h1

Parit 9 Seafood

April 3, 2008

02042008436.jpgSudah banyak restoran seafood berseliweran di Kota Bandung namun bagi saya Parit 9 Seafood yang terletak di jl. Anggrek (Antara Jl. Riau dengan Jl. Supratman) adalah restoran seafood yang paling cocok di lidah saya. Saya katakan cocok bukannya lezat karena istilah lezat adalah istilah yang subjektif dan menjadi sangat bias. Mau tidak mau, yang namanya cita rasa adalah masalah selera yang berarti relatif.

Restoran ini dapat dibilang salah satu restoran seafood yang paling terkenal di Bandung. Menu spesial mereka adalah Kepiting termos. Ya sesuai namanya kepiting yang sudah dimasak kemudian dimasukkan ke dalam termos untuk menahan panas dan rasanya agar tidak hilang.

Biasanya menu ini dipesan bagi orang-orang di luar kota yang ingin take-away masakan kepiting. Bahkan mereka menyediakan fasilitas delivery service ke Jabodetabek. Bumbu pilihannya pun bervariasi: Saus Singapore, Saus Padang dan Saus Tiram. Namun tampaknya yang paling banyak dipesan adalah Kepiting Saus Singapore dan Saus Padang.

Meskipun mereka menyediakan beraneka ragam makanan laut, biasanya jika saya ke restoran ini, yang selalu saya pesan adalah menu-menu andalannya seperti Udang goreng mentega, Kerapu steam hongkong, Ikan Bawal Bakar Kecap, kerang rebus, Cumi goreng tepung dan tentu Kepiting Saus Padang yang menjadi menu favorit saya.

02042008434.jpg

Yang membuat saya menyukai Kepiting Saus Padangnya adalah bumbunya yang luar biasa pedas dan menurut saya justru inilah saus padang yang sebenarnya. Berbeda dengan kebanyakan restoran seafood lainnya dimana saus padangnya justru terasa seperti saus jawa alias manis, Kepiting saus padang di Parit benar-benar Pedas, Kental dan sangat gurih di lidah. Mungkin karena memang saya menyukai makanan pedas juga jadi saus di sini benar-benar cocok dengan lidah saya.

Untuk menu-menu makanan laut lainnya pun harganya bervariasi dari Rp.20.000 hingga yang termahal Rp. 300.000 dan menurut saya ini merupakan harga yang reasonable bagi kota Bandung yang secara geografis jauh dari pesisir pantai.

Meskipun harus diakui freshness makanan laut mereka tidak sesegar jika kita makan di restoran seafood di Pangandaran atau di Jimbaran, Bali. Tetapi tampaknya racikan bumbu-bumbu rahasia mereka tampaknya dapat menutupi kekurangan itu.

Perlu dicatat bahwa restoran ini sangat dipenuhi pengunjung terutama pada hari-hari libur dan long weekend. Stock kepiting mereka pun biasanya habis terjual pada hari-hari tersebut meskipun mereka menyediakan stock yang cukup banyak setiap harinya.

Yup! Parit 9 Seafood memiliki motto “Pesta Makan Kepiting” dan sudah barang tentu yang menjadi menu andalannya adalah Kepiting yang dimasak dengan variasi bumbu-bumbunya yang lezat dan patut anda coba.

h1

Fenomena ‘Fitna’ dan Kebebasan Berekspresi

April 2, 2008

geert-wilders.jpgBaru-baru ini seorang anggota parlemen Kerajaan Belanda bernama Geert Wilders merilis film pendek paling kontroversial berjudul Fitna. Film yang dapat dikategorikan sebagai film terburuk tahun 2008 (itu juga kalau masih mau disebut film) menggambarkan Islam sebagai Agama yang hanya menekankan pada unsur kekerasan dan kebencian terhadap non-muslim.

Efek dominonya pun luar biasa: protes keras dan kecaman dari negara-negara yang mayoritas penduduknya kaum muslim di seluruh dunia menuntut dihentikannya peredaran film tersebut dari internet dan meminta sang sutradara dihukum.

