Baru-baru ini seorang anggota parlemen Kerajaan Belanda bernama Geert Wilders merilis film pendek paling kontroversial berjudul Fitna. Film yang dapat dikategorikan sebagai film terburuk tahun 2008 (itu juga kalau masih mau disebut film) menggambarkan Islam sebagai Agama yang hanya menekankan pada unsur kekerasan dan kebencian terhadap non-muslim.
Efek dominonya pun luar biasa: protes keras dan kecaman dari negara-negara yang mayoritas penduduknya kaum muslim di seluruh dunia menuntut dihentikannya peredaran film tersebut dari internet dan meminta sang sutradara dihukum.
Meskipun tidak sedikit yang melakukannya dengan berlebihan tetapi saya pikir ini adalah sebuah respons yang wajar karena isu yang diangkat adalah isu agama yang sangat sensitif juga bagi orang Barat. Sama seperti jika seseorang mempropagandakan kebencian terhadap satu ras atau etnis tertentu.
Iseng-iseng saya menontonnya lewat media YouTube. Film ini hanya berdurasi 10 menit. Tidak ada yang istimewa dari film ini. Penggarapannya pun terlihat sangat tidak profesional. Hanya mencomot beberapa bagian ayat-ayat dari Al-Quran secara seenak udel untuk mendukung argumentasinya bahwa Islam adalah agama terorisme dan mendukung kekerasan tanpa mempelajari keseluruhan isi Al-Quran secara holistik.
Ibarat membaca buku, alih-alih membaca keseluruhan buku cover to cover, yang dilakukan Wilders hanyalah membaca beberapa paragraf dari buku tersebut dan dengan terang-terangan memahami isi keseluruhan buku tersebut berikut ceritanya secara detail. Oalaaa….orang ini luar biasa naif atau luar biasa kurang ajar?
Sudahlah Bos! Tidaklah penting bagi siapa pun untuk menanggapi film ini secara berlebihan apalagi sampai membakar bendera Kerajaan Belanda karena kalaupun mau ditanggapi maka akan sangat sangat mudah bagi siapa pun untuk meng-counter attack argumentasi yang terdapat dalam film itu.
Tetapi yang menarik dari beredarnya film Fitna ini adalah bukanlah omong kosong mengenai benturan peradaban antara Islam melawan Barat seperti yang pernah dicetuskan oleh Samuel P. Huntington tetapi lebih kepada fenomena kebebasan berekspresi absolut yang akhir-akhir ini cenderung kebablasan tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain.
Tidak hanya di Indonesia tetapi juga dalam ukuran global. Celakanya fenomena ini dipertontonkan secara tidak bertanggung jawab dan terkadang demi sebuah idealisme sempit dan keuntungan finansial para pencetusnya. Media yang paling mudah digunakan tentu saja Internet.
Apakah itu sebenar-benarnya esensi dari sebuah kebebasan?
Seorang teman (yang dulunya adalah aktivis demokrasi) pernah mengirimkan sebuah quote yang dikutip dari filsuf Jerman, Sigmund Frued, yang intinya mengatakan bahwa kebanyakan orang takut akan kebebasan karena kebebasan menuntut pertanggungjawaban yang besar. Aha! Sounds like Spiderman’s famous quote isn’t it? “Great power comes great responsibility!”.
Betul! Saya setuju akan kutipan tersebut. Tetapi saya kemudian membalasnya juga dengan memberikan quote “Well, Freedom is not a license to chaos”. Sayangnya tidak semua filsafat dan teori sesuai dengan realita. Yup! Seperti fenomena ‘Fitna’ tersebut.
Tidak hanya ‘Fitna’ yang menyalahgunakan etika kebebasan berekspresi. Contoh lainnya mungkin dapat kita lihat pada aktivitas Ustadz Abu Bakar Baasyir yang dengan tenang menanamkan benih-benih kebencian terhadap umat non-muslim kepada anak-anak didiknya melalui khotbah-khotbahnya yang provokatif. Atau aksi anarkhis FPI yang dengan percaya diri merasa memiliki “sifat ketuhanan” untuk menghakimi orang yang berseberangan dengannya.
Konstruksi sosial macam apa ini? Apakah karena Manusia merupakan makhluk yang bebas memilih sehingga dapat dengan seenaknya melanggar norma dan aturan yang merupakan konsensus kolektif? Ataukah justru ketiadaan sebuah “institusi” yang powerful yang memiliki otoritas untuk mengatur? Ataukah memang Manusia adalah makhluk yang mudah ngelunjak?
Mungkin justru karena akhir-akhir ini banyak orang yang hanya menuntut hak atas kebebasan mutlak tetapi melupakan kewajiban mereka sebagai manusia atau warga negara. Hence, munculah individu-individu yang dengan seenaknya berbicara bukan dalam konteks dan koridor yang tepat (baca: pantas). Manusia memang makhluk yang unik, Yes?
Apa pun alasannya apakah itu demi sebuah kebebasan berekspresi, demokrasi, Hak Asasi Manusia, Agama, Rakyat bahkan demi Toutatis sekalipun (last one was quoted from Asterix and Obelix’s comic) seseorang tetap tidak memiliki hak untuk menghakimi orang lain benar atau salah. Kecuali tentu saja jika konteksnya sudah berbeda seperti profesi Hakim Agung, Hakim Mahkamah Konstitusi atau Hakim Garis misalnya.
Yah namanya juga manusia. Pasti selalu diperbudak oleh subjektivitas pribadi yang berlebihan.























