terjadi hanyalah kehancuran dan malapetaka?”, begitu katanya. Gaya hidup yang destruktif pun adalah soal politik. Tahun 1992, Presiden AS George Bush berteriak lantang “Gaya hidup kami bukan untuk dinegosiasikan” dalam sidang pleno Earth Summit di Rio de Janiero adalah indikasi bahwa kegiatan manusia baik itu bisnis maupun perang selalu menciptakan kehancuran dan penderitaan. Memang betul, bencana tidak datang karena sebuah coincidence tetapi ia datang karena diberi kesempatan oleh manusia itu sendiri.

Pada tanggal 7 bulan 7 tahun 2007 tepat ketika acara “Live Earth” berlangsung ribuan mil jauhnya dari tempat saya tinggal, saya merenung dan bertanya, apakah manusia adalah virus?

h1

Another hectic weekend in Bandung and a book

July 9, 2007

Beberapa hari yang lalu saya menerima sebuah undangan via bulletin friendster dari teman saya. Setelah saya buka ternyata undangan tersebut berasal dari teman saya yang sudah lama sekali tidak bertemu. Hari sabtu kemarin, dia mengajak saya untuk datang ke Paris Van Java, Bandung untuk menghadiri talk show novel fiksinya yang baru saja launching beberapa bulan sebelumnya. Yah tentu sebagai teman baik saya memenuhi undangan tersebut walau harus melewati kemacetan parah kota Bandung di waktu weekend. Kalo diingat-ingat lagi, macetnya edan oge euy! Mengingat liburan sekolah sedang berlangsung jadi wajar saja orang-orang yang dari daerah menyempatkan diri untuk berbelanja atau sekedar bermain ke bandung. Saya ingat hari itu sedang panas-panasnya dan jalan sedang mengalami kemacetan luar biasa diperparah dengan ganasnya mobil-mobil berplat ’B’ yang dengan kejamnya tidak memberikan jalan sekalipun itu seekor cicak. Maklum berkendaraan di Jakarta, jarak satu mobil dengan mobil lainnya ketika sedang macet parah biasanya jauh di ambang batas tata krama kemacetan. Jangankan satu jengkal, satu milimeter pun dilabrak aja tanpa peduli pengendara lain ada di sebelahnya untuk meminta jalan. Bisa dibayangkan jika mobil itu dilengkapi dengan fasilitas sensor jarak, tidak henti-hentinya sensor itu berbunyi tanpa direspon oleh pengemudinya (”Aing teu diwaro kieu euy!” Ceunah). Parahnya mereka membawa kebiasaan itu ke kota Bandung yang jalannya tidak selebar jalan-jalan di kota Jakarta dan hebatnya mereka masih mengeluh kondisi jalanan kota Bandung yang selalu macet setiap kali mereka datang ke sini!Padahal biang kemacetan itu mereka sendiri!! SI GELO BUDUG! BARALIKLAH!! MINUH-MINUHAN BANDUNG WAE!!!

Loh koq keluar dari konteks yah? Sampai mana tadi? Ah ya! Akhirnya sampai juga ane di PVJ yang terkenal dengan tempat-tempat nongkrongnya yang cozy. Saya mempercepat langkah menuju toko buku Gramedia dimana acara talk show sedang berlangsung dan ketika sampai di sana, beruntung acara sedang berlangsung dengan bincang-bincang dengan sang pengarang novel tersebut. Sang pengarang men-spot saya yang dengan gaya absurd saya sedang bersandar di tiang pondasi bangunan PVJ (ngapain coba?) dan mengajak saya untuk berdiskusi mengenai keseluruhan cerita novel ini. Kebetulan saya sudah membacanya ketika pulang dari Australia.

joker.jpgNovel ini berjudul ”Joker; ada lelucon di setiap Duka” karangan Valiant Budi yang tidak lain dan tidak bukan adalah teman saya ketika di SMA Taruna Bakti, Bandung. Sebenarnya sih kaget juga doi bisa bikin novel secara dulu pas SMA nih anak kerjaannya cuman tidur melulu di kelas terutama pada saat pelajaran Fisika Mr. Saepultura sedang berlangsung.Hehehe…becanda Bud!