Meskipun tidak sedikit yang melakukannya dengan berlebihan tetapi saya pikir ini adalah sebuah respons yang wajar karena isu yang diangkat adalah isu agama yang sangat sensitif juga bagi orang Barat. Sama seperti jika seseorang mempropagandakan kebencian terhadap satu ras atau etnis tertentu.

Iseng-iseng saya menontonnya lewat media YouTube. Film ini hanya berdurasi 10 menit. Tidak ada yang istimewa dari film ini. Penggarapannya pun terlihat sangat tidak profesional. Hanya mencomot beberapa bagian ayat-ayat dari Al-Quran secara seenak udel untuk mendukung argumentasinya bahwa Islam adalah agama terorisme dan mendukung kekerasan tanpa mempelajari keseluruhan isi Al-Quran secara holistik.

Ibarat membaca buku, alih-alih membaca keseluruhan buku cover to cover, yang dilakukan Wilders hanyalah membaca beberapa paragraf dari buku tersebut dan dengan terang-terangan memahami isi keseluruhan buku tersebut berikut ceritanya secara detail. Oalaaa….orang ini luar biasa naif atau luar biasa kurang ajar?

Sudahlah Bos! Tidaklah penting bagi siapa pun untuk menanggapi film ini secara berlebihan apalagi sampai membakar bendera Kerajaan Belanda karena kalaupun mau ditanggapi maka akan sangat sangat mudah bagi siapa pun untuk meng-counter attack argumentasi yang terdapat dalam film itu.

Tetapi yang menarik dari beredarnya film Fitna ini adalah bukanlah omong kosong mengenai benturan peradaban antara Islam melawan Barat seperti yang pernah dicetuskan oleh Samuel P. Huntington tetapi lebih kepada fenomena kebebasan berekspresi absolut yang akhir-akhir ini cenderung kebablasan tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain.

Tidak hanya di Indonesia tetapi juga dalam ukuran global. Celakanya fenomena ini dipertontonkan secara tidak bertanggung jawab dan terkadang demi sebuah idealisme sempit dan keuntungan finansial para pencetusnya. Media yang paling mudah digunakan tentu saja Internet.

Apakah itu sebenar-benarnya esensi dari sebuah kebebasan?

Seorang teman (yang dulunya adalah aktivis demokrasi) pernah mengirimkan sebuah quote yang dikutip dari filsuf Jerman, Sigmund Frued, yang intinya mengatakan bahwa kebanyakan orang takut akan kebebasan karena kebebasan menuntut pertanggungjawaban yang besar. Aha! Sounds like Spiderman’s famous quote isn’t it? “Great power comes great responsibility!”.

Betul! Saya setuju akan kutipan tersebut. Tetapi saya kemudian membalasnya juga dengan memberikan quote “Well, Freedom is not a license to chaos”. Sayangnya tidak semua filsafat dan teori sesuai dengan realita. Yup! Seperti fenomena ‘Fitna’ tersebut.

Tidak hanya ‘Fitna’ yang menyalahgunakan etika kebebasan berekspresi. Contoh lainnya mungkin dapat kita lihat pada aktivitas Ustadz Abu Bakar Baasyir yang dengan tenang menanamkan benih-benih kebencian terhadap umat non-muslim kepada anak-anak didiknya melalui khotbah-khotbahnya yang provokatif. Atau aksi anarkhis FPI yang dengan percaya diri merasa memiliki “sifat ketuhanan” untuk menghakimi orang yang berseberangan dengannya.

Konstruksi sosial macam apa ini? Apakah karena Manusia merupakan makhluk yang bebas memilih sehingga dapat dengan seenaknya melanggar norma dan aturan yang merupakan konsensus kolektif? Ataukah justru ketiadaan sebuah “institusi” yang powerful yang memiliki otoritas untuk mengatur? Ataukah memang Manusia adalah makhluk yang mudah ngelunjak?

Mungkin justru karena akhir-akhir ini banyak orang yang hanya menuntut hak atas kebebasan mutlak tetapi melupakan kewajiban mereka sebagai manusia atau warga negara. Hence, munculah individu-individu yang dengan seenaknya berbicara bukan dalam konteks dan koridor yang tepat (baca: pantas). Manusia memang makhluk yang unik, Yes?

Apa pun alasannya apakah itu demi sebuah kebebasan berekspresi, demokrasi, Hak Asasi Manusia, Agama, Rakyat bahkan demi Toutatis sekalipun (last one was quoted from Asterix and Obelix’s comic) seseorang tetap tidak memiliki hak untuk menghakimi orang lain benar atau salah. Kecuali tentu saja jika konteksnya sudah berbeda seperti profesi Hakim Agung, Hakim Mahkamah Konstitusi atau Hakim Garis misalnya.

Yah namanya juga manusia. Pasti selalu diperbudak oleh subjektivitas pribadi yang berlebihan.

h1

Quo Vadis Hak Interpelasi DPR?

March 20, 2008

Saya baru ingat, saya pernah mengirimkan tulisan saya ke Koran sekitar setahun yang lalu mengenai Hak Interpelasi DPR terhadap kebijakan Pemerintah mendukung resolusi 1747 DK PBB mengenai sanksi kepada Iran. Kaga tau juga sih dimuat ato tidak karena saya memang tidak terlalu memperhatikan apresiasinya. Oh well, daripada disimpan sendiri, mending saya post aja di blog ini. InsyaAllah bermanfaat… Enjoy!

Quo Vadis Hak Interpelasi DPR?

Sidang paripurna DPR yg rencananya akan mempertanyakan sikap pemerintah RI yg mendukung resolusi 1747 Dewan Keamanan (DK) PBB mengenai sanksi kepada Iran selain berlangsung ricuh juga berakhir dengan ditundanya sidang tersebut. Dalam proses yang berlangsung selama dua jam tersebut, sebagian besar anggota DPR merasa penting untuk menghadirkan Presiden sebagai “terdakwa” dalam sidang tersebut sementara sebagian anggota DPR lainnya tetap berpegang pada pasal 174 Tata tertib DPR yang tak mengharuskan Presiden untuk datang langsung dan dapat diwakilkan oleh jajaran kabinetnya. Langkah Presiden SBY yg tidak tanggung-tanggung untuk mengutus dua orang menteri koordinator, lima menteri dan satu pejabat setingkat menteri ternyata tidak memuaskan mayoritas anggota DPR. Sifat kekanak-kanakan para anggota DPR akhirnya dipertontonkan melalui hujan interupsi, kericuhan dan lobi-lobi yang tidak sah yang mempermasalahkan interpretasi tata tertib DPR yang bersifat teknis belaka. Sementara isu substansial mengenai resolusi 1747 DK PBB dikesampingkan begitu saja. Akhirnya pimpinan sidang memutuskan untuk menunda rapat ini untuk diselesaikan secara internal di DPR.