Sebagai seorang yang memiliki hobi membaca, novel ini ceritanya sederhana dan ringan. Cocok sekali bagi orang seperti saya yang sudah bosan dan mumet dengan bacaan-bacaan politik. Beberapa kejadiannya mungkin benar-benar terinspirasi dan dialami oleh si pengarang sendiri ketika masih menjadi penyiar di Hard Rock fm Bandung. Yang membuat menarik adalah ada beberapa plot yang dapat membuat pembaca mencabangkan arah jalan ceritanya. Seperti sebuah puzzle, membaca novel ini seperti menyusun puzzle demi puzzle tersebut dan pada akhirnya, seolah penulis dengan sengaja mengajak pembaca menemukan sendiri potongan puzzle yang terakhir yang menentukan ending cerita ini. Dimulai dari sebuah kecelakaan maut di tol Pasteur yang merenggut nyawa sepasang kekasih, kemunculan dua individu Brama dan Alia yang sedang interview di sebuah radio terkemuka di Bandung, kisah percintaan keduanya yang cenderung saling bertolak belakang, dan perjalanan hidup keduanya yang kocak sekaligus penuh warna. Memang sekilas bagi orang-orang yang berpikiran dangkal dan hanya men-judge buku ini dari segi judul, novel ini tampak memiliki jalan cerita yang standar. Terus terang saya pun pernah berpikir demikian. Namun setelah lembar demi lembar saya buka, tanpa sadar seolah-olah saya sedang meneliti tokoh ’Joker’ dalam sebuah kartu remi. Sebagai seorang mahasiswa yang suka bermain kartu di waktu senggang, kartu bergambar ’Joker’ ini biasanya tidak berperan banyak di kebanyakan permainan kartu. Terlepas dari arti ’Joker’ yang sesungguhnya dari pencipta kartu remi, ternyata tokoh ini tidak sepenuhnya melucu atau tertawa. Selalu ada sisi mengejutkan dan unpredictable darinya ketimbang perannya yang selalu disisihkan dari sebuah permainan kartu. Sihoreng teh, ternyata dia bukan ’Cacing Cau’ semata. Dan yang paling penting adalah ending ceritanya yang fantastis yang saya yakini bahkan orang sekritis apa pun belum tentu dapat menebak akhir cerita ini. Jadi memang mau tidak mau, untuk menemukan arti holistik dari keseluruhan cerita ini, pembaca harus membaca literally dari awal hingga akhir halaman buku ini. Tapi memang tidak etis untuk membicarakan cerita novel ini di forum bebas ini, ntar yang belum pada baca kecewa deh endingnya saya ceritain dan mencap saya sebagai spoiler. Hehehe…

Nah!bukannya saya promosi sih cuman kalo ada yang berminat membaca, ga usah terlalu banyak mikir, i reckon it’s a worth-reading novel koq.

h1

Perdana aka Franchise History of my ‘insignificant’ Blog

July 6, 2007

Halo Pemirsa yang budiman! Apa kabar nigh? Akhirnya setelah di-pending selama hampir dua tahun, saya bisa juga mendapat domain untuk tulisan dan curhatan saya di Blog umum. Sebenarnya sih saya teh udah dari dulu mau nulis di blog tapi yah namanya juga pemalas jadinya ide-ide yang dulu muncul sekarang udah lupa. Faktor lain penghambat blog saya adalah kebiasaan saya yang selalu membaca Blog orang lain yang jauh lebih berbobot dan kritis daripada ide-ide saya yang dulu. Jadinya minder oge euy rek nulis blog teh.

Setelah dua tahun itu juga saya mulai hobi untuk menemukan hal-hal baru di sekeliling saya termasuk mulai membaca buku, menonton film, teman-teman yang absurd lagi unik dan jalan-jalan dimana semuanya itu memberikan inspirasi kehidupan dan pencerahan terhadap kapasitas otak saya (yang tidak seberapa ini) untuk menuangkan ide dan pemikiran tersebut dalam sebuah tulisan. Blog merupakan media yang sangat tepat untuk memanifestasikan inspirasi tersebut. Dan sekaranglah saat yang tepat untuk memulainya. Regardless orang-orang bakal menjudge tulisan saya seperti apa, tapi menahan keinginan (desire) menuangkan sesuatu ide adalah sangat buruk bagi kesehatan anda seperti pula menahan rasa ingin kentut yang bersarang di perut anda. Tidak sehat bukan?

Secara substansial, blog ini akan terdiri dari berbagai kategori mulai dari topik-topik umum, book and movie review yang disertai interpretasi saya terhadap buku dan film ini ada pula kategori culinary sites isinya sejenis acara ‘Wisata Kuliner’-nya pak Bondan Winarno mengenai argumen saya terhadap makanan-makanan maupun minuman yang pernah dan mungkin akan saya coba seiring berjalannya waktu. Yah mungkin segitu dulu aja kali yah?

Bagi yang membaca Blog ini, saya ucapkan banyak terima kasih sudah meluangkan waktunya dan semoga tulisan-tulisan saya tidak berarti membuang-buang waktu hidup anda yang semakin lama semakin sedikit. Harap dimaklumi juga kalau salah satu kelebihan menulis di Blog adalah kebebasan berekspresi untuk menuangkan ide-ide yang tidak akan lepas dari sifat subjektif manusia meskipun saya akan berusaha untuk menulis sesuatu seobjektif mungkin. Saya juga masih belajar. Tetapi jika ada dari tulisan saya yang sekiranya kurang berkenan yah itu sih emang elu aja yang salah ngerti! Hehehe…

Sekian dan semoga bermanfaat 🙂