Hak interpelasi DPR yang kemudian ditanggapi oleh pemerintah selama ini sebenarnya jarang memperlihatkan kericuhan yang luar biasa jika dilihat di masa sebelum pemilu 2004. Dalam sejarahnya, hak interpelasi DPR yg dihadiri sendiri oleh mantan Presiden Abdurrahman Wahid mengenai kasus pencopotan Laksamana Sukardi dan Jusuf Kalla sebagai Menteri, meskipun cenderung mengarah kepada hal-hal yg bersifat subjektif yg berada jauh di luar tujuan hak interpelasi itu sendiri, tetapi secara keseluruhan sidang tersebut berjalan dengan lancar. Kemudian pada era Megawati Soekarnoputri, hak yang sama pun pernah diajukan oleh DPR untuk mempertanyakan masalah lepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan yg kemudian diwakilkan oleh Menkopolhukam dan tidak pernah berlangsung dengan ricuh apalagi terlibat baku hantam seperti yang pernah diperagakan oleh anggota-anggota DPR ketika Presiden SBY memutuskan untuk menaikkan harga BBM. Tontonan yg cukup menghibur ini jelas sarat dengan kepentingan politik kelompok sebagian anggota DPR yg selalu berlebihan dalam mengkritisi keputusan pemerintah khususnya setelah pemilu 2004 yang lalu. Betulkah reaksi keras ini didasari oleh inisiatif moral anggota-anggota DPR yang melihat Iran (yang notabene adalah negara muslim) sebagai negara yang diperlakukan tidak adil oleh Amerika Serikat (AS)? Ataukah hanya sebagai political bargaining menuju pemilu 2009 belaka? Terlalu dini memang jika masalah ini kemudian diangkat menuju tahap yg lebih tinggi seperti penggunaan hak angket DPR apalagi rencana impeachment terhadap Presiden SBY walau penulis melihat ada tendensi yang gigih menuju arah tersebut. Namun yang menjadi inti permasalahan sebenarnya bukanlah bagaimana sebagian anggota DPR berusaha keras “menjegal” pemerintahan SBY-JK untuk bisa berlaga di pemilu 2009 tetapi seberapa pentingkah keputusan Indonesia mendukung resolusi 1747 DK PBB mengenai sanksi kepada Iran? Apakah dukungan tersebut merupakan keputusan yang tepat bagi Indonesia secara objektif untuk mendukung perdamaian dunia yang abadi? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang seharusnya dijadikan landasan berpikir bagi anggota-anggota DPR yang mengajukan hak interpelasi terhadap pemerintah bukannya hanya memerhatikan kepentingan politik semata.

Iran vs Barat

Sebenarnya, isu nuklir Iran dan kebijakan permusuhannya terhadap barat telah muncul sejak lama. Menurut studi yang dilakukan oleh Gasiorowski (1991), AS dan Iran pernah mengalami bulan madu bersama ketika angkatan bersenjata kedua negara tersebut terlibat dalam gerakan coup d’etat untuk menggulingkan Perdana Menteri Mosaddeq pada tahun 1953. Sebagai bagian dari Containment Policy AS di era Perang Dingin, tujuan AS ketika itu adalah untuk menjaga stabilitas politik dan keamanan di Iran dan mencegah komunisme Uni Soviet berkembang di kawasan Timur Tengah. Ketika era Presiden Harry Truman berkuasa, AS menyediakan Military Assistance Advisory Group (MAAG) kepada Iran yang merupakan bantuan militer sebesar US$17,4 juta. Presiden selanjutnya, Eisenhower, memberikan bantuan sebesar US$27,8 juta dalam format yang sama. Namun, penemuan oleh Kongres AS mengenai bukti-bukti penyelewengan bantuan AS tersebut kepada Iran membuat Presiden Kennedy mengurangi jatah bantuan terhadap Iran dan menuntut reformasi militer Iran di bidang pelatihan dan civic action. Pada tahun 1960an, Iran mulai berkembang di bidang persenjataan dengan membeli peralatan-peralatan canggih buatan AS seperti pesawat tempur F-4 dan tank M-47. Hubungan diplomatik ini mencapai puncaknya ketika era kepresidenan Nixon membuat persetujuan dengan Shah Iran untuk pembelian persenjataan konvensional buatan AS seperti pesawat jet F-14, AWACS aircraft, rudal Phoenix dan Mavericks dan peralatan sistem pengawasan elektronik untuk kepentingan pertahanan nasional Iran. Ketika semuanya berjalan lancar, pada tahun 1979 Iran mengalami revolusi Islam yang menentang pemerintahan Shah yang sekuler. Kemunculan tokoh Syiah Ayatollah Ruhollah Khomeini sebagai tokoh utama yang berhasil menggulingkan pemerintahan Iran yang sekuler mengakibatkan hubungan diplomasi dan militer AS-Iran mencapai titik yang paling rendah. Selain kampanye anti-barat dan anti-Israel yang digulirkan oleh tokoh Syiah ini, Ayatollah berhasil mengkonsolidasi kekuatannya pasca revolusi dan berhasil mengambil alih industri persenjataan Weapon of Mass Destruction (WMD) yang selama ini telah dijalin oleh kedua negara semasa bulan madu tersebut. Hal inilah yang menjadi kekhawatiran AS akan ketidakpastian stabilitas politik dan keamanan di kawasan Timur Tengah yang dimana AS dan tentu saja negara-negara Arab lainnya sangat berkepentingan untuk menjaga status-quo di wilayah ini. Perang Iran-Irak tahun 1980-1988 yang menjadi indikator ketidakharmonisan Iran dengan negara tetangganya, juga nyaris meluluhlantakan stabilitas regional kawasan ini yang dapat berakibat fatal terhadap perdamaian dunia.

Motivasi Iran untuk terus mengembangkan kapabilitas pertahanan dan persenjataannya pun sebenarnya dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal. Eisentadt (1999) menyatakan bahwa indikasi Iran berusaha untuk memperoleh teknologi pembelahan nuklir, reaktor penelitian, power plants dan mesin pengayaan uranium adalah hal yang jelas. Sejak tahun 1980an, Iran secara aktif berusaha untuk mengembangkan persenjataan nuklir di bawah kamuflase program nuklir untuk sipil dengan tujuan untuk menandingi kemampuan nuklir Israel dan AS. Iran pun secara tegas berusaha untuk meraih kemampuan militer yang mandiri, determinasi untuk mentranformasikan Iran menjadi kekuatan regional baru di kawasan Timur Tengah dan kebutuhan untuk memperkuat deterrent capability melawan ancaman-ancaman agresi militer AS dan Israel.

Faktor signifikan lainnya dalam isu Iran ini adalah tragedi 11 September 2001 dan naiknya pemimpin garis keras Iran, Mahmoud Ahmadinejad. Tragedi 9/11 jelas memperuncing hubungan Iran dengan Barat dengan kampanye anti-terorisme-nya Bush Junior yang cenderung diarahkan ke negara-negara Muslim. Ditambah lagi vonis Presiden Bush yang mencap Iran sebagai salah satu aktor ‘axis of evil’ bersama-sama Irak dan Korea Utara. Distimulasi oleh penyerangan AS terhadap Irak pada Maret 2003, figur Ahmadinejad sebagai Presiden garis keras Iran yang baru dan penolakan Iran untuk bekerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) semakin memperjelas sikap permusuhan Iran terhadap AS dan sekutu-sekutunya.

Iran menyatakan bahwa program nuklirnya hanya ditujukan semata-mata untuk kepentingan sipil dan tidak dalam kapasitasnya untuk mengembangkan senjata pemusnah massal. Sementara itu, kecurigaan AS terhadap program WMD Iran sebenarnya pun cukup beralasan. Selain penolakan Iran untuk dilakukan inspeksi oleh IAEA, beberapa laporan intelijen AS menunjukkan bahwa program WMD Iran merupakan bentuk ancaman nyata terhadap kepentingan AS dan sekutunya di kawasan Timur Tengah. Sebagai contoh, pada bulan Agustus 2002, intelijen AS menemukan instalasi Natanz yang dapat mengembangkan proses pengayaan uranium kompleks yang dapat dimodifikasikan menjadi senjata. Lebih jauh lagi, Teheran telah berhasil mengembangkan rute plutonium menjadi kapabilitas nuklir. Fasilitas air keras di Esfahan dan pembangunan pabrik di Arak secara jelas mengindikasikan kemampuan Iran dalam pengayaan plutonium telah berkembang pesat. Dalam hal ini, Rusia menjadi penyumbang teknologi dan bahan baku terbesar dalam program nuklir Iran tersebut (Tayekh, 2005).

Keamanan Kolektif

Persepsi keamanan dan ancaman sebenarnya adalah persepsi yang subjektif seperti yang diperlihatkan AS dan negara-negara kawasan Timur Tengah terhadap ancaman program nuklir Iran. Dalam konsep Neorealisme, persepsi ini bisa dijelaskan melalui konsep Balance of Power (dimana negara kecil berusaha untuk mengejar kemampuan negara-negara besar dengan cara mempersiapkan pertahanan dan menolak kerja sama) sebagai konsekuensi logis yang terjadi akibat sistem internasional yang anarkhi (kondisi dimana tidak ada kuasa di atas kuasa negara). Hal inilah yang membuat Iran dalam pengembangan program nuklirnya menjadi tidak terkontrol karena mereka sejak awal menolak campur tangan pihak asing. Memang betul bahwa usaha untuk mengembangkan kemampuan pertahanan dan keamanan nasional adalah hak setiap negara namun hal itu harus dibarengi juga dengan transparansi dan peningkatan kerja sama dengan IAEA atau lembaga pemonitoran internasional lainnya agar tidak menimbulkan spekulasi yang berlebihan dari negara lain. Namun jika melihat faktor-faktor kontraproduktif di atas, maka keputusan Indonesia untuk mendukung resolusi 1747 DK PBB yang memberi sanksi kepada Iran adalah hal yang wajar dan menurut saya justru merupakan langkah yang positif untuk mempertahankan stabilitas keamanan di kawasan Timur Tengah. Hal ini dapat dibuktikan pula dengan dukungan hampir semua negara di kawasan Timur Tengah terhadap resolusi tersebut. Dalam kesadaran kolektifnya, resolusi tersebut sebenarnya bukanlah ditujukan untuk menghukum Iran melainkan untuk mempertahankan akibat yang lebih buruk jikalau Iran nekat untuk menembakkan salah satu hulu ledak nuklirnya ke negara tetangga. Negara-negara di Timur Tengah telah khawatir dengan sikap politik luar negeri Iran yang konfrotatif dan hostile. Iran telah terbukti secara jelas akan keterlibatannya dalam mendukung gerakan-gerakan ekstremis dan radikal di Timur Tengah dan Afrika. Ketidakberadaan jaminan yang jelas mengenai apa yang dilakukan Iran dalam program nuklirnya pun menjadi hal penting untuk dipertimbangkan dalam dukungannya terhadap resolusi tersebut. Jika hal ini dibiarkan terus, bukan tidak mungkin mimpi buruk akan kelompok-kelompok radikal tersebut yang memiliki akses menuju persenjataan nuklir menjadi kenyataan yang sangat menakutkan. Dampak langsungnya adalah efek domino di seluruh kawasan Timur Tengah dan perang panjang yang tak akan terelakkan. Bayangkan harus berapa banyak lagi generasi yang hilang setelah perang-perang besar yang terjadi sebelumnya?. Dengan demikian, perdamaian dunia yang hakiki yang telah dicanangkan dalam piagam PBB pun akan hanya menjadi retorika belaka. Nah, jika hal itu sampai terjadi, apakah anggota-anggota DPR yang mendukung hak interpelasi terhadap sikap pemerintah di DK PBB akan bersedia bertanggung jawab?.

h1

My Super Ex-girlfriend

March 1, 2008

No! This is not a movie review. This is a story about my long lost ex-girlfriend.

Have you ever wondered when the last time you met your ex-girlfriend was? I didn’t mean the newly ex-girlfriend who just broke up with you but the first ex-girlfriend that might be your first love. The one who has never contacted you ever since because you’re too busy with your current life and never turn your back to the past.

Well this hilarious story happened to me last night when I turned on the TV to watch the ‘Empat Mata’ show. Frankly, I don’t actually get into this kind of show but after a long day working on my project I guess there’s no harm watching this trivial show anyway. So there I was, sitting in front of TV watching this too cool are wanna (read:Thukul Arwana) guy as a host and the subject was rather interesting: the Indonesian Air Force.

As usual, the show ran pretty well. There were guests stars, the audience and the old-country-style joke from the host and of course, the mocking-which you can always see it repeatedly in almost every 5 minutes in this show. Anyway, since the topic was the Indonesian Air Force and its role in maintaining the aerial security, the host then introduced the special guest stars that came from the National Air Force crew: a male and a female and both are Jet Fighter Pilot. I guess he mentioned the type of the Jet that these Pilot fly, the F-16 made of US, which is considered as a high prestige for Indonesian people to fly this hot stuff aircraft.

The show went on with an interview to this pilot. I forgot the male pilot’s name but the female’s name is Anna or the-so-called Mbak Anna, which a common name for a woman. I didn’t notice in the first place until the host interviewed her. So here was my self-talking reaction when the camera started focusing on her:

“Wow! Is she a He? She looks very manly wearing that orange-jumper-uniform. How does she take a leak? Standing? Hehehe…Doesn’t look like a woman to me hey!” (Still unnoticed)

10 minutes later…

“Hmm…she looks familiar. Where did I see her face?” (Brain started to work but unfortunately, a bit too late)

20 minutes later…

“Wait! Wait! Wait!” (Downloading the face memory database less faster than a speed of snail)

45 minutes later…

“Oh My God! Is that HER? Is that MY EX-GIRLFRIENDDDD??????” (Biak! We have a problem!)

All of sudden, all the memories I had during my time with her came a crossed in my mind. It was like what? 7? 10 years ago dude! Not much happened at that time. We met each other in a basketball club and we had a relationship during my first year in university. It was only lasted for like 4 months anyway plus approximately 2 years in approach (is that a correct sentence?). In essence, she was my first love and the first female who unluckily had to hear an idiotic “I love you” words from me.

But look at her now!

Yeah I heard a lot rumors that she was a lesbian or a tomboy girl without any normal girl attitude at all. But that what makes her the way she is until now: a tough girl and yet attractive. Back then, I don’t know how many guys had been trying to go out with her but apparently she was a picky one when it comes to a love thing. Well I was lucky enough she chose me instead of everyone else, regardless the fact that the relationship was a bit flat for both of us. We had a little argument and decided to break up. I never heard of her anymore since then. I must admit, however, I still have a feeling toward her until now.

I didn’t recall she had a hobby in this Air Force thing. She was just an ordinary high school girl at that point. But people change, she changes. I was surprised by her new appearance in that show. I thought it was someone else. I didn’t expect that she would become a Jet Fighter Pilot. I felt both proud yet awkward seeing her in another ‘dimension’. But I guess she has found her own path in life. Apparently she’s very passionate for what she’s doing right now. My final expression that night was “Wow! I guess she’s more mannish than me now. Hehehe…”

Now this is something that you’re not gonna see everyday. Who would’ve thought that your ex has an unorthodox profession? But watching her in that TV show, sitting there explaining her job as an ‘agent’ in maintaining national sovereignty makes me hoping that there will be a time for me to do the same thing but of course not in the military area. Establishing career in Department of Foreign Affairs perhaps? Seems too good to be true eh? Well I’m just hoping she’s fine up there.

In the end, I’m not about to explain the feminism notion related with her job but I admire her for what she choose to be. I guess the Cinderella story does not always work in real life.

She IS my super ex-girlfriend!

h1

Mereka Bilang Aku Kafir

February 19, 2008

muhammad-idris.jpgAda buku menarik yang baru saja saya baca habis semalam suntuk. Judulnya “Mereka Bilang Aku Kafir” terbitan Hikmah Novel. Diilhami dari kisah nyata, novel ini bercerita mengenai pengalaman pahit seorang lelaki bernama Muhammad Idris selama menjadi anggota RII (Republik Islam Indonesia) KR9 hingga ia keluar dari aliran sesat yang dulunya Ia percayai sebagai satu-satunya tiket menuju surga. Sebuah pertentangan batin dalam fase kehidupannya yang Ia rekam dan deskripsikan dalam bentuk novel.

Ditutur melalui gaya bahasa yang sederhana dan mudah dicerna, fanatisme buta kepada organisasi ini ia mulai sekitar tahun 1999. Diawali dari pengajian biasa, berlanjut kepada diskusi agama hingga hanyut dalam ajaran sesat aliran RII. Sampai akhirnya, Idris mengabdi total demi kepentingan mereka. Sebuah komitmen yang Ia bersedia jalani demi terciptanya sebuah Negara yang berdasarkan Syariat Islam yang kaku di Indonesia dan demi sebuah tujuan akhir yaitu Surga.

Metode perekrutan yang seperti Multi Level Marketing (MLM) pun ia kerjakan demi mengejar target pemasaran. Tanpa komisi tentunya. Kewajiban memberikan upeti kepada organisasi dalam bentuk hibah, infak atau zakat kepada para pejabat RII pernah ia lakoni. Pengkafiran orang-orang di luar komunitasnya pernah ia percayai. Penyampaian dakwah yang bersifat rahasia bahkan dapat dikategorikan sebagai gerakan bawah tanah membuat organisasi ini sulit ditelusuri oleh aparat berwenang. Hingga ia menceritakan pengalamannya menjadi salah satu ustaz atau pengajar di pondok pesantren (ponpes) khusus bagi penganut aliran ini yaitu Ma’had Al-Jannah yang terletak tidak jauh dari perbatasan Jakarta-Sadang.

Pengalamannya menjadi ustaz di ponpes ini justru menjadi proses turning point dalam hidupnya untuk kembali ke jalan yang benar. Apa yang ia saksikan di pondok pesantren ini luar biasa menyakitkan hati. Secara fisik, kondisi ponpes Al-Jannah memang megah dan fasilitas di sana lebih mewah dari kebanyakan ponpes (bahkan sekolah swasta) di Indonesia. Dibangun dari dana-dana upeti (atau pemerasan), ponpes ini memiliki luar areal sekitar 2000 hektare dan memiliki jumlah santri sekitar 3000 orang dengan biaya masuk US$5000 (wowww! Bayangkan anda bisa beli berapa gorengan dengan uang segitu!!).

Namun keindahan fisiknya ternyata sangat kontras dengan kondisi internal di ponpes tersebut. Kemunafikan dan totalitarianisme yang dilakukan oleh para petinggi RII, pelanggaran akidah, instant slavery, eksklusivisme hingga feodalisme bergaya Arab adalah makanan sehari-hari yang ia dapat selama di ponpes Al-Jannah. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari ponpes tersebut secara diam-diam bersama istri dan anaknya dan memulai hidup baru di Jakarta. Ia sadar bahwa yang ia dapatkan selama bergabung dengan RII ini adalah sebuah hidayah palsu mengenai janji Highway to Heaven. Waktu 3 tahun terbuang sia-sia sebagai buah kenaifan dia selama ini.

Novel ini dapat dikatakan sebagai novel investigatif mengenai fenomena aliran sesat dan ekstrimisme yang saat itu masih kurang diwaspadai oleh masyarakat Indonesia. Meskipun alur waktu yang dikembangkan dalam novel ini cukup membingungkan, namun secara kontekstual novel ini berhasil memperingatkan kita mengenai bahaya gerakan Islam bawah tanah yang mengeksploitasi agama demi kepentingan segelintir orang. Juga mencari hikmah di balik pengalaman pahit Idris dan teman-temannya sesama korban aliran sesat. Ternyata cita-cita Islam yang universal tidak selamanya harus dipandang dari satu sisi tertentu saja. Islam sejatinya bukan monopoli siapa-siapa.

Terus terang, saya salut kepada sang penulis. Merilis novel ini merupakan tindakan yang berbahaya bagi penulisnya. Saya yakin, Muhammad Idris bukanlah satu-satunya korban aktivitas aliran sesat ini. Cerita mengenai teror yang ditargetkan kepada para eks anggota aliran ini sering terdengar. Belum lagi rumor bahwa aliran-aliran sejenis ini dibekingi dan dilindungi oleh pejabat negara (konon, mantan RI 2 adalah salah satunya). Namun Idris ternyata memiliki nyali yang besar untuk menceritakan pengalaman pahitnya ke publik dan berani membongkar kebusukan dan kemunafikan aliran sesat. Orang-orang seperti Idris inilah yang menurut saya pejuang Islam yang sesungguhnya.

Hal ini juga semakin mempertegas kenyataan bahwa idealisme mulia apa pun suatu institusi baik itu di organisasi agama, lembaga non-profit atau charity sekalipun, in the end, business is business.

Buku ini direkomendasikan bagi mereka yang ingin mengetahui kehidupan penganut aliran sesat agar tidak ada lagi yang terperosok ke lubang yang sama hanya karena tidak ingin divonis kafir